Produksi Padi Sultra Menurun 19,17 Ribu Ton – Kendari Pos
Ekonomi & Bisnis

Produksi Padi Sultra Menurun 19,17 Ribu Ton

Hamparan sawah yang terletak di lereng pegunungan di Kecamatan Kapontori, Kabupaten Buton

KENDARIPOS.CO.ID — Luas panen padi di Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) pada 2019 diperkirakan sebesar 132,34 ribu hektar atau mengalami penurunan sebanyak 4,33 ribu hektare (3,17 persen) dibandingkan tahun 2018. Sementara produksi padi diperkirakan sebesar 519,71 ribu ton gabah kering giling (GKG) atau mengalami penurunan sebanyak 19,17 ribu ribu ton (3,56 persen) dibandingkan tahun 2018. Jika dikonversikan menjadi beras untuk konsumsi pangan penduduk, produksi beras di Sultra pada 2019 sebesar 296,92 ribu ton atau mengalami penurunan sebanyak 10,95 ribu ton (3,56 persen) dibandingkan tahun 2018.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sultra, Moh Edy Mahmud mengatakan, berdasarkan hasil survei menggunakan Kerangka Sampel Area (KSA), pola panen padi di Sultra pada periode Januari sampai dengan Desember 2019 relatif sama dengan tahun 2018. Luas panen padi tertinggi terjadi pada bulan Mei yaitu 20,87 ribu hektare sedangkan luas panen terendah terjadi pada bulan Maret yang hanya 3,93 ribu hektare.

“Produksi tertinggi pada 2019 terjadi pada bulan Oktober yaitu sebesar 85,63 ribu ton dan produksi terendah terjadi pada bulan Maret sebesar 15,70 ribu ton,” ungkap Edy Mahmud saat konferensi pers di Ruang Vicon Lantai 3 BPS Sultra, kemarin.

Lanjut dia, tiga daerah dengan produksi padi tertinggi pada tahun 2018 dan 2019 adalah Kabupaten Konawe, Kolaka Timur (Koltim), dan Konawe Selatan (Konsel). Namun, pada 2019 terjadi penurunan produksi pada tiga kabupaten tersebut dibandingkan produksi 2018. Kenaikan produksi padi tahun 2019 yang relatif besar terjadi di Kabupaten Bombana, Kota Baubau, dan Kabupaten Konawe Utara (Konut). Sementara itu, penurunan produksi padi tahun 2019 yang relatif besar terjadi di Kabupaten Konawe, Koltim, Konsel, dan Kolaka. Penurunan produksi padi di wilayah tersebut disebabkan banjir bandang yang menyebabkan puluhan ribu hektar sawah mengalami gagal panen.

Ia menjelaskan, BPS telah melakukan penyempurnaan metodologi dalam menghitung produktivitas per hektar dengan mengganti metode ubinan berbasis rumah tangga menjadi metode ubinan berbasis sampel KSA. Penggunaan basis KSA bertujuan mengurangi risiko lewat panen sehingga perhitungan menjadi lebih akurat. Penentuan lokasi sampel ubinan yang sebelumnya dilakukan secara manual, kini menggunakan aplikasi berbasis android. “Pelatihan secara berjenjang juga telah dilakukan untuk meningkatkan kualitas petugas ubinan. Selain itu, telah dikembangkan pula metode pengolahan data ubinan berbasis web dan software untuk pengecekan data pencilan sehingga dapat meningkatkan kualitas data yang dihasilkan,” tutup Edy. (uli/b)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy