Peran Praktisi Kesehatan Masyarakat Menghadapi Covid-19, Oleh: Nurul Syahriani Salahuddin, SKM., M.Kes – Kendari Pos
Opini

Peran Praktisi Kesehatan Masyarakat Menghadapi Covid-19, Oleh: Nurul Syahriani Salahuddin, SKM., M.Kes

Nurul Syahriani Salahuddin, SKM., M.Kes

KENDARIPOS.CO.ID — Corona merupakan ancaman bagi kesehatan masyarakat. Diperlukan upaya promotif dan preventif dalam menghadapinya. Akhir tahun 2019, dunia diguncangkan dengan COVID 19(Corona Virus Deseases 19)yang pertama kali ditemukan di Wuhan, China. WHO (World Health Organization) telah menyatakan bahwa status infeksi virus corona ini sebagai fenomena outbreak atau Kejadian Luar Biasa (KLB). Saat ini, total kasus yang terkonfirmasi COVID-19 secara global per 20 Februari 2020 adalah 75.748 kasus, 74.675 kasus diantaranya dilaporkan dari Cina (tersebar di 34 wilayah termasuk Hong Kong SAR, Macau SAR, dan Taipei), dengan 83% kasus dari Cina berasal dari Provinsi Hubei. Total kematian 2.129 kasus (CFR 2,8%), 2.121 diantaranya dilaporkan dari Cina.

Rilis dari CDC (Centers for Disease Control and Prevention), coronavirus diduga bersifat zoonosis, yaitu mulanya ditularkan melalui hewan. Hal ini disebabkan karena dari susunan genetik virusnya yang masih satu famili dengan SARS, yang inangnya adalah jenis musang dan mamalia yang sejenis; serta MERS, yang ditularkan melalui perantara hewan ternak khususnya unta. Banyak sekali jenis coronavirus yang telah diketahui oleh peneliti, dan yang diketahui menginfeksi manusia baru enam jenis termasuk 2019-nCov, SARS, dan MERS dengan karakteristiknya masing-masing.

Meski diduga berasal dari hewan, coronavirus ini diperkirakan telah melewati serangkaian mutasi pada dirinya sehingga bisa menginfeksi manusia. COVID 19 ini menyerang organ pernapasan atas maupun bawah, menempel pada lapisan saluran napas mulai hidung, tenggorokan, sampai paru. Dalam beberapa kasus, infeksi ini dapat tanpa gejala atau hanya seperti flu biasa. Namun mengingat masa inkubasi penyakit ini sekitar 2 sampai 14 hari, maka dalam rentang waktu ini kondisi tubuh perlu dicermati. Virus ini ditularkan antar manusia melalui udara dari batuk atau bersin, kontak kulit, atau setelah memegang tempat yang terpapar virus.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melalui direktur jenderal Tedros Adhanom Ghebreyesus dalam liputan 6.com mengatakan, vaksin pertama untuk virus corona baru dapat tersedia 18 bulan kedepan. Selain itu dalam akun twitter dia juga menyampaikan bahwa “ada banyak hal yang dapat kita lakukan untuk mencegah penularan dan bersiap untuk penyebaran lebih lanjut,”. Dalam upaya pencegahan penularan virus corona di Indonesia sebagai seorang yang konsen di bidang kesehatan masyarakat, kita perlu melakukan berbagai tindakan promotif dan preventif. Tindakan-tindakan promotif dan preventif diantaranya menghentikan penyebaran informasi yang tidak benar (hoaks) terkait COVID 19 dengan menyebarkan informasi yang benar dari media-media yang terpercaya, mengikuti perkembangan informasi COVID 19 melalui media cetak ataupun elektronik.

Selain itu, mengajak masyarakat untuk berperilaku hidup bersih dan sehat melalui penyuluhan-penyuluhan cara mencuci tangan yang benar menggunakan sabun dan air mengalir, mengedukasi masyarakat untuk tetap bersikap positif kepada warga negara Indonesia (WNI) yang dievakuasi, serta membuka forum-forum diskusi bersama civitas akademika atau praktisi kesehatan yang kompeten dibidang ini. Pencegahan lainnya dapat dilakukan dengan memutus mata rantai penularannya, hilangkan/lemahkan/kendalikan agent virusnya, perkuat imunitas populasi, hilangkan/hindari vektor penularannya. Hal ini merupakan prinsip dasar pencegahan corona yang dikemukakan Prof. Dr. Ridwan Amiruddin, SKM., M.Kes, M.Sc.PH, guru besar epidemiologi FKM Unhas melalui media online Rakyat News.

Menurut Emanuel Melkiades Laka Lena (Wakil Ketua Komisi IX DPR RI), Komisi IX DPR RI mendesak Kementrian Kesehatan RI melakukan sosialisasi secara masif dan intensif dengan melakukan komunikasi, informasi dan edukasi terakit upaya promotif dan preventif virus 2019-nCoV sehingga masyarakat mendapatkan pembaruan informasi yang benar, jelas dan tepat. Kemudian, komisi IX DPR RI mendesak Kemenkes untuk terus meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi penyakit infeksi baru (emerging disease) terutama virus 2019 n-CoV dalam upaya deteksi dini, upaya pencegahan dan upaya respon secara holistic baik dari regulasi, kesiapan, fasilitas pelayanan kesehatan dan sarana prasarana serta tenaga medis dan tenaga kesehatan.

Selain itu, upaya lain yang dilakukan oleh praktisi kesehatan masyarakat adalah menjadi penggerak untuk dilakukannya konvergensi atau kemitraan (partnership)dalam hal ini keterlibatan semua kementrian diluarkementrian kesehatan dan lembaga terkait serta pemerintah daerah dalam upaya perlindungan kesehatan WNI baik di dalam maupun di luar negeri terkait virus corona. Seperti yang dikutip dari buku healthy cities yang ditulis oleh Prof. Sukri Palutturi, SKM., M.Kes., MSc.PH, PhD dan juga merupakan guru besar administrasi kebijakan kesehatan FKM Unhas“kemitraan (partnership) secara internasional dianggap sebagai cara yang efektif untuk menyelesaikan berbagai masalah kesehatan”. (*)

*Penulis adalah Program Doktoral FKM Unhas. Dosen di Prodi Kesehatan Masyarakat Institut Teknologi dan Kesehatan Avicenna

2 Comments

2 Comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy