Sultra Darurat Stunting! – Kendari Pos
HEADLINE NEWS

Sultra Darurat Stunting!

KENDARIPOS.CO.ID — Kasus ibu hamil kekurangan asupan gizi untuk bayi yang dikandungnya masih banyak terjadi di Sultra. Anak yang dilahirkan pun mengalami stunting (masalah gizi kronis disebabkan kurangnya asupan gizi dalam waktu lama, akibatnya postur anak berbadan lebih pendek daripada anak seusianya).

Di Sultra, kasus stunting masih kalah heboh dengan virus Corona. Data Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Sultra, pada tahun 2019 menunjukkan angka stunting anak balita 0-59 bulan menembus angka 2.920. Angka itu dari
penggabungan jumlah ukuran tubuh pendek anak sekira 1.811 orang dan sangat pendek 1.109 orang. Terbanyak di Kabupaten Kolaka Utara (Kolut) dan terendah di Kabupaten Wakatobi. (Lihat grafis)

Tahun 2020, per Februari, data stunting mencapai 1.472 kasus.Rinciannya, kasus ukuran tubuh anak pendek sekira 983 orang dan sangat pendek sekira 489 orang. Kasus stunting terbanyak masih dipegang Kabupaten Kolaka Utara. “Tetapi kategori ukuran tubuh ini hanya sebagai awal memprediksi data stunting. Sebab banyak sedikitnya kasus stunting akan di ketahui jika seorang anak yang pertumbuhannya terhambat yang diliat dari ukuran tinggi badan, dan lemah dalam berpikir,”ujar Plt. Kepala Dinkes Sultra, dr.Andi Hasnah, akhir pekan lalu.

Merujuk data Dinkes Provinsi Sultra itu, Sultra kini darurat stunting. Padahal kasus stunting ini merupakan salah satu isu kesehatan nasional yang perlu diwaspadai. Sebab ini menyangkut asupan gizi bagi anak sejak dalam kandungan. Menurut Plt. Kepala Dinkes Provinsi Sultra, dr.Andi Hasnah, upaya pencegahan itu perlu dilakukan melalui ibu hamil (Bumil). Ketika bayi dalam kandungan bumil, maka asupan gizi yang cukup dan seimbang harus disuplai ke bayi. Dengan tindakan seperti itu, maka jumlah kasus stunting bisa ditekan. Bahkan ke depan kalau tidak ada lagi kasus stunting di Sultra

“Sejak bayi dalam kandungan, kita harus antisipasi lebih dulu. Kami telah memiliki rumah cegah stunting, yang tugas khususnya melakukan pendataan dan menangani stunting di Sultra. Sehingga ke depan pencegahan stunting bisa lebih optimal,” ungkap dr.Andi Hasnah.

Dinkes Sultra pun membentuk Satgas Stunting. Mereka dilatih untuk mendata semua ibu hamil yang ada di wilayah kerja masing-masing. Satgas juga melakukan pemilahan antara ibu hamil normal dan ibu hamil kekurangan energi kalori (KEK). sekaligus satgas memberikan pemahaman tentang stunting serta dampaknya kepada para ibu hamil. “Kalau ada temuan akan ditindak lanjuti di Puskesmas. Lalu, penderita KEK di intervensi melalui pemberian asupan makanan tambahan bergizi. Di sini kami ambil yang berbasis lokal,”jelas dr.Andi Hasnah.

Plt.Direktur Perencanaan Pengendalian Penduduk BKKBN RI, Dr. H. Mustakim menjelaskan persoalan stunting harus menjadi perhatian semua pihak. Sebab, memiliki efek jangka panjang. “Anak yang dilahirkan stunting bukan hanya tubuhnya kerdil, tetapi juga mengalami penurunan tingkat kecerdasan, gangguan bicara, dan kesulitan dalam belajar,” ungkap Mustakim, kemarin.

Mantan Plt Kepala Perwakilan BKKBN Sultra menambahkan, banyak bayi dilahirkan stunting salah satunya dari ibu yang masih sangat muda. Makanya, pengendalian terhadap perkawinan usia muda mesti diperhatikan.

“Kita harapkan, seorang perempuan menikah pertama paling cepat pada usia di atas 20 tahun. Hamil pertama paling cepat 1-2 tahun setelah pernikahan, yang berarti usia ini sudah cukup matang dari berbagai segi, baik matang psykis, mental dan kejiwaanya, maupun matang fisik dan alat serta proses reproduksinya,” imbuhnya. (rah/b)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy