Mencatat Zaman, Oleh: La Ode Diada Nebansi – Kendari Pos
Kolom

Mencatat Zaman, Oleh: La Ode Diada Nebansi

La Ode Diada Nebansi


KENDARIPOS.CO.ID — Ini adalah suatu zaman, dimana seluruh manusia di bumi diseru untuk berdiam dalam rumah. Hikmah apa yang bisa diambil dari situasi ini? Banyak hikmah, tergantung keadaan dan keperluan. Hanya, ada fenomena yang muncul, seolah-olah situasi ini tercipta karena keteledoran dan oleh karenanya untuk bisa keluar dari situasi ini, maka semua manusia diinstruksikan untuk tak boleh lalai.

Seolah-olah, situasi saat ini, andai semua manusia tak lalai, maka tak akan ada situasi seperti sekarang ini. Seolah-olah semua disandarkan pada upaya fisik, tindak dan laku manusia agar situasi ini mereda. Jadilah kemudian sejumlah upaya. Ada yang berupaya berpakaian ala astronot sambil memanggul jergen lengkap dengan selang penyemprot. Ada yang tampil dengan mengenakan masker. Ada yang tampil menyendiri bahkan mengisolasi diri. Dan 1001 macam upaya lainnya. Dan, ini terjadi di seluruh dunia. 1001 macam upaya membendung Covid-19 ini, seolah-olah ada kemutlakan bagi kita bahwa Corona bisa kita kalahkan.

Bagaimana mungkin mengalahkan mahluk yang tak kelihatan? Andai sebaran Corona seperti video yang tersebar di medsos dimana hanya dengan sentuhan kulit langsung menjalar dengan mudah ke seluruh tubuh, rasanya corona sulit dibendung. Kalau kita sepakati ini adalah musibah, bukankah membendung Corona seperti juga membendung Tsunami? Seperti juga membendung letusan gunung berapi? Seperti juga membendung musibah Palu dengan tanah berlarinya?

Kematian manusia yang menjadi akibat “Tanah Berlari” kita lihat tapi penyebab “Tanah Berlari” tak kelihatan. Kematian akibat Tsunami kita lihat tapi penyebab Tsunami kita tak lihat. Kematian akibat Corona kita lihat, tapi penyebab Corona kita tak lihat. Tetapi bahwa, ada perbedaan reaksi spontan ketika menyaksikan ancaman kematian akibat Tsunami dan Corona.

Ada perbedaan reaksi antara menyambut Tanah Bergoyang Palu dengan menyambut Corona. Menyaksikan ambang kematian karena Tsunami dan Tanah Bergoyang respon spontannya “Oh My God” atau “Allah Akbar”. Sementara reaksi spontan terhadap ambang kematian akibat Corona “Karantina” atau “Opaa.. Opaa..

Ada Lagi yang positif di Tipi”. Dan lain-lain. Jika reaksi spontan anda bukan seperti yang tertulis ini, silahkan stop membaca lalu ucapkan reaksi spontan anda kemudian, lanjutkan membaca. Jika kita sepakati bahwa Corona adalah bencana seperti juga Tsunami, Gunung Meletus, Gempa Bumi, Kemarau Panjang, kenapa tak melakukan tolak bala’. Bukankah kita pernah menyaksikan para pemuka agama memimpin doa tolak bala’.

Jika langit cerah dalam waktu lama, lalu kemarau panjang, bukankah kita pernah menyaksikan sembahyang berjamaah di lapangan untuk meminta langit yang cerah agar Allah memenuhinya dengan awan? Ketidakmampuanmu membuat awan di langit kira-kira setara dengan ketidakmampuanmu menghadang Virus Corona di awal kemunculannya. Maka, ditempuhlah shalat istisqa. Para Ulama dan pemuka-pemuka Agama khususnya Islam mengetahui ini.

Lalu? Kenapa tidak menggelar doa atau sembahyang Tolak Bala? Memang, ini tak gampang dinalar kecuali kamu berpikir ikhlas dan sumber makanmu jelas. Kalau sumber makan dari “injak kaki”, jammiii. Ndak “Konak” kata orang kampung yang ingin tampil kota dengan berusaha menyebut secara sempurna kata : “Connect”. Supaya berupaya berpikir ke arah sana, saya ingin bertanya kenapa Nabi Musa berani melawan Firaun. Kenapa Nabi Ibrahim berani melawan Namrud. Kenapa Ibrahim tak dimakan api.

Mana yang kuat pukulannya, api atau corona? Kenapa La Kepe dia bisa tahan hujan yang sudah kelihatan lebat awannya kalau kita sepakati bahwa ada kata “Pawang”? Epe, bisakah Corona difoila (ditiup-tiup)? Dadiam La Epe belaee.

Terakhir, saya ingin tuliskan dialog yang super penting di zaman sebelum ada manusia. Allah SWT : Aku hendak menjadikan khalifah di Bumi. Malaikat : Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedang kami bertasbih memuji-Mu, dan menyucikan-Mu? Allah SWT : Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui. Salam warahmah.(nebansi@yahoo.com)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy