Rupiah Babak Belur Dihantam Dolar AS, 1 Dolar Setara Rp 15.172 – Kendari Pos
HEADLINE NEWS

Rupiah Babak Belur Dihantam Dolar AS, 1 Dolar Setara Rp 15.172

KENDARIPOS.CO.ID — Rupiah melemah di level Rp 15.172 per dollar AS pada penutupan perdagangan, Selasa (17/3). Angka ini turun tajam 240 poin atau 1,61 persen dibanding penutupan Senin yang berada di level Rp 14.932 per dolar AS. Pengamat Ekonomi Sulawesi Tenggara (Sultra), Dr. Syamsir Nur mengatakan rupiah terdepresiasi disebabkan adanya kekhawatiran pelaku di pasar uang akibat pandemi Virus Corona Disease 2019 (Covid-19). “Pelemahan rupiah akibat Covid-19 karena ada kelesuan aktivitas di pasar uang termasuk di pasar modal. Corona telah menjadi sentimen negatif atas melemahnya nilai tukar rupiah belakangan ini,” ujar Syamsir Nur, Selasa (17/3).

Dosen Fakultas Ekonomi Bisnis (FEB) Universitas Halu Oleo itu menyebut, sentimen Corona telah menyebabkan ekspektasi pasar yang buruk dan membuat aktivitas pasar modal terganggu. Kata dia, penguatan rupiah hanya bisa terjadi melalui intervensi pemerintah melalui Bank Indonesia (BI). Kondisi nilai tukar rupiah sangat tergantung pada kekhawatiran atas Corona dan sejauh mana pemerintah mampu melakukan intervensi.

Sebelumnya pada 20 Februari 2020, BI telah menurunkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 4,75 persen. Dr. Syamsir menilai, penurunan suku bunga kembali saat ini tidak menjadi opsi yang bisa menguatkan rupiah. Sebab, nilai tukar rupiah juga tergantung dari sektor riil atau dunia usaha di mana saat ini memang mengalami kelesuan.

“BI tentu akan mencermati kondisi yang ada sembari berkoordinasi dengan pemerintah dalam hal ini Kementerian Keuangan. Penurunan suku bunga dimaksudkan untuk menggairahkan aktivitas usaha terutama kegiatan investasi yang diharapkan akan menguatkan rupiah. Tapi penurunan suku bunga juga tidak serta merta mampu menguatkan rupiah,” terang doktor alumni Universitas Brawijaya Malang itu Bidang Keuangan Publik itu.

Saat ini, kata Dr.Syamsir, pemerintah sedang mengalami kesulitan. Pelemahan rupiah tidak dapat dihindari karena disebabkan gejolak eksternal. “Tentu pemerintah sulit mengontrol. Ini bersifat unpredictible (tidak tertebak). Akan berbeda situasinya jika penyebabnya adalah gejolak domestik,” pungkasnya.

Selain rupiah, gejolak juga dirasakan pada perdagangan efek (saham). Melansir laman resmi Bursa Efek Indonesia (BEI), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 233,908 poin atau 4,987 persen ke posisi 4.456,75 pada penutupan perdagangan saham, Selasa (17/3). Saham Jakarta Islamic Index (JII) diketahui melemah 30,94 poin ke posisi 452,13 dari sebelumnya 483,07. Sementara itu, indeks saham LQ45 melemah 48,29 poin ke posisi 683,66.

Selama perdagangan, IHSG berada di posisi tertinggi pada level 4.690,66 dan terendah 4.447,96. Total frekuensi perdagangan saham 387.838 kali dengan volume perdagangan 4.837 miliar saham dan nilai transaksi harian saham Rp 7,02 triliun. Adapun saham-saham yang melemah dan mendorong IHSG terperosok di antaranya TLKM yang turun 220 poin ke 2.940 per lembar saham, TKIM melemah 400 poin ke Rp 5.325 per saham dari yang sebelumnya Rp 5.725, dan GGRM melemah 2.725 poin menjadi Rp 36.450 per saham. Sedangkan saham yang menguat antara lain APEX naik 35 poin ke Rp 170 per saham, ARKA naik 355 poin ke Rp 1.775 per saham, dan PNSE naik 92 poin ke Rp 466 per saham. Daftar 10 top losers saham rata-rata melemah tujuh persen.

Sementara itu, Kepala Riset PT Monex Investindo Futures, Ariston Tjendra mengatakan, saat ini investasi aset-aset berisiko masih tertekan. Bahkan semalam Wall Street jatuh dalam lebih dari 12 persen. “Kekhawatiran pasar terhadap penyebaran wabah korona masih tinggi,” ujarnya kepada JawaPos.com, Selasa (17/3). Di sisi lain, pagi kemarin Indeks Nikkei bergerak positif. S&P Futures juga demikian. “Mungkin berita persiapan stimulus dari pemerintah AS membantu mengangkat sentimen sebagian pelaku pasar,” terangnya.

Ariston menyampaikan, pemerintah AS masih bernegosiasi dengan Senat untuk menggelontorkan paket stimulus yang lebih besar. Pemerintah Selandia Baru juga merilis stimulus NZD12,1 miliar pagi ini. Bank Sentral Australia juga mempersiapkan stimulus moneter lanjutan.
Pihaknya memperkirakan, rupiah masih berpotensi tertekan karena kekhawatiran penyebaran virus korona. Namun sentimen stimulus AS bisa membantu menahan pelemahan rupiah. “Potensi rupiah saat ini rentang 14.800-15.100,” ujar Ariston Tjendra.

Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan tekanan akibat pandemi Covid-19 di Indonesia diprediksi akan berlangsung hingga ke kuartal kedua dan diprediksi akan terjadi masa puncak penyebaran virus corona di bulan Mei 2020 di mana bersamaan dengan bulan puasa dan Idul Fitri,” ujarnya di Jakarta. Di samping itu, lanjut Ibrahim, penanganan rumah sakit yang belum siap menampung pasien COVID-19 juga menjadi alasan pasar kecewa terhadap pelaksanaan di lapangan yang tidak sesuai dengan pengarahan oleh pemerintah. (uli/b/jpg/jpnn)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy