Mayoritas Guru Dinilai Hanya Memberi Tugas Tanpa Interaksi dengan Siswa – Kendari Pos
Edukasi

Mayoritas Guru Dinilai Hanya Memberi Tugas Tanpa Interaksi dengan Siswa

Indra Charismiadji

KENDARIPOS.CO.ID — Pengamat dan Praktisi Pendidikan Indra Charismiadji mengkritisi penggunaan dana Pendidikan Profesi Guru (PPG) triliunan Rupiah yang dikucurkan pemerintah untuk meningkatkan kompetensi guru. Ternyata dana triliunan rupiah itu mubazir karena mayoritas guru di Indonesia masih gagap teknologi (gaptek).

“Dengan kondisi sekarang baru ketahuan kan kalau guru-guru kita banyak yang gaptek. Mereka tidak siap dengan pembelajaran daring yang sebenarnya mudah kalau mereka paham,” kata Indra, beberapa waktu lalu.

Beberapa hari memantau perkembangan pembelajaran online, guru-guru kata Indra malah bingung mau kerjakan apa. Walaupun sudah ada petunjuk teknis dari Kemendikbud, guru-guru ini tidak mengerti juga. Walakin, mereka hanya memberikan tugas rumah tanpa ada interaksi dengan siswa.

“Pembelajaran daring itu ya harus ada interaksi siswa dan guru. Kalau cuma sekadar kasi tugas tidak usah pakai sistem daring. Pembelajaran online itu tetap harus ada interaksi guru dan siswa. Jadi tidak dilepas siswanya kerjain tugas,” terangnya.

Secara regulasi sebenarnya konsep pembelajaran berbasis digital atau daring ini sudah diatur dalam Permendikbud Nomor 22 tahun 2016 tentang Standar Proses di mana prinsip pembelajarannya harusnya berjalan antara lain peserta didik diberi tahu menuju peserta didik mencari tahu; dari guru sebagai satu-satunya sumber belajar menjadi belajar berbasis aneka sumber belajar; dari pendekatan tekstual menuju proses sebagai penguatan penggunaan pendekatan ilmiah; dari pembelajaran berbasis konten menuju pembelajaran berbasis kompetensi; dari pembelajaran parsial menuju pembelajaran terpadu; dan seterusnya.

“Melihat prinsip pembelajaran di atas harusnya guru-guru kita sudah siap menghadapi situasi belajar di rumah seperti sekarang. Apalagi standar di atas sebagai bagian dari 8 pilar pendidikan Indonesia sudah diterbitkan sejak 2016,” terangnya.

Ini sudah 4 tahun dan pemerintah telah mengeluarkan biaya triliunan rupiah melatih guru-guru baik yang dilakukan Kemendikbud sendiri maupun melalui program PPG agar dapat melakukan proses pembelajaran sesuai dengan standar di atas.

“Program-program pelatihan guru yang memakan uang rakyat dengan jumlah besar ternyata masih sebatas event, tidak pernah terukur, dan dievaluasi learning output atau hasil belajarnya. Hal ini sangat berbahaya dalam mensukseskan program pembangunan SDM unggul di mana pendidik adalah ujung tombaknya,” tandasnya. (jpnn)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy