Corona Sudah Melambai Pulang, Oleh: La Ode Diada Nebansi – Kendari Pos
Kolom

Corona Sudah Melambai Pulang, Oleh: La Ode Diada Nebansi

La Ode Diada Nebansi

KENDARIPOS.CO.ID — Ada imbauan untuk tak salat jamaah. Ada imbauan untuk tidak Jumatan. Artinya, jangan ada yang kumpul-kumpul. Katanya, social distancing. Jaga jarak. Kenapa? Untuk memutus mata rantai penyebaran virus corona.

Oke. Kita ikut imbauan itu. Salat tak lagi jamaah. Jumatan juga tidak. Kita ikut imbauan namun hati dan logika ini memberontak. Memberontak bukan karena menolak tapi ingin mengetahui penjelasan dan analisis medisnya.

Otak dan logika ingin mencari tahu kenapa perlakuanmu soal kumpul-kumpul. Berkumpul dalam kebersihan setelah berwudhu kamu larang.
Berkumpul dalam bau yang aneka anyir, bau kol buncis, bau ikan, bau keringat kecut, bau keringat jemek, di pasar sana, kamu biarkan. Berkumpul setelah bersuci untuk Jumatan, kamu larang. Berkumpul dengan orang yang “berkabaka” (lumpur yang mengering di telapak dan pinggiran kaki lalu tertimpa lagi dengan lumpur basah) kamu biarkan. Teman saya di Pasar Sentral bilang begini: “apa mak’sunnu”.

Berkumpul di masjid kamu larang, berkumpul di pasar kamu tak larang. Menghindari kumpul-kumpul di masjid kamu keluarkan fatwa untuk tidak salat jamaah, sementara kumpul-kumpul di pasar kamu tidak keluarkan fatwa.

Tiba-tiba Wali Kota Kendari mengeluarkan imbauan untuk tidak keluar rumah selama tiga hari. Ndilalah, alhasil, warga taat. Tak ada yang keluar rumah. Seluruh poros jalan Kota Kendari sepi.

Tapi tahukan kamu bahwa sebelum memasuki “lockdown” tiga hari itu, pasar-pasar di Kota Kendari penuh sesak. Istri saya bilang begini: Pak, aku mau neng pasar, sesa’e ora umum. Uyuk-uyuan ngluwihi bodho. Hlah hlah hlaaaaah. (Pak, saya tadi ke pasar, ramainya ndak ketulungan. Manusia berdesak-desakan melebihi lebaran. Woooowww).

Saya jawab dengan bahasa Muna: Mina omeghohi? (bukan hoax?). Kenapa pasar ramai? Mereka membeli untuk kebutuhan tiga hari lockdown. Tapi saya tidak mau terjebak di keramaian. Dengan keramaian itu, saya justru berpikir lain.

Dalam hatiku, desak-desakan manusia seperti ini maka dalam tiga hari ke depan hingga satu minggu akan banyak tambahan positif corona karena mereka kebanyakan tak pakai masker dan kontak badan. Pemikiran saya kian mengembara, bahwa jubelan manusia seperti ini tidak mungkin semua ke rumah sakit. Jika tak mau ke rumah sakit maka virus corona bebas-sebebasnya beraksi. Tanpa masker, tak ke rumah sakit maka bisa jadi, 14 hari kedepan, pasti akan ada kabar duka.

Kalau pasca desak-desakan seluruh pasar di Kota Kendari tak ada tambahan positif dan tak ada kabar duka, maka sesungguhnya virus corona sudah melambaikan tangan untuk kembali keharibaan-Nya.

Desak-desakan manusia tanpa masker dengan aneka bau keringat, berdesakan dengan orang yang penuh abab beras, abab ikan kering, abab kain, percikan cairan kol buncis atau kentang busuk, bau lombok, ngawunya RB yang menyengat, dan bau-bau lainnya, bukan itu yang kita hindari selama wabah corona?

Tapi kenapa justru berdesak-desakan? Tapi ternyata juga tak ada yang terkena corona dengan desakan itu. Artinya, kita menghindari kumpul-kumpul karena takut serangan corona, sementara di pasar terjadi desakan hebat pada H-1 “lockdown”.

Kalau kumpul-kumpul saja dianggap rawan kena corona maka berjubelnya orang di pasar mestinya harus banyak yang kena corona. Tapi kan tidak. Oleh karena keramaian pasar baru enam hari berlalu, kita belum bisa ambil kesimpulan. Mudah-mudahan Allah menghindarkan kita semua dari wabah apapun. Jika ternyata tak ada tambahan positif maka sayonara corona. (nebansi@yahoo.com)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy