“Manis dan Pahitnya” Belajar di Rumah, Oleh: Prof. Hanna – Kendari Pos
Kolom

“Manis dan Pahitnya” Belajar di Rumah, Oleh: Prof. Hanna

KENDARIPOS.CO.ID — Hampir sebulan para siswa dan mahasiswa belajar di rumah untuk memutus mata rantai penyebaran pandemi virus korona atau Corona Virus Disease 2019 (Covid-19). Belajar daring (online) dicetuskan sekaligus mengontrol sinergisitas guru dan orang tua sebagai suatu kesatuan yang tak terpisahkan dalam mendidik anak bangsa.

Dalam kondisi ini semua sibuk. Orang tua sibuk membantu anak menjelaskan tugas-tugas sekolah dari guru bidang studi. Para guru pun sibuk menulis dan memberikan penjelasan secara online. Berkat teknologi saat ini, pembelajaran online digemari oleh beberapa guru sebagai bagian dari penawaran sistem belajar mengajar.

Pembelajaran berbasis online diharapkan mempermudah cara belajar, cara mengajar dan semua fasilitas yang berhubungan dengan itu dapat difasilitasi. Cara ini memungkinkan siswa untuk belajar dan guru untuk mengajar tetap berinteraksi dalam diskusi mata pelajaran.

Sementara beberapa orang menganggap pembelajaran online memerlukan tingkat motivasi lebih besar, kemampuan teknologi tinggi, penguasaan jaringan memadai, dan sistem dukungan pendidikan sama pentingnya dengan umpan balik guru.

Sebagai orang tua pasti merasakan dan melihat adanya beban baru yang tergolong berat dari situasi belajar dari rumah berbasis online. Pada kenyataanya masih banyak kendala dalam belajar online melalui WhatsApp, Google Meet, dan Zoom.

Dalam pengamatan penulis, ada beberapa siswa mengaku yang paling sulit dari mengerjakan soal di rumah adalah suasana yang tak kondusif dan tanpa didampingi guru secara fisik. Keluarga juga tak bisa membantu banyak. Kendala lainnya, jaringan internet tidak selalunya stabil. Selain itu, kebanyakan guru hanya memberi soal-soal tanpa menyajikan penjelasan dari materi yang diajarkan.

Contoh, ada guru yang menyajikan soal tentang apa arti virus, ciri-ciri virus corona. Karena jawabannya sulit, tentu siswa akan memanfaatkan google untuk mencari informasi, yang tentu saja sulit diverifikasi guru apakah sumber yang dipakai kredibel atau tidak, dan mungkin guru juga tidak melakuakn verifikasi. Sistem seperti ini tidak bisa membentuk karaktek siswa.

Dalam kurikulum pendidikan ada tiga hal yang ingin dicapai yakni, pengetahuan, keterampilan dan sikap. Pendidikan bukan hanya membuat siswa pintar tetapi menanamkan karakter yang kuat. Karakterlah yang membuat bangsa ini berdiri tegak. Pola interaksi yang menanamkan pengetahuan, sikap dan keterampilan dalam pembelajaran yang sebelumnya menjadi kekuatan utama sekolah berubah menjadi interaksi guru-murid pada penugasan.

Orangtua dengan segala keterbataan pengetahuan dan keterampilan mengajarnya menjadi sepenuhnya terlibat. Saya sependapat dengan unggahan di media sosial salah seorang orangtua siswa, Hamdan Juhannis. Bahwa banyaknya plesetan anak-anak yang merindukan sekolahnya karena capek diajar oleh orangtuanya. Itu bukan pelesetan tapi itulah yang sejatinya terjadi.

Anak menjadi stress karena tertekan diajar orangtua. Tapi jangan lupa, orangtua berkali lipat stress. Stress dengan keterbatasan di tengah pandemi virus korona, ditambah lagi dengan beban baru sebagai guru dadakan yang mungkin tidak pernah diajari didaktik metode mengajar.

Pertama, dalam kondis belajar di rumah, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan memprogramkan quantum learning yang berbasis kenyamanan belajar anak-anak di rumah melalui penerjemahan dari kurikulum agar terjadi proses belajar menyenangkan.

Quantum learning merupakan kiat, petunjuk, strategi dan seluruh proses belajar yang dapat mempertajam pemahaman dan daya ingat, serta membuat belajar sebagai suatu proses yang menyenangkan dan bermanfaat.

Kedua, pihak sekolah perlu memberikan petunjuk teknis kepada guru agar mengelola belajar di rumah secara sederhana untuk mengajar anak didiknya. Tidak perlu bertumpu pada penugasan. Guru memberikan variasi seperti siswa disuruh menulis, menganalisis cerita pendek, membaca dan meringkas, menonton film yang sesuai dengan materi ajarnya, tanpa melupakan nilai edukasi yang bertumpu pada saintifk approach itu.

Ketiga, orang tua sejatinya memahami kondisi saat ini mendidik anak adalah bagian dari pekerjaan utamanya, karena anaknya berada di rumah, bukan berada di sekolah yang masuk pukul 6.30 sampai 15.00 Wita.

Keempat, masyarakat saatnya empati dan memahami bahwa mendidik itu tidak semudah membalikkan tangan. Karena mendidik adalah penanaman konsep yang berkaitan masa depan anak. Oleh karena itu tugas guru selalu dipandang mulia, namun ironsinya cap yang melekat pada guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa, walaupun efektivitas mengajar yang menjadi rujukan.

Menurut hemat penulis, guru harus proaktif dan kreatif agar bisa menggelar kegiatan belajar-mengajar sama efektifnya dengan tatap muka. Efektivitas sangat penting dalam pelajaran karena menentukan tingkat keberhasilan suatu model pembelajaran yang digunakan. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy