SDM Berkarakter dan Berkualitas, Oleh: Dr. Hj. Dewi Maharani, S.IP., M.Si – Kendari Pos
Opini

SDM Berkarakter dan Berkualitas, Oleh: Dr. Hj. Dewi Maharani, S.IP., M.Si

Dr. Hj. Dewi Maharani, S.IP., M.Si

KENDARIPOS.CO.ID — Di era globalisasi yang ditandai kemajuan informasi dan teknologi, memberikan banyak perubahan dan tekanan di segala bidang. Dunia pendidikan yang secara filosofis dipandang sebagai alat mencerdaskan dan membentuk watak manusia (supaya lebih humanis), sekarang sudah mulai bergeser atau disorientasi. Demikian terjadi, salah satunya dikarenakan kurang siapnya pendidikan kita mengikuti perkembangan zaman yang begitu cepat. Sehingga, pendidikan mendapat krisis kepercayaan dari masyarakat. Lebih ironisnya lagi, pendidikan sekarang sudah masuk dalam krisis pembentukan karakter (kepribadian). Pendidikan bagi kehidupan manusia merupakan kebutuhan primer yang harus dipenuhi sepanjang ayat. Tanpa pendidikan, mustahil suatu kelompok manusia dapat hidup berkembang dengan cita-cita untuk maju, sejahtera, dan bahagia.

Dalam pengertian sederhana, pendidikan dimaknai sebagai usaha sadar manusia untuk menumbuhkan dan mengembangkan potensi-potensi pembawaan, baik jasmani maupun rohani sesuai dengan nilai-nilai yang ada di dalam masyarakat dan agama. Pendidikan bertujuan tidak sekadar proses alih budaya atau alih ilmu pengetahuan (transfer ofknowledge), tapi juga sekaligus proses alih nilai (transfer of value). Artinya, bahwa pendidikan, disamping proses pertalian dan transmisi pengetahuan, juga berkenaan dengan proses perkembangan dan pembentukan kepribadian masyarakat. Dalam rangka internalisasi nilai-nilai budi pekerti kepada peserta didik, maka perlu adanya optimalisasi pendidikan. Perlu kita sadari, fungsi pendidikan nasional adalah mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Bertujuan untuk berkembanganya potensi peserta didik agar menjadi manusia beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlakul karimah, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Pendidikan juga dipandang sebagai sebuah sistem sosial. Artinya dikatakan sistem sosial, disebabkan di dalamnya berkumpul manusia saling berinteraksi dengan lingkungannya. Untuk menuju pada pendidikan yang dapat beradaptasi dengan lingkungannya. Yaitu, dengan cara melakuakan perubahan-perubahan susunan dan proses dari bagian yang ada dalam pendidikan. Sehingga, pendidikan sebagai agen perubahan sosial diharapkan peranannya mampu mewujudkan perubahan nilai sikap, moral, pola pikir, perilaku intelektual, keterampilan, dan wawasan peserta didik sesuai dengan tujuan pendidikan. Moral merupakan belief sistem bersisikan tata nilai dan menjadi pedoman bagi kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, moralitas akan berjalan paralel dengan budaya masyarakat. Mengingat budaya merupakan refleksi tata nilai masyarakat yang beraneka ragam coraknya, menjadikan budaya itu pun beraneka ragam. Itulah sebabnya, diskursus tentang moral sejak lama telah melahirkan paham-paham berbeda.

Dalam kajian historis, telah lama terjadi perdebatan panjang antara paham moral relative dengan moral absolute. Kelompok pertama dimotori oleh Hegel, sedangkan kelompok kedua dimotori oleh Arthur Schopenhauer.Bagi kaum Hegelian, nilai adalah relatif, karena berkenaan dengan kesadaran kelompok manusia melalui dialektika yang panjang, berawal dari tesa, antitesa, dan sintesa. Kelak pun sintesa yang ditemukan akan berproses menjadi tesa baru. Titik akhir pencarian kebenaran bagi kelompok ini adalah ketika tercipta kesadaran akan sebuah kebenaran, yang merupakan kebutuhan bersama.

Karena sifatnya universal, moralitas akan berlaku untuk seluruh kehidupan pada berbagai budaya dan tradisi masyarakat. Perbedaan antara dua paham di atas sesungguhnya, hanya persoalan perspektif saja. Yang pertama berkenaan dengan praksis moral dalam kehidupan masyarakat yang mau tidak mau pasti bersinggungan dengan budaya (whatitis). Sedangkan kedua berkenaan dengan idealism moralitas yang seharusnya terjadi dalam relasi kehidupan (whatshouldbe). Akan tetapi menjadi sebuah realitas di masyarakat, bahwa moralitas lebih cenderung mengikuti dinamika budaya, ketimbang sebaliknya.

Itulah sebabnya, sejarawan Inggris Arnold J. Toynbee memberikan warning persoalan ini, melalui teorinya: Radiasi Budaya. Inti dari teori tersebut, bahwa keberadaan beraneka budaya di muka bumi ini saling memberikan imbas dan intervensi. Intervensi paling mudah dilakukan adalah pada aspek budaya yang kandungan nilainya rendah. Sedangkan sebaliknya akan sulit dilakukan intervensi dari satu budaya ke budaya lainnya pada aspek budaya yang kandungan nilainya tinggi. Dalam konteks inilah, betapa kemudian konservasi moral memiliki makna dalam. Moralitas masyarakat yang berbasiskan nilai dan budaya luhur bangsa, hendaknya dilindungi, dipelihara, dan diberdayakan secara bijak, untuk menjadi pedoman kehidupan masyarakat.

Manakala disebut salah satu atribut di atas dari seseorang, maka sebutan itu terkait dengan masalah moralitas. Namun padanan kata yang sering digunakan untuk moralitas ini adalah etika. Bahkan, kedua kata ini lazim dijadikan sebagai sinonim antara sesamanya. Meskipun secara etimologis istilah moral mengandung arti adat istiadat, kebiasaan, atau cara hidup, namun secara substantif tidak sekadar bermakna tradisi kebiasaan belaka, melainkan berkenaan dengan baik buruknya manusia sebagai manusia. Dengan kata lain, moralitas ini merupakan tolok ukur untuk menentukan betul salahnya sikap dan tindakan manusia dilihat dari sisi baik-buruknya sebagai manusia dan bukan sebagai pelaku peran tertentu. Dengan demikian moral mengandung muatan nilai dan norma yang bersumberkan pada hati nurani manusia.

Orang bermoral, memenuhi ketentuan kodrat yang tertanam dalam dirinya. Pengejawantahannya adalah mulai dari munculnya kehendak yang baik sampai kepada adanya tingkah laku dan tujuan baik pula. Predikat moral mensyarakat akan adanya kebaikan berkesinambungan. Meskipun kebenaran tata nilai bersifat relatif antar beberapa kelompok masyarakat, namun kebenaran moralitas lebih bersifat universal. Hal ini dikarenakan pada karakteristik moral itu sendiri yang bersumber pada suara hati nurasi manusia. (*)

Penulis adalah Dosen Pascasarjana Universitas Majalengka

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Most Popular

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy