Menjadi Konsumen Terdidik, Oleh: Prof. Hanna – Kendari Pos
Kolom

Menjadi Konsumen Terdidik, Oleh: Prof. Hanna

KENDARIPOS.CO.ID — Saya di telepon teman di Surabaya. Dia berkeliling mencari beberapa kebutuhan sehari-hari di mal-mal. Namun kebutuhan itu sudah tidak ada. Demikian juga teman-teman dari beberapa kota lain. Mungkin kebutuhan mereka berbeda tetapi paling tidak mereka ingin membeli kebutuhan. Mungkin fenomena itu adalah panic buying atau golden moment.

Panic buying ini kalau tidak salah ingat, saya pernah membaca di sebuah majalah seorang penjual memasang sebuah banner mengumumkan harga akan naik.Konsumen terkaget-kaget dan tanpa pikir panjang tergerak membeli produk yang ditawarkan.

Model panic buying ini rata-rata ada pada produk properti dan promo produk di mal-mal. Hasilnya memang mendongkrak penjualan. Panic buying adalah bentuk dari respons customer secara psikologis yang mendorong kebutuhan konsumsi segera meski produk yang ditawarkan bukanlah prioritas pokok dan utama. Penawaran harga bombastis sebuah merek yang kredibel menyebabkan konsumen berpikir kinilah saatnya golden moment transaksi pembelian dilakukan, meski produk yang dibeli tidak langsung dinikmati secara bersamaan.

Teori kebutuhan Maslow menjadi rujukan setiap produsen membidik sasaran produknya antara lain kebutuhan fisiologis yang perlu dipenuhi untuk memenuhi kebutuhan hidup, kebutuhan rasa aman dan keamanan, dengan cara meproteksi diri dari gangguan fisik dan emosi. Hampir semuanya karyawan tergantung pada organsasinya sehubung dengan ketentraman, supervisi, keputusan-keputusan yang berkaitan dengan pekerjaannya.

Selain itu, kebutuhan sosial dan berteman, berinteraksi, dicintai, dan mencintai, serta diterima dalam pergaulan kelompok pekerja dan masyarakat lingkungannya. Lalu, kebutuhan akan penghargaan diri mencakup kebutuhan untuk mencapai kepercayaan diri, prestasi, kompetensi, pengetahuan, penghargaan diri, dan kebebasan serta independensi (ketidak ketergantungan).

Terakhir, kebutuhan aktualisasi diri berupa kebutuhan individu merealisasi potensi yang ada pada dirinya secara berkelanjutan yang berupa kemampuan, keterampilan, dan potensi optimal untuk mencapai prestasi kerja yang sangat luar biasa.

Sebagai produsen yang memahami psikologi pasarnya tentu menjadikan ini sebagai satu kekuatan dan peluang mempermainkan kondisi untuk memengaruhi pasar dalam membeli produknya, karena secara psikologi jika kelima kebutuhan dasar tersebut tidak dimiliki oleh masyarakat atau setiap individu maka kebutuhannya dianggap tidak terpenuhi.

Lalu bagaimana dengan konsumennya?
Hemat saya, konsumen yang tersihir dengan kemampuan memengaruhi para marketing melalui iklan yang menyebabkan panic buying, maka bisa dikatakan konsumen keliru. Adapun penjual atau pemasar yang mengeluarkan iklan benar-benar mempengaruhi pembeli secara psikologis agar memaksa dirinya untuk tidak berpikir panjang menetapkan pembelian produk.

Contoh, masker yang selama ini tidak ada apa-apanya dan bukan merupakan satu produk yang sangat penting. Namun setelah kasus Corona viral, justru ia mengambil peluang (golden moment) bahwa satu-satunya penangkal virus corona adalah masker. Konsekuensi dari itu, masker menjadi produk yang sangat dibutuhkan. Orang rela antri membeli masker. Masker pun habis, sehingga muncul inovasi baru, membuat masker dari tisu, membuat masker dari beberapa kertas yang mungkin tidak higienis.

Mengapa seperti itu ? Karena dalam pikiran kita bahwa corona itu mematikan. Perlu kita pahami bahwa waspada dan berusaha itu adalah jalan yang terbaik, tetapi jika berpikir corona menyebabkan kematian mungkin sebaiknya lupakan itu.

Kalau berpikir matang dan rasional maka yang ada dalam pikiran kita adalah, corona hanyalah virus bukan penyebab kematian. Karena kehidupan terdiri atas periode produksi dan konsumsi, maka produsen tidak pernah berhenti akan menggoda rasionalitas konsumen untuk membeli produknya dan itu tidak bisa dipersalahkan.

Oleh karena itulah, pembeli bijak memilah kebutuhan atas prioritas pemenuhan tanpa dipengaruhi oleh produsen. Hakikat ekonomi adalah terbatasnya sumber daya yang dimiliki dalam memenuhi seluruh kebutuhan serta keinginan sekaligus. Seringnya rasionalitas pembeli diganggu secara psikologis oleh produsen dengan berbagai pendekatan. Pola dasar yang efektif bermain kebimbangan pembeli adalah tawaran potongan harga.

Penjual semacam ini terkesan tidak pantas digunakan walaupun tidak salah, karena secara halus mereka meminta konsumen membeli, dengan asumsi jika tak membeli berarti kesempatan untuk memiliki produk terlewatkan, sehingga barang yang diinginkan dengan harga lebih rendah sudah tidak ada lagi. Meski kesannya sah-sah saja, model ini seperti penjualan dengan cara-cara kurang tepat. Kita tahu bahwa semua penjual ingin mendapatkan untung.

Di sini, konteks konsumen terdidik pun mengemuka. Bahwa konsumen perlu tahu dan perlu mendapatkan waktu untuk membeli atau tidak barang yang diinginkannya. Jadi, berikan ia waktu mempertimbangkan, memutuskan, apakah barang yang ia beli itu memang kebutuhannya atau suatu saat nanti, baru ia akan membelinya, jadilah konsumen terdidik.

Konsumen terdidik adalah konsumen yang mampu melihat kebutuhan yang ia butuhkan dengan prinsip need and want. Jika prinsip ini menjadi rujukan maka istilah mubazzir yang dilarang oleh agama Islam menjadi kekuatan kita. Dengan kata lain prinsip sewajarnya dipahami oleh para penjual atau pemasar dan sadar bahwa tidak semua konsumen perlu dijaring atau diikat lewat panic buying dan tentunya halal pula apa yang mereka kerjakan dan hasilkan.

Di pihak konsumen jelas bahwa mereka perlu diingatkan lagi apakah mereka memang butuh dengan barang yang akan dibelinya ataukah itu hanya dorongan keinginan belaka. Kalau sekedar keinginan bukankah itu berarti mereka membeli barang mubazir. Sangat perlu kita ketahui baik pemasar atau penjual maupun pembeli atau konsumen perlu memahami kemanfaatan atau kebutuhan suatu produk.

Sebaliknya, konsumen perlu mafhum bahwa mereka dalam posisi memerlukan barang karena benar-benar akan memakainya. Kalau suatu produk benar-benar dipakai untuk keperluan berarti memang ada manfaat yang terkandung didalamnya dan tentunya berguna bagi penggunanya. Namun jika produk itu tidak fungsional itu berarti konsumen hanya membeli barang tidak berguna alias mubazir. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy