Antara Ramadan dan Corona “Sebuah Pilihan”, Oleh: Dr. Dewi Maharani, S.IP., M.Si – Kendari Pos
Opini

Antara Ramadan dan Corona “Sebuah Pilihan”, Oleh: Dr. Dewi Maharani, S.IP., M.Si

Dr. Hj. Dewi Maharani, S.IP., M.Si

KENDARIPOS.CO.ID — Marhaban ya Ramadan. Mungkin kalimat datangnya bulan puasa disambut semua umat muslim sedunia sebagai penyejuk hati setelah sekian bulan dunia diuji oleh Corona dengan WFH (work from home) untuk menghindari dan memutus mata rantai penyebaran virus Corona. Kita harus ikhlas atas dasar kebersamaan, orang beriman pasti mengikuti apa kata pemerintahnya.

Kedatangan Corona tidak pernah diharapkan oleh seluruh umat manusia, bahkan ada yang mengklaim bahwa Corona adalah sebuah “musibah”. Pesan itu menjadi rujukan kita untuk menyadari kesalahan apa yang dilakukan lalu memohon ampunan kepada Yang Maha Kuasa. Kata “musibah” yang dimaksudkan adalah bencana sebagai suatu peristiwa menyedihkan yang menimpa, namun demikian ada beberapa pengertian berkenaan dengan kata musibah, yang berarti fitnah (fitnah dalam pengertian bahasa Arab), musibah berarti bala, dan musibah yang berarti azab, kita harus sabar menerimanya.

Sesungguhnya kita milik Allah SWT dan hanya kepada-Nya kita kembali. Sabar artinya mengekang atau menahan. Musibah merupakan salah satu cara Allah SWT dalam menilai keimanan seseorang kepada takdir. Sebagai seorang mukmin akan yakin bahwa segala sesuatu yang diterimanya adalah merupakan ketentuan dari Allah SWT. Musibah merupakan Sunatullah dalam kehidupan manusia apalagi bagi orang yang beriman. Musibah merupakan satu keniscayaan untuk melihat potensi keimanan yang ada pada dirinya.

Jika kita pahami bahwa Corona adalah ujian atau musibah, di dalam puasa ini kita mencoba merenungi diri untuk bertaubat dari segala kesalahan kita, karena puasa Ramadan datang bersama kita selama sebulan. Ia ditunggu karena puasa adalah “perisai,” maknanya bahwa puasa memelihara pelakunya dari adzab neraka pada hari Kiamat.

Puasa memeliharanya dari hawa nafsu dan kemungkaran dalam kehidupan dunianya. Ia datang dengan melipatgandakan pahala bagi umat muslim, yakin bahwa Ramadan adalah waktu yang selalu dirindukan. Seluruh umat muslim bersukacita menyambut bulan suci yang penuh berkah ini. Berkah yang dimaksudkan adalah: Pertama, bahwa puasa Ramadan merupakan penyebab terampuninya dosa-dosa dan terhapusnya berbagai kesalahan. Kedua, pada bulan ini terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan, yaitu malam Lailatul Qadar. Ketiga, pembuka pintu-pintu syurga hal ini terdapat banyak hadits lain yang menjelaskan keutamaan dan keistimewaan bulan yang sangat barokah ini, di antaranya hadits yang termasuk dalam ash-Shahihain dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu.

Keempat, diantara keberkahan bulan ini adalah kaum muslimin dapat meraih banyak keutamaan dan manfaat puasa yang bersifat ukhrawi maupun duniawi. Karena Ramadan adalah berkah, maka umat lain, dimana dengan berbagai tradisi yang dilakukan oleh umat muslim selama bulan Ramadan, diantaranya berbagi dengan sesama. Artinya banyak hal yang dipersiapkan oleh umat muslim ketika ingin berbagi. Diantaranya berbagi sembako, berbagi THR ( Tunjangan Hari Raya ), dan lain sebagainya. Hal tersebut membutuhkan kontribusi penyediaannya dengan mengkonsumsi barang-barang yang dibutuhkan.

Pedagang penyedia kebutuhan tersebut pun terdampak berkah. Penjual apapun ketika bulan Ramadan pasti laris (laku) karena kebutuhan yang diperlukan beraneka ragam sebagai penunjang kontribusi berbagi tersebut. Tradisi Ramadan selalu jadi momen yang tak ingin dilewatkan oleh seluruh umat muslim diseluruh dunia, pun dengan di Indonesia.

Banyak hal yang menjadi tradisi, khususnya di Indonesia yang tidak dimiliki oleh negara manapun yaitu mudik (pulang kampong dari tempat merantau). Ramadan tahun ini, dengan terjadinya musibah pandemi Corona (Covid-19) semua impian itu serasa menjadi hal menyedihkan bagi seluruh umat muslim, tak terkecuali di Indonesia. Apalagi dengan segala aktivitas peribadahan yang “terbatas” dan “dibatasi” sangat memungkinkan hal yang istimewa pada momentum Ramadan seperti tahun-tahun sebelumnya akan hilang. Karenakan sudah menjadi aturan pemerintah diantaranya: tidak boleh salat berjamaah, tidak ada perayaan salat Idulfitri bersama, ditiadakan tradisi silatuhmi, tidak boleh mudik, pasar diberbagai titik darurat sudah dilarang adanya transaksi perdagangan.

Semua hal itu sungguh sangat menjadi dilema khususnya bagi umat muslim. Bukan tanpa dasar pemerintah menerapkan aturan tersebut, sesuai teori karena seperti yang dikatakan Prof. Dr. Budiman Rusli, M.S. dalam sebuah acara webinar yang diselenggarakan UNPAD 22 April 2020 bahwa: “kehadiran pemerintah dalam menghadapi masalah pandemi Covid-19 sangat penting, sebab jika pemerintah abai maka masyarakat yang akan bertindak dengan caranya sendiri dan tidak terkendali”.

Beberapa teori menegaskan pentingnya pemerintah hadir dalam berbagai masalah yang dihadapi masyarakat. Steven A Peterson (2003) “Government action toaddress some problem”. RobertSteward (2000) “ A process or series or pattern of governmentactivities or decisison that are design to remedy some public problem, either real or imagined”. Pelajaran paling berharga yang bisa dipetik dari semua musibah ini, bahwasanya manusia hanya bisa berencana tentang apapun, pada akhirnya hanya Allah SWT yang menentukan Qadha dan Qadarnya seluruh makhluk di muka bumi ini.

Seperti halnya pada saat ini, ketika seluruh umat muslim berharap jika Ramadan adalah bulan penuh berkah yang dinanti-nanti, begitupun semua masyarakat lainnya yang nonmuslim sekalipun terutama kaum pedagang yang menantikan hari “meremaan” (seluruh dagangan laku dengan pesat) saat masuk bulan suci Ramadan. Semua orang akan berbondong-bondong memborong berbagai kebutuhan pangan, sandang tak terkecuali papan, karena tidak sedikit masyarakat yang merapikan atau mengubah suasana rumahnya demi menyambut Ramadan dan Hari Raya Idulfitri, karena adanya tradisi silaturahmi memastikan tetangga dan sanak saudara akan saling mengunjungi.

Semua harapan itu pada tahun ini sepertinya akan “tertunda” karena situasi dan kondisi pandemi Corona yang sangat tidak memungkinkan bagi masyarakat untuk bisa beraktivitas dan bersosialisasi seperti biasanya. Bahkan instruksi pemerintah tentang PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) dan social distancing sudah sangat jelas. Masyarakat yang jika melanggarnya akan terkena sanksi hukum sesuai PP No 21 Tahun 2020 tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar, merujuk pada Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2018 tentang Karantina Kesehatan. PP ini menegaskan bahwa kewenangan penyelenggara karantina kesehatan adalah mutlak ranah pemerintah pusat dan mengingatkan pemerintah daerah harus meminta persetujuan terlebih dahulu kepada Menteri Kesehatan sebelum melaksanakan PSBB di wilayahnya.

Dalam kondisi saat ini penulis hanya bisa terpaku melihat suasana pasar yang sepi, pertokoan yang kini hanya menjadi saksi bisu sejarah dimana saat ini kita diwajibkan mematuhi aturan pemerintah demi menjaga kemudharatan seluruh umat manusia dari gejala pandemi Corona ini. Kini yang bisa kita lakukan hanya ikhtiar mengikuti aturan yang sudah ditetapkan, meningkatkan nilai keimanan dan ketakwaan agar diberi ketenangan menghadapi musibah global ini. Meningkatkan kepedulian dan berbagi kasih dengan sesama serta senantiasa tawakal, tetap menjaga hati agar tidak kufur terhadap nikmat yang Allah SWT berikan dan tidak takabur akan siapa diri kita, asal kita dari mana dan akan kemana kita kembali.

Sebagai umat yang beriman paham dan percaya bahwa kehidupan dunia sejatinya adalah perjalanan manusia menuju dan kembali kepada Allah SWT. Namun, manusia sering kali lupa diri dan khilaf tentang tujuannya sebagai khalifah di muka bumi ini, karena tergoda nikmatnya kehidupan dan gemerlapnya dunia. Oleh karena itu, Allah SWT mengingatkan dalam Alquran, “Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya.” (QS az-Zumar [39]: 54).

Manusia tidak pernah tahu ia akan dilahirkan di mana atau siapa yang melahirkannya. Tapi, ada fitrah dalam dirinya yang telah ditetapkan Allah SWT. Bahwa ia hidup untuk tujuan tertentu dan oleh karenanya ia akan melewati proses perjalanan ke arah itu. Ada kesadaran dalam dirinya tentang Allah, Sang Pencipta. Tapi, kehidupan dunia kerap membuat lupa segalanya. Ia lupa dari mana berasal dan akan ke mana ia berjalan hingga akan kembali kemana ia kelak.

Allah SWT dan Rasulullah mengingatkan dan menegaskan, manusia pada hakikatnya tengah berjalan menuju Allah SWT. Dunia, menurut Rasulullah, sekadar tempat berteduh, persinggahan sementara, sebelum lanjut ke tujuan akhir: Allah SWT. Rasulullah bersabda, “Bagaimana aku bisa mencintai dunia? sementara aku di dunia ini tak lain, kecuali seperti seorang pengendara yang mencari tempat teduh di bawah pohon untuk beristirahat sejenak, lalu meninggalkannya.” (HR at-Tirmidzi).

Penulis dan kita semua berharap semoga senantiasa diberi keberkahan dalam menjalankan ibadah di bulan suci Ramadan ini dan musibah pandemi Corona segera berakhir. Ada sebait nasehat yang penulis kutip dari tulisan Prof. Dr. Yulianto, M.S. “Belajarlah bersyukur meskipun tak puas, belajarlah ikhlas meskipun tak rela, belajarlah taat meskipun berat, belajarlah memberi meski tak berarti, belajarlah tenang meski gelisah. Belajar…Belajar…dan Belajar, semoga semua “ujian” bisa kita lalui karena dengan “ujian” maka kita bisa dinyatakan “lulus” dalam melewati proses.” InsyaAllah. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy