Kartini dan Kartini Lainnya, Oleh: Prof. Hanna – Kendari Pos
Kolom

Kartini dan Kartini Lainnya, Oleh: Prof. Hanna

Prof. Hanna

KENDARIPOS.CO.ID — 21 April kemarin adalah Hari Kartini. Perayaannya tidak seramai seperti tahun-tahun sebelumnya mungkin karena adanya pandemi Covid -19. Kemarin saat saya melewati jalan protokol, beberapa kantor menggelar upacara dengan sangat sederhana. Karena ada keperluan di salah satu kantor, saya ke sana sambil mengenakan masker, kaos tangan dan pengaman diri lainnya.

Saat menunggu antrian, seorang menghampiri saya dan bertanya. “Pak, Radeng Adjeng Kartini itu apanya yang mau diperingati?. Saya tidak menjawab sampai urusan saya selesai dan pulang. Sampai di rumah saya merenungi pertanyaan bapak tadi. Kehebatan apa yang dibuat seorang Kartini sehingga hari lahirnya dijadikan sebagai hari khusus dan diperingati. Hari kelahiran para tokoh nasional lainnya, kok tidak diperingati. Apakah karena priyayi, idenya, atau karena terobosannya. Entahlah. Saya belum bisa menjawab sampai saat ini. Bertanyalah saya pada mbah Google, dan Wikipedia Indonesia.

“Ternyata” sekelumit Kartini dari Wikipedia Indonesia, Raden Adjeng Kartini berasal dari kalangan priyayi atau kelas bangsawan Jawa. Ia merupakan putri dari Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, seorang patih yang diangkat menjadi bupati Jepara segera setelah Kartini lahir. Kartini adalah putri dari istri pertama, tetapi bukan istri utama.

Ibunya bernama M.A. Ngasirah, putri dari Nyai Haji Sitti Aminah dan Kyai Haji Madirono, seorang guru agama di Telukawur, Jepara. Dari sisi ayahnya, silsilah Kartini dapat dilacak hingga Hamengkubuwana VI. Garis keturunan Bupati Sosroningrat bahkan dapat ditilik kembali ke istana Kerajaan Majapahit. Ayah Kartini pada mulanya adalah seorang wedana Mayong. Kartini adalah seorang yang pintar dalam bidang bahasa. Sampai usia 12 tahun, Kartini diperbolehkan bersekolah di ELS (Europese Lagere School). Di sini antara lain Kartini belajar Bahasa Belanda. Tetapi setelah usia 12 tahun, ia harus tinggal di rumah karena sudah bisa dipingit. Kartini bisa berbahasa Belanda. Dari buku-buku, koran, dan majalah Eropa, Kartini tertarik pada kemajuan berpikir perempuan Eropa.

Timbul keinginannya untuk memajukan perempuan pribumi, karena ia melihat bahwa perempuan pribumi berada pada status sosial yang rendah. Kartini banyak membaca surat kabar Semarang. Ia juga menerima leestrommel (paket majalah yang diedarkan toko buku kepada langganan). Di antaranya terdapat majalah kebudayaan dan ilmu pengetahuan yang cukup berat, juga ada majalah wanita Belanda De Hollandsche Lelie. Kartini pun kemudian beberapa kali mengirimkan tulisannya dan dimuat di De Hollandsche Lelie.

Dari surat-suratnya tampak Kartini membaca apa saja dengan penuh perhatian, sambil membuat catatan-catatan. Kadang-kadang Kartini menyebut salah satu karangan atau mengutip beberapa kalimat. Perhatiannya tidak hanya semata-mata soal emansipasi wanita, tetapi juga masalah sosial umum. Kartini melihat perjuangan wanita agar memperoleh kebebasan, otonomi dan persamaan hukum sebagai bagian dari gerakan yang lebih luas. Oleh orangtuanya, Kartini dijodohkan dengan bupati Rembang, K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat, yang sudah pernah memiliki tiga istri. Kartini menikah pada tanggal 12 November 1903. Suaminya mengerti keinginan Kartini dan diberi kebebasan dan didukung mendirikan sekolah wanita di sebelah timur pintu gerbang kompleks kantor kabupaten Rembang, atau di sebuah bangunan yang kini digunakan sebagai Gedung Pramuka.

Kembali kepada pertanyaan yang diajukan oleh seseorang di kantor yang saya kunjungi. Ada kesan saya bahwa ada pro kontra pelaksanaan hari Kartini. Terlepas dari pro kontra itu, kita tidak bisa terbawa arus, tetapi berada pada posisi bahwa peringatan itu adalah kebijakan pemerintah yang tentu saja melalui prosedur. Yang jelas bahwa Kartini telah menjadi tokoh di negara ini dan telah menunjukkan di mata dunia bahwa Indonesia memiliki pejuang wanita.

Menjadi pikiran saya adalah beberapa pejuang wanita yang dapat menyamai seorang Kartini dalam segala hal, namun tidak diberikan fasilitas seperti Kartini. Perbedaan inilah yang mungkin dipertanyakan bagi beberapa orang yang berbeda pandangan terhadap hari Kartini ini. Perempuan-perempuan itu, diantaranya adalah pejuang dari Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara, seperti Colliq Pujie, Opu Daeng Rijau, dan Emmy Saelan, sebagaimana yang ditulis oleh Ach. Hidayat Alsair melalui IDN Times, 03 Desember 2019.

Pertama, tercatat dalam sejarah bahwa Colliq Pujié (nama lengkapnya Retna Kencana Colliq Pujié Arung Pancana Toa Matinroé ri Tucaé) merupakan seorang bangsawan Bugis kelahiran tahun 1812 dan wafat pada 11 November 1876, penyalin naskah dan sekretaris istana Kerajaan Tanete-kini bagian dari Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan-sang ayah yakni Raja La Rumpang.

Sempat berpengaruh lantaran bertindak sebagai wakil ayahnya untuk segala urusan istana, dinamika politik–ditambah campur tangan pihak kolonial Belanda– memaksanya menyerahkan status kepala pemerintahan kepada putrinya. Status de facto pemimpin Tanete membuat Colliq Pujié dianugerahi gelar Datu’ Tanete dan menjadi salah satu yang turut membukukan I La Galigo selama 20 tahun dengan tebal 2.840 halaman, bersama Benjamin Frederik Matthes ahli bahasa asal Belanda.

Kedua, Opu Daeng Risadju. Dalam sejarah tercatat bahwa Opu daeng Risaju, lahir dengan nama Famajjah– adalah pejuang perempuan sekaligus Pahlawan Nasional asal Sulawesi Selatan. Opu Daeng Risadju adalah gelar bangsawan di Kerajaan Luwu. Lahir di Palopo pada 1880 dari pasangan Muhammad Abdullah To Baresseng dan Opu Daeng Mawellu. Ia menikah dengan Haji Muhammad Daud kemudian pindah ke Parepare. Dan pendiri PSII Di Parepare.

Sempat tiarap pada masa pemerintahan Jepang, aktivitas PSII kembali menggeliat pasca kemerdekaan. Namun pemerintah Belanda menganggapnya sebagai ancaman. Ia ditangkap tentara NICA dan menghabiskan waktu dalam penjara selama berbulan-bulan tanpa diadili. Ia wafat di usia 84 tahun pada 10 Februari 1964. Ia dianugerahkan status Pahlawan Nasional pada tahun 2006.

Ketiga, Emmy Saelan. Emmy Saelan (lahir di Malangke, Luwu, Sulawesi Selatan, 15 Oktober 1924–meninggal di Makassar, 23 Januari 1947 pada umur 22 tahun) adalah salah seorang pejuang wanita dan Pahlawan Nasional Indonesia. Emmy Saelan adalah wanita yang disegani dalam masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan di Sulawesi Selatan.

Saat itu, tokoh-tokohnya didominasi sosok pria macam Wolter Monginsidi, Abdullah Daeng Sirua, Andi Abdullah Bau Massepe dan Ranggong Daeng Romo. Profesi Emmy sebagai perawat banyak berpengaruh dalam tumbuhnya semangat nasionalisme, dan bergabung dengan milisi gerilya pimpinan Ranggong Daeng Romo. Selain mengangkat senjata dan terlibat operasi mata-mata, ia masih melanjutkan tugas medisnya di garis depan.

Emmy Saelan gugur pada 23 Januari 1947, ketika terkepung dalam upaya penyerangan pos tentara KNIL di Kampung Kassi-Kassi, tenggara Makassar. Jenazah Emmy sempat dikubur oleh Belanda di lokasi pertempuran, sebelum dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Panaikang. Emmy Saelan adalah kakak kandung Maulwi Saelan, yang menjadi kiper Timnas era 1960-an bersama Ramang).

Selain dari Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara pun kita mengenal yang bernama Wa Ode Wau. Dia adalah salah satu pejuang muslimah yang berperan penting dalam usaha mengusir penjajah di tanah Buton-Sulawesi Tenggara. Ia lahir pada tahun 1616 M, dan telah berjuang selama 60 tahun sebelum ia wafat pada bulan ramadhan 1121 H atau bertepatan dengan tahun 1712 M.

Alasan Wa Ode Wau melawan penjajahan Belanda ialah karena beliau menginginkan tanah kelahirannya merdeka dari segala bentuk penjajahan serta ingin mengangkat derajat kaum wanita. Selain itu beliau dikenal sebagai seorang yang dermawan karena rela menginfakkan hartanya untuk pembangunan Benteng Wolio yang saat ini terkenal sebagai benteng terluas di dunia. Benteng ini merupakan wujud untuk mempertahankan diri, harta, negeri dan agama dari penjajahan.

Selain itu, dengan harta yang melimpah secara suka rela beliau membagikan kepada rakyat Buton tanpa mengharapkan balasan dari pemerintah. Ketika pemerintah tahu atas pengorbanan beliau, pemerintah berniat membalas budi, akan tetapi dengan rendah hati Wa Ode Wau menjawab ”Aku tidak mengharapkan sesuatu pemberian dari sara (pemerintah) atas pengorbanan harta bendaku terhadap pembangunan Benteng Wolio, tetapi semata-mata untuk kepentingan negeriku sendiri, serta kehormatan masyarakat Buton dan cucuku di kemudian hari. Semoga mereka ada yang mengikuti jejakku ini”. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy