Pengamat Ekonomi : Corona Bikin Rupiah Melemah dan Ekspektasi Pasar Memburuk – Kendari Pos
Metro Kendari

Pengamat Ekonomi : Corona Bikin Rupiah Melemah dan Ekspektasi Pasar Memburuk

KENDARIPOS.CO.ID — Dampak Corona Virus Desease (Covid-19) terhadap perekonomian nasional kian terasa. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus mengalami pelemahan. Berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) yang dirilis Bank Indonesia pada Kamis (19/3) kemarin, rupiah tercatat berada di level Rp 15.712 per dolar AS atau lebih rendah dari posisi sehari sebelumnya yang berada di level Rp 15.233. Merespons ketidakpastian lebih lanjut perekonomian global terutama menghadapi pandemi¬†korona, Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk menurunkan suku bunga acuan BI 7-Day Reverse Repo Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 4,5 persen.

“Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 18 dan 19 Maret 2019 memutuskan untuk menurunkan BI 7-Day Reverse Repo Rate sebesar 25 basis poin menjadi 4,5 persen,” kata Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers via live streaming, Kamis (19/3). Pengamat Ekonomi Sulawesi Tenggara (Sultra), Dr.Syamsir Nur mengatakan korona telah menyebabkan ekspektasi pasar yang buruk. Ia menilai penurunan suku bunga oleh BI sebagai langkah yang tepat untuk memantik geliat sektor riil. Kebijakan tersebut dapat berakibat pada ekspansi ekonomi di mana perputaran bisnis di sektor riil bisa tumbuh sehingga rupiah bisa kembali menguat.

“Ketika suku bunga turun, para pengusaha ramai-ramai melakukan pinjaman. Ini diharapkan bisa menumbuhkan geliat ekonomi. Di Sultra, usaha mikro kecil menengah (UMKM) merupakan sektor alamiah yang menopang ekonomi daerah saat ini,” ujar Dr.Syamsir Nur kepada Kendari Pos, Kamis (19/3).

Namun, persolan lain akan muncul jika suku bunga terus diturunkan. Dolar AS akan semakin menguat dan rupiah semakin terdepresiasi. Posisi Indonesia, kata dia, memang sedang sulit sebab gejolak eksternal. Dijelaskannya, dalam ketidakpastian seperti saat ini rupiah memang akan sulit bangkit. Korona telah menyebabkan kontraksi ekonomi terutama pada demand side (sisi permintaan) yang juga terkait dengan kegiatan ekspor dan impor. Dari sisi supply (penawaran), sektor yang berkaitan langsung dengan masyarakat seperti perdagangan besar dan eceran akan mengalami perlambatan. Termasuk sektor-sektor alamiah Kota Kendari seperti hotel, restoran, dan pariwisata.

Sektor paling fundamental dalam membentuk perekonomian secara regional akan sangat terdampak. Oleh karena itu, pemerintah daerah harus memastikan kontinuitas supply dan keterjangkauan harga sebab ada kemungkinan terjadi kelangkaan sejumlah barang kebutuhan sehingga harga melambung tinggi. Menurut Dr.Syamsir Nur, dari sisi ekonomi, penduduk berpendapatan rendah akan lebih merasakan dampak jika terjadi kelangkaan dan kenaikan harga kebutuhan pokok. Pemerintah daerah (Pemda) perlu melakukan mitigasi. Salah satunya dengan memastikan bahwa bahan pokok tersedia di pasar. “Perlu ada bantuan langsung yang sifatnya jangka pendek. Program charity (kemanusiaan) bisa menjadi alternatif penyaluran bantuan. Misalnya melalui mekanisme zakat dan infak,” imbuh dosen Fakultas Ekonomi Bisnis (FEB) Universitas Halu Oleo (UHO) itu.

Selain itu, dalam enam bulan ke depan Pemda juga bisa membebaskan pajak dan retribusi daerah terutama yang bersentuhan dengan UMKM. Langkah BI dari sisi moneter harus didukung dengan kebijakan fiskal dari Pemda. “Dari pemerintah pusat sudah menurunkan PPh 21 dan PPh 25. Bagi kita di daerah, salah saru yang bisa dilakukan adalah menunda beberapa komponen pajak dan retribusi daerah yang bisa memantik tumbuhnya kembali geliat sektor UMKM,” terang Dr.Syamsir Nur.

Sudah saatnya pemerintah di seluruh kabupaten/kota Sultra mengoptimalkan potensi daerah. Mendorong produksi barang yang selama ini berstatus substitusi impor. Impor terhadap kebutuhan konsumsi harus dibatasi.

“Pemerintah tidak boleh hanya berhenti pada mitigasi dalam jangka pendek. Sudah saatnya kita mengembangkan potensi ekonomi yang bisa menggantikan komoditas impor. Kalau sebelumnya kita hanya mengandalkan sektor tambang maka harus diubah. Misalnya sektor-sektor berbasis pertanian,” tuturnya.

Ia juga mengkhawatirkan dampak jika diterapkan kebijakan lock down. Distribusi barang akan terganggu dan daya beli masyatakat akan menurun. Apalagi kini sedang menghadapi hari besar keagamaan. Jika lock down tidak diikuti dengan kepastian distribusi barang, maka akan terjadi inflasi yang tinggi. “Kalau Jakarta lockdown maka Sultra juga akan terdampak. Kita ini negara kepulauan,” ucapnya.

Menurutnya, ada tiga hal yang harus dilakukan pemerintah daerah maupun pemerintah pusat. Pertama, meningkatkan koordinasi soal kondisi perekonomian terutama memastikan kontinuitas permintaan dan penawaran. Kedua, memastikan kelancaran distribusi barang antar daerah. Ketiga, memastikan harga-harga terjangkau. “Saat ini daya beli rendah, pendapatan tidak menentu. Antara kebijakan pemerintah pusat maupun daerah harus saling mendukung,” pungkasnya. (uli/b)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy