Tali Pinggang Dariango, Oleh: La Ode Diada Nebansi – Kendari Pos
Kolom

Tali Pinggang Dariango, Oleh: La Ode Diada Nebansi

La Ode Diada Nebansi

KENDARIPOS.CO.ID — Kata “Kaago-ago” itu asing. Tapi sebelum menuju bahasan ke sana, saya ingin membuka kejujuran. Bahwa yang gaib itu ada. Bahwa, kelakuan gaib itu acap kali kita lakukan. Apakah perilaku yang gaib itu mengarah ke Tuhan atau mengarah ke Jin, ke Setan, ke Pohon beringin, ke batu besar, ke hutan lebat, tetap saja kita temukan. Jujurlah kita.

Dalam Al Quran ada banyak perintah gaib. Salah satunya, “Hadapkanlah wajahnya ke arah Qiblat dimanapun kamu berada”. Ini gaib. Apa maknanya, kita tidak tahu. Tapi karena ini tertulis dalam kitab suci, maka bagi yang Islam, ikutilah itu dan Insya Allah bermanfaat.

Gaib yang berkaitan dengan tingkah laku kita sehari-hari, misalnya, jangan membangun rumah di depan jalan karena itu tusuk sate. Pemali.

Gaib yang lain, jangan membangun rumah tingkat sebagian, karena itu pasti bermasalah rumah tangga. Pemali.

Gaib yang lain, jangan lanjutkan keberangkatan jika awal mula mengangkat tas untuk berangkat dan tali tas ternyata putus. Pemali. Ini juga gaib.

Gaib yang lain, sebaiknya, jangan menikahkan anak sulung dengan sulung, bungsu dengan bungsu. Ini juga gaib. Dari yang gaib-gaib ini, percaya boleh, tidak ya boleh. Tapi, silakan ngeyel dengan pemali-pemali tadi, anda akan rasakan akibatnya.

Nah, terkait kehebohan dunia saat ini soal virus korona, bukan informasi baru. Tetua kampung masa lalu meninggalkan perilaku gaib yang bisa dikaitkan dengan heboh korona masa kini. Apa itu? Di Muna misalnya, adalah perilaku gaib yang disebut kaago-ago.

Saya tahu apa arti sesungguhnya kata Kaago-ago ini. Tapi, berkaitan dengan pengobatan. Hanya, yang diobati adalah kampung, daerah dan seluruh masyarakatnya yang diyakini rentan terserang virus. Cara pengobatannya unik.

Empat penjuru mata angin dalam kampung dibuatkan api unggun, tentu: ada foi-foinya. Kemudian, masyarakat dikumpul di area terbuka, di halaman rumah yang luas lalu sang Imam memercikkan air ke seluruh orang yang berkumpul. Tentu, air yang dipercikkan juga sudah difoi-foi.

Percaya atau tidak: oh, ternyata wabah dan virus: menyerah. Tapi ini gaib. Apakah virus yang gagal menyerang itu akibat kaago-ago atau bukan.

Kira-kira, api unggun dan percikan air secara massal, untuk zaman kekinian adalah penyemprotan disinfektan di seluruh area publik. Tapi, ada satu yang dilupa, bahwa kita sebagai umat beragama luput meminta secara massal kepada sang pemilik kesehatan, kepada maha pemberi penyakit sekaligus maha penyembuh. Kita lupa bahwa Allah maha segalanya.

Tapi, jangan sampai kalian jawab begini: ya, berdoami dan jangan hiraukan imbauan pemerintah. Bukan. Bukan begitu maksudnya. Maksudnya, imbauan pemerintah ikuti dan cara-cara tradisional pun lakukan. Perintah agama dalam menghadapi wabah penyakit juga mutlak diyakini. Kenapa? Jangan sampai corona ini adalah “kerlingan” Dajjal. Dia bilang Dajjal, itu baru kerlingan, belum saya main tangan.

Daerah lain, mungkin juga punya kaago-ago, hanya cara dan bahasanya yang berbeda. Saya masih ingat lilitan “dariango” di pinggang di masa kecil. Andai tali pinggang dariango itu masih ada, kemungkinan saya tak akan takut dengan virus corona. Kenapa?

Wabah di masa aku kecil, tidak diberlakukan lockdown, kami bebas bermain hanya karena dibekali dengan kekuatan tali pinggang dariango. Memang, cerita ini terkesan main-main. Terkesan udik. Tapi, jangan pandang udiknya, seperti juga jangan memandang rumah yang tingkat sebelah dengan modernnya tapi tak nyaman untuk ditinggali.

Terkesan jenaka, terkesan kampungan. Tapi, jangan pandang kampungannya, seperti juga memandang kampungan cara petani jagung menanam dengan berpatokan berapa malam bulan di langit dan hari keberapa hujan turun yang jika tak diindahkan maka seluruh tanaman jagung akan terserang ulat. Begitulah serangan ulat jagung baru-baru ini yang menyerang seluruh Sultra hanya karena salah menetapkan waktu tanam.

Woow, tambah udik. Ya, memang tambah udik. Tapi, adakah langkah modernmu untuk menekan wabah dan menghindari serangan ulat? Tanaman jagung petani baru-baru ini telah terserang corona ulat, sekarang, giliran kita yang terserang corona virus. (nebansi@yahoo.com)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy