Korona : Mengajari atau Mematikan, Oleh: Prof. Hanna – Kendari Pos
Kolom

Korona : Mengajari atau Mematikan, Oleh: Prof. Hanna

Prof Hanna

KENDARIPOS.CO.ID — Sejak 16 Maret 2020, virus korona mewabah di 158 negara. Beberapa negara memberlakukan lockdown, atau isolasi wilayah dari dunia luar. Korona datang mengejutkan semua orang. Tidak seperti datangnya bulan suci Ramadan yang dinanti-nantikan. Korona datang tanpa diundang. Ia datang tanpa basa basi namun merepotkan semua umat manusia di dunia ini. Ia datang mengajari kita untuk kembali pada “Ati’ullaha, wa atiu rasul, wa ulil amri minkum”.

Pada tulisan saya Korona Sengsara Membawa Nikmat, banyak masyarakat yang bertanya nikmatnya di mana. Salah satunya datang dari seorang pengacara di Makassar. Saat ini kita disuguhkan tentang korona, meski belum tahu wujud nyata korona, kecuali hanya mengenal ciri-cirinya dan efeknya saja. Karena ketidaktahuan itu maka kita gelisah, bertanya dalam hati tentang diri kita yang memang selama ini menjadi masyarakat sosial yang sering berinteraksi dengan masyarakat lainnya.

Jika apa yang dikatakan oleh semua orang itu benar, tentang cara penyebarannya begitu cepat dan tidak terasa sebagaimana penyakit lainnya, maka ada peluang banyak yang terinfeksi dari suspect korona.

Pemerintah sangat luar biasa dalam melindungi rakyat dari wabah korona ini. Menganjurkan masyarakat berdiam di rumah untuk memutus potensi penyebaran virus korona. Hanya saja sebagian masyarakat kurang memahami niat baik pemerintah. Polisi, tentara dan tenaga medis bekerja siang malam, tanpa kenal lelah. Jika kita sadar tentang anjuran itu, penyebaran virus segera teratasi.

Demikian juga karena ketidaktahuan kita maka yang terjadi pro dan kontra pemikiran. Pada pihak lain ada klaim bahwa korona ini adalah rekayasa biologi, dan di pihak lain mengatakan itu adalah ujian dari Allah SWT. Keduanya berdasarkan pemikiran dan cara pandang masing-masing.

Korona ini sudah ada di hadapan kita dan akan membunuh kita. Walaupun ada pandangan bahwa kematian sudah ditentukan Tuhan Yang Maha Kuasa, tidak perlu ragu. Pernyataan ini perlu kita luruskan bahwa memang kematian ini sudah ditentukan oleh Tuhan tetapi adakah diantara kita yang tahu tentang hal-hal yang menyebabkan seseorang mati ? Jawabannya tidak ada.

Informasi kematian tidak satupun yang tahu. Tidak perlu kita mempertengkarkan bahwa sistem dirumhkan seseorang akan mati kelaparan karena tidak bisa bekerja. Percayalah tidak ada jaminan bahwa di tempat bekerja itu adalah tempat aman dari penyebaran virus ini.

Mari dukung program pemerintah dalam melakukan pencegahan seperti social distancing. Menahan diri untuk tidak keluar rumah, mengurangi interaksi kontak fisik, serta menjaga jarak. Cara ini tidak hanya berguna untuk menghindar dari penularan, namun menjaga orang yang belum tertular–andainya kita menjadi carrier dari virus korona.

Siapa pun yang paham maupun tidak paham tentang korona berhak berkata, “kita tidak perlu cemas karena Allah sudah memilih siapa yang akan meregang nyawa, siapa yang terjangkiti wabah, berserah diri sajalah pada Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa”.

Mereka yang diberi ilmu pengetahuan, diberi keahlian, diserahi memimpin, memiliki kemampuan tausyiah untuk menenangkan rakyat, harus mencemaskan dirinya, bukan cemas karena hengkangnya investor bukan juga cemas karena kehilangan pamor dan jabatan. Namun cemaskan dirimu semata-mata karena Allah SWT, karena dirimulah yang terpilih memikirkan jalan keluarnya.

Kemampuan itulah yang menjadi pembedamu dengan masyarakat lainnya. Sebagai manusia yang berTuhan, segala daya upaya harus dilakukan, dan komitmen yang engkau tunjukkan secara empirik menjadi bukti memikirkan dan mencemaskan rakyat banyak.
Setelah itu, berserah diri kepada Allah SWT.

Rasulullah mencontohkan upaya yang dilakukannya untuk tidak masuki daerah yang terkena wabah dan jangan meninggalkan daerah yang terjangkiti wabah (lockdown). Rasululah menganjurkan itu karena mencemaskan keselamatan umat, semata-mata karena Allah SWT.

Isolasi atau lockdown diberlakukan, saat terjadi wabah penyakit menular untuk mengurangi potensi penularan penyakit. Seperti yang diriwayatkan oleh Bukhari, “Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu.” (HR Bukhari). Hadits tersebut menjelaskan jika terjadi wabah, kita tidak boleh keluar dari wilayah wabah, sebab akan berpotensi menulari wilayah selainnya. Pun sebaliknya, apabila ada daerah, atau seseorang yang terkena wabah, lebih baik kita menjaga jarak tubuh dari infeksi penyakit, agar tidak langsung tertular atau menularkan. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy