Corona Dalam Persepsi Pendidikan, Oleh: La Ode Firima, S.Pd., M.Pd – Kendari Pos
Opini

Corona Dalam Persepsi Pendidikan, Oleh: La Ode Firima, S.Pd., M.Pd

La Ode Firima, S.Pd., M.Pd (Mantan Guru SMAN 1 Baubau. Pegawai Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Buton Tengah (Seksi SD))

KENDARIPOS.CO.ID — Persepsi publik terhadap virus corona adalah menakutkan, kejam dan menjadi penyebab hilangnya nyawa manusia. Membunuh manusia tanpa memandang status sosial, pejabat tinggi maupun masyarakat biasa. Label negatif seperti ini bukan tidak beralasan. Buktinya telah terjadi ribuan nyawa manusia hilang yang terjadi di Wuhan Tiongkok, Italia, Spanyol, Iran, Amerika dan negara lainnya sehingga update corona dunia per 17 April 2020 mencatat 2.182.023 orang positif, 547.092 orang sembuh dan 145.513 dinyatakan meninggal. Sementara di Indonesia update corona berdasarkan keterangan juru bicara pemerintah khusus penanaganan covid 19 tanggal 16 April 2020 sudah tembus angka 5.516 orang posistif sembuh 548 dan meninggal 496 jiwa. Dalam waktu 4 hari, bisa mencapai angka seperti itu. Dan ini bukan angka kecil, mengingat penularan virus corona begitu cepat dan angka tersebut sekaligus memperingatkan kepada warga negara di negeri ini untuk berhati-hati dan jangan sampai lengah. Ikuti petunjuk terbaik untuk penyelamatan diri dan orang-orang di sekitar.

Prevention is better than cure (pencegahan lebih baik daripada mengobati), memang telah banyak usaha pencegahan yang dilakukan pemerintah pusat maupun daerah untuk memutus rantai tersebarnya virus corona. Mulai dari pemberhentian proses pembelajaran di kelas bagi siswa maupun mahasiswa, instruksi untuk bekerja di rumah bagi ASN. Dianjurkan untuk ibadah di rumah tak terkecuali salat Jumat ditiadakan apabila dalam keadaan genting. Intinya adalah physical distancing and stay at home. Sosialisasi oleh pemerintah terkait pola hidup sehat, sering cuci tangan dengan sabun, pakai masker bila keluar rumah. Semua itu dilakukan demi melindungi rakyat dari bahaya virus corona.

Andai sebagai sebuah kekuatan, rasanya corona adalah super power. Mampu memporak- porandakan kehidupan sosial dan ibadah salat berjamaah umat Islam. Juga dapat menghentikan proses pembelajaran di kelas yang juga disebut-sebut sebagai senjata. Betulkah virus corona sebagai senjata biologi yang sengaja diciptakan oleh umat dan negara tertentu untuk menghancurkan lawan-lawannya di dunia? Wallaahu a’lam. Kita hanya mau yakin bahwa virus corona adalah wabah atau kalelei (bahasa daerah) termasuk makhluk ghaib. Secara kasat mata tidak tidak terlihat sehingga rakyat kesulitan untuk menghindarkan diri dari “setan jahat” yang menyeramkan itu. Kalau itu adalah wabah atau kalelei, maka penanganannya hanyalah disiplin dan doa. Masalahnya disiplin ini masih terlihat diabaikan oleh banyak kalangan. Malahan orang yang seharusnya memberi teladan kedisiplinan justru dia juga yang tidak mengindahkan disiplin itu.

Disiplin dalam mengikuti segala petunjuk yang telah dianjurkan pemerintah, harus selalu diingatkan kepada khalayak. Karena sekali lagi banyak diantara mereka yang selalu mengabaikan petunjuk kebaikan, nanti sudah terjadi baru menyesal, tidak ada gunanya. Juga harus kita berdoa kepada Allah SWT. Meminta penjagaan dan perlindungan agar terhindar dari kejahatan makhluk ciptakan-Nya. Terhindar dari keganasan virus corona. Virus corona yang mematikan dan menakutkan, namun demikian dapat diambil hikmah dan pendidikan dari padanya. Inilah sebenarnya yang menjadi fokus dari tulisan ini. Kalau kita mau bijak, kehadiran wabah corona, jangan hanya dilihat dari sisi negatifnya. Tapi juga harus dilihat dari sisi positifnya. Yakni, hikmah dibalik mewabahnya virus corona dalam persepsi pendidikan.

Pertama, kondisi kematian akibat virus corona dalam waktu seketika dan dalam jumlah besar serta mendunia, boleh jadi ini adalah gambaran kematian di saat hari kiamat nanti. Tidak sempat lagi untuk bertobat dan beribadah dan dalam Alquran, hari kiamat merupakan suatu kepastian. Hanya kapan waktu terjadinya, itu rahasia Tuhan. Ini yang harus disadari oleh umat yang beragama untuk kembali ke jalan yang benar. Beribadah dan yang terpenting misi taqwa harus benar-benar dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari- hari, di mana dan sampai kapanpun. Dalam hal ini, virus corona memberi pendidikan agar kita selalu ingat kepada sang pencipta dan kematian. Intinya beramal dan beribadah. Karena itu yang dapat dijadikan bekal, ketika saatnya hari kiamat atau ketika saatnya kematian tiba.

Selain itu, Salat Jumat sebagai perintah wajib (Surat Al Jum’ah ayat 9-10), dimana umat Islam diwajibkan untuk melaksanakan Salat Jumat dan wajib mendengarkan Khotbah Jumat. Dengan wabah corona umat Islam menjadi enggan untuk melaksanakan Salat Jumat termasuk salat berjamah lainnya. Ini menyadarkan kepada umat Islam yang selama ini enggan untuk salat dan masuk masjid, ke depan masihkah ada kesempatan untuk salat Jumat dan salat fardu? Sadar atau tidak, virus corona telah memberi peringatan kepada umat beragama (Islam) untuk segera beribadah kepada Allah untuk mempersiapkan bekal hari akhirat. Kita hanya mampu berdoa semoga Allah tidak mengambil nyawa umat ini melalui musabab virus corona, yang dikhawatirkan bisa berjangkit ke orang lain. Dan bersangklutan tidak berkesempatan lagi untuk bertobat dan beribadah, nauzzu billah. Itulah persepsi utama seiring dengan mewabahnya virus corona.

Kedua, diketahui bahwa penularan virus corona melalui kontak fisik atau pemularan dari orang ke orang, maka untuk menghindari penularan virus corona pemerintah menganjurkan penerapan stay at home. (1) Dalam hal ini menyadarkan orangtua yang selama ini seolah perhatian terhadap keluarga sudah terabaikan. Apalagi kedua orangtua sama- sama aktif dengan bisnisnya di luar rumah, ketika pulang ke rumah dengan alasan kelelahan hingga pendidikan keluarga tidak berjalan sebagimana mestinya. Padahal pendidikan keluarga (family education) untuk membangun karakter dan untuk mewujudkan generasi berkualitas harus dimulai dari rumah. (2) Walaupun sudah dianjurkan untuk tinggal di rumah, tapi masih terlalu banyak orang-orang berjalan keluar rumah seolah tidak menghiraukan anjuran kebaikan. Belum lagi anak muda yang tidak mengenal waktu terkadang hingga di subuh hari.

Dan khususnya bagi pelajar, stay at home menjadi sangat penting untuk mempersiapkan dan memperdalam pelajaran yang diberikan gurunya. Tinggal di rumah untuk belajar. Kalau hanya dilarang oleh orangtuanya, mungkin masih banyak anak membandel. Tapi larangan karena corona, seharusnya dituruti tanpa kecuali. Ketiga, dengan adanya virus corona telah memberi pendidikan dan edukasi warga yang menghendaki pentingnya menjaga pola hidup sehat, makan makanan bergizi dan berolahraga dengan tujuan fisik harus dalam kondisi fit. Padahal anjuran itu tanpa virus corona pun, mayoritas sudah memahami pola hidup sehat seperti itu. Namun sering diabaikan, dianggap sepele. Nah, sekarang ini kalau tidak mau mengindahkan dan tidak patuh dengan petunjuk kesehatan itu, yang bersangkutan dapat dikategorikan sudah tidak menyayangi diri dan keluarga dan pantas dianggap sebagai orang sombong. Kita hanya berharap semoga melalui “corona dalam persepsi pendidikan” ini bisa menambah kesadaran warga untuk mengikuti segala petunjuk pencegahan dan dapat mengambil hikmah dari virus corona. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy