Strategi Menghadapi Virus Korona, Oleh: Prof. Nasronudin – Kendari Pos
Opini

Strategi Menghadapi Virus Korona, Oleh: Prof. Nasronudin

Oleh: Prof. Nasronudin, dr. SpPD KPTI FINASIM

KENDARIPOS.CO.ID — Sepekan ini, kita dikagetkan kabar bahwa virus korona telah menginfeksi dua warga negara Indonesia. Sebelum ada kabar tersebut, masyarakat sudah bereaksi berlebihan yang ditunjukkan dengan mengenakan masker di mana pun berada. Masyarakat ramai-ramai membeli masker sehingga harga masker melambung tinggi di atas kewajaran. Keadaan itu berpotensi berdampak kurang baik bagi sektor ekonomi maupun pariwisata. Meskipun pemerintah berusaha mengeluarkan kebijakan-kebijakan untuk meredam dampak negatif, kepanikan masyarakat tak bisa dihindari.

Apa hal perlu kita ketahui tentang virus korona yang sedang mewabah di dunia? Bagaimana cara menghadapinya? Virus korona atau Covid-19 termasuk virus RNA yang menginfeksi manusia melalui beberapa fase. Mulai menginfeksi binatang, penularan dari binatang ke manusia, penularan dari manusia ke manusia, hingga penyebarluasan infeksi oleh virus korona. Penularan dari manusia ke manusia hakikatnya terjadi melalui percikan batuk, bersin, bersentuhan dengan pengidap virus korona, serta dapat juga terjadi melalui kontak benda-benda di sekitar penderita yang terpapar virus korona.

Beberapa keadaan berisiko tinggi terinfeksi oleh virus korona antara lain pengidap penyakit kencing manis, penyakit hati kronis, penyakit gagal ginjal kronis, autoimun, kanker, HIV/AIDS, dan sedang mengonsumsi obat penekan kekebalan tubuh. Beberapa keadaan tersebut memicu menurunnya kekebalan tubuh. Seseorang yang tidak mengalami keadaan itu, tetapi berpotensi terjadi penurunan kekebalan tubuh, termasuk yang mudah mengalami kecemasan, ketakutan, dan kegelisahan yang berlebihan. Tiga hal tersebut dapat menjadi stresor bagi tubuh manusia yang menginduksi terjadinya peningkatan produksi dan sekresi mediator arginin, vasopresin, dan lain-lain.

Mediator tersebut akan mengalir ke hipotalamus, lalu dibawa ke otak bagian depan memacu kelompok sel khusus yang disebut proopiomelanocortin (POMC). Kelompok sel khusus itu memproduksi tiga buah hormon, salah satunya adenocorticotropin hormon (ACTH). Setelah masuk ke dalam aliran darah, hormon tersebut memengaruhi kelenjar anak ginjal yang memproduksi hormon kortisol. Hormon itu akan menekan sel ketahanan tubuh, termasuk limfosit dan makrofag, sehingga sel ketahanan tubuh tersebut makin terdesak memicu penurunan kekebalan tubuh. Situasi tersebut sangat rentan terhadap paparan mikroorganisme, termasuk virus korona.

Guna mengatasi situasi yang kurang menguntungkan itu, diperlukan ketenangan dalam menghadapi setiap stresor (pemicu), termasuk kehadiran virus korona. Ketenangan akan membawa kekebalan tubuh manusia dalam posisi stabil sehingga punya daya tangkal untuk menghadapi virus korona. Mengingat persebaran virus korona ini begitu cepat, diperlukan kewaspadaan dari kita. Kewaspadaan penting untuk mengantisipasi potensi terjadinya paparan virus korona. Perlu menjaga kesehatan tubuh melalui budaya pola hidup sehat: cukup istirahat, mengonsumsi makanan dan minuman sehat, dan menambah multivitamin serta multimineral trace element untuk menjaga stabilitas kekebalan tubuh agar tetap kukuh.

Selain itu perlu menjaga kebersihan diri dengan mencuci tangan menggunakan air dan sabun maupun hand rub. Juga menjaga kebersihan lingkungan, termasuk melakukan penyemprotan menggunakan larutan klorin atau kaporit 0,1 persen. Hal penting yang juga perlu dilakukan ialah memanfaatkan sinar matahari. Sebab, sinar ultraviolet dalam sinar matahari mampu membunuh virus korona. Pada situasi terjadi potensi kejadian luar biasa akibat virus korona, bila memungkinkan menghindari kerumunan orang. Bila tidak mungkin dihindari, sebaiknya mengenakan masker.

Jika seseorang baru pulang dari daerah endemis Covid-19, sebaiknya yang bersangkutan memeriksakan secara aktif apakah ada tanda-tanda infeksi atau tidak. Tanda-tanda infeksi tersebut: panas badan, batuk, pilek, nyeri tenggorokan, dan sesak napas. Keadaan itu perlu dimotivasi masuk rumah sakit untuk dipastikan terinfeksi korona atau tidak. Seseorang yang mengidap virus korona perlu diisolasi. Tujuan dilakukannya isolasi adalah untuk membatasi penularan dan dilakukan penatalaksanaan sebagaimana mestinya. Diberikan nutrisi tinggi kalori (nasi dalam jumlah cukup); tinggi protein (daging, telur, ikan, dan lauk-pauk lainnya); ditambahkan multivitamin, multimineral, dan trace element untuk meredam radikal bebas berlebihan yang terbentuk akibat infeksi korona.

Bepergian ke luar negeri, terutama ke daerah endemis Covid-19, sebaiknya ditangguhkan. Tetapi, bila memang mendesak dan tidak dapat dihindari, seyogianya mempersiapkan diri agar kekebalan tubuh tetap terjaga dengan baik. Kebijakan yang dilakukan pemerintah sudah sangat tepat sesuai dengan anjuran WHO. Pemerintah telah berusaha melindungi warga negaranya di mana pun berada, melakukan observasi ketat bagi yang berisiko tinggi, serta melakukan berbagai komunikasi, pemberian informasi, dan edukasi seputar infeksi Covid-19. Pemerintah juga telah melakukan tindakan tepat dengan merawat pasien di RS. Pemerintah juga telah menunjuk 100 RS untuk memberikan perawatan Covid-19. Namun, pada prinsipnya, seluruh RS harus siap untuk memberikan pelayanan Covid-19. (*)

*Penulis adalah Ketua Indonesian State University Hospital Association. Direktur Rumah Sakit Universitas Airlangga

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy