Menggelar Banggakencana di Karpet Garbarata, Oleh: Dr. H. Mustakim, M.Si – Kendari Pos
Opini

Menggelar Banggakencana di Karpet Garbarata, Oleh: Dr. H. Mustakim, M.Si

KENDARIPOS.CO.ID — Belum banyak warga Sulawesi Tenggara (Sultra) mengenal istilah “Banggakencana”. Karena istilah ini relatif baru, dan memang baru saja dikenalkan oleh Kepala BKKBN RI, Hasto Wardoyo yang dilantik 1 Juli 2019 lalu. Kepanjangan “Banggakencana” adalah Pembangunan Keluarga, Kependudukan dan Keluarga Berencana. Istilah ini sebenarnya merupakan perubahan penyebutan dari istilah KKBPK (Kependudukan, Keluarga Berencana dan Permbangunan Keluarga) yang selama ini diusung BKKBN sebagai tupoksinya. Sampai saat ini, selagi UU no. 52/2009 belum mengalami perubahan, maka belum ada perubahan esensi antara program KKBPK dan Banggakencana. Sebab, acuan dari kedua program itu masih sama yaitu UU No. 52/2009 dan UU no. 23/2014. UU 52/2009 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga lebih banyak memuat esensi dan strategi bagaimana proram ini dijalankan. Sedangkan, UU No 23 tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah mengakomodir program “Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana” yang dilaksanakan di daerah.

Dalam UU nomor 23 tahun 2014 program Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana menempati posisi sebagai salah satu program pemerintah yang pelaksanaannya secara konkuren (pasal 11) atau secara bersama antara pemerintah (pusat), pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota, maka dapatlah dipahami jika untuk melaksanakan program tersebut, kemudian ada 3 level institusi pemerintah yaitu; 1). BKKBN sebagai lembaga di tingkat pusat, dimana untuk lebih memudahkan jangkauan pemerintah (pusat) ini BKKBN juga memiliki perwakilannya di tiap provinsi dengan nama Perwakilan BKKBN Provinsi. Saat ini Perwakilan BKKBN provinsi berada di 32 provinsi. 2 provinsi lainnya yaitu Kalimantan Utara (Kaltara) belum terbentuk Perwakilan BKKBN, dan DKI Jakarta telah menjadi lembaga yang berstatus desentralisasi/otonomi daerah dengan nama Dinas Pemberdayaan, Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk (Dinas PPAPP).

Namun pada umumnya, banyak yang bergabung dengan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, salah satunya di Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) dengan nama Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (P3APP). Harus dipahami bahwa adanya Perwakilan BKKBN Provinsi dan Dinas P3APP di satu wilayah provinsi ini bukanlah berarti ada “dua matahari” atau ada 2 institusi yang sama dalam 1 provinsi. Karena sesungguhnya keduanya melaksanakan kewenangan yang berbeda. Perwakilan BKKBN Provinsi melaksanakan kewenangan pemerintah pusat di wilayah provinsinya, sedangkan Dinas P3APP melaksanakan kewenangan provinsinya sendiri (hal ini dapat dilihat pada lampiran 1.N. UU No.23 tahun 2014). Melihat posisi ini tentunya antara Perwakilan BKKBN Provinsi dan Dinas P3APP wajib bekerja sama dan haram hukumnya jika jalan masing-masing khususnya dalam menjalankan program yang berkaitan dengan pengendalian penduduk dan keluarga berencana. Kenapa demikian?

Meminjam istilah Sri Purwaningsih dari Direktur Bangda Kemendagri saat menyampaikan materi di salah satu hotel di Jakarta, bahwa antara Perwakilan BKKBN Provinsi dan OPD-Pengendalian Penduduk dan KB Provinsi (di Sultra bernama Dinas P3APP) ibarat ibu dan anak. Perwakilan BKKBN Provinsi, karena posisinya sebagai perpanjangan tangan BKKBN (pusat) diibaratkan sebagai ibu sedangkan OPD-Pengendalian Penduduk dan KB ibarat anaknya. Jadi, selayaknya hubungan antara ibu dan anak harus saling menyayangi, memahami, menghormati, dan bekerja sama satu sama lain agar bisa mewujudkan tujuan bersama. Pemerintah Provinsi Sultra, di era Ali Mazi dan Lukman Abunawas saat ini, mengusung visi “Garbarata” atau Gerakan Akselerasi Pembangunan Daratan dan Lautan. Menurut penjelasan Wagub, Lukman Abunawas, Garbarata merupakan konsep pembangunan merata dan berimbang antara wilayah kepulauan dan daratan, dengan 5 pilar Sultra Emas yaitu: Sultra Cerdas, Sultra Sehat, Sultra Peduli Kemiskinan, Sultra Beradab dan Beriman, serta Sultra Produktif.

Titik Singgung Banggakencana dan Garbarata

Jika diamati secara seksama, antara program Banggakencana (Pembangunan Keluarga, Kependudukan dan Keluarga Berencana) dengan 5 pilar Sultra Emas tersebut, dari sisi tujuan sama sekali tidak ada bedanya. Keduanya sama-sama ingin mengusung kualitas Sumber Daya Manusia, dan ini juga sejalan dengan visi Presiden Joko Widodo di periode keduanya yang salah satunya adalah “Pembangunan Sumber Daya Manusia”. Artinya, untuk mendukung visi presiden dan/atau lebih penting lagi adalah untuk secara real meningkatkan kualitas SDM Indonesia (khususnya Sultra), maka sinergisitas antara program Banggakencana dan Garbarata adalah mutlak. Sultra cerdas/sehat/beradab dan beriman, dapat juga dicapai melalui Pembangunan Keluarga (PK) dan Keluarga Berencana (KB) yang diusung oleh program “Banggakencana”nya BKKBN.

Melalui program PK dan KB, BKKBN ingin mewujudkan keluarga berkualitas. Makna Keluarga Berencana (KB) versi BKKBN adalah upaya mengatur kelahiran anak, jarak dan usia ideal melahirkan, mengatur kehamilan, melalui promosi, perlindungan, dan bantuan sesuai hak reproduksi untuk mewujudkan keluarga berkualitas. Sedangkan maksud keluarga berkualitas adalah keluarga yang dibentuk berdasarkan perkawinan secara sah dan bercirikan mandiri, tenteram, dan bahagia. Masyarakat kebanyakan pada umumnya hanya tahu bahwa KB itu adalah untuk membatasi jumlah anak atau jangan punya banyak anak. Padahal dibalik itu, ada suatu tujuan yang lebih bermakna dan mulia, yaitu agar terwujud kualitas anak-anak yang dilahirkan. Baru saja melangkah untuk mengawali ikut program KB, BKKBN mendorong agar terwujud Pendewasaan Usia Perkawinan (PUP).

Dengan PUP diharapkan seorang perempuan menikah pertama paling cepat pada usia di atas 20 tahun. Hamil pertama paling cepat 1-2 tahun setelah pernikahan, yang berarti usia ini sudah cukup matang dari berbagai segi, baik matang psykis, mental dan kejiwaanya, maupun matang fisik dan alat serta proses reproduksinya. Banyak bayi-bayi dilahirkan stunting. Karena dilahirkan dari ibu yang masih sangat muda. Anak yang dilahirkan stunting bukan hanya tubuhnya kerdil, tetapi juga mengalami penurunan tingkat kecerdasan, gangguan bicara, dan kesulitan dalam belajar. Akibatnya prestasi anak di sekolah akan buruk, dampak lebih jauh dari stunting adalah masa depan anak, dimana ia akan sangat sulit mendapatkan pekerjaan yang layak ketika dewasa. Nah, bagaimana mungkin Sultra Cerdas terwujud jika masih banyak pernikahan dini di daerah ini? Menurut hasil Survei Ekonomi Nasional (susenas) tahun 2018 angka kelahiran remaja (ASFR 15-19 tahun) di Sultra tergolong tinggi yaitu 47,9 dari 1.000 kelahiran pada kelompok usia tersebut (15-19 th). Namun di tahun 2019 sesuai hasil Survei Kinerja Akuntabilitas Program (SKAP) BKKBN menurun menjadi 42 per 1000 kelahiran usia remaja (15-19 th). Namun angka 42 tersebut masih tergolong tinggi karena masih berada di atas angka (ASFR 15-19 th) tingkat nasional yaitu 33.

Untuk meminimalisir pernikahan dini, Perwakilan BKKBN Provinsi Sultra sudah saatnya menekan angka pernikahan dini dengan upaya-upaya seperti: perkuat program Generasi Berencana (genre), hidupkan dan tingkatkan peran Pusat Informasi dan Komunikasi Remaja/Mahasiswa (PIK R/M) di sekolah-sekolah (SLTP dan SLTA) serta kampus, bila perlu bentuk PIK R bagi remaja putus sekolah, sinergikan program PUP dengan program Sultra Cerdas, gandeng Dinas P3APP Provinsi, perkuat silaturrahim dengan bupati/walikota se-Sultra beserta Forum Komunikasi Pemerintah Daerahnya, jabarkan program PUP dan program banggakencana sejelas-jelasnya kepada para pimpinan di jajaran pemprov dan kabupatebn/kota. Ini baru satu program Pendewasaan Usia Perkawinan, masih banyak program lain Banggakencana yang dapat digelar pada karpet Garbarata di Bumi Anoa. (*)

*Penulis Warga Sultra. Mantan Plt Kepala Perwakilan BKKBN Sultra. Kini Menjabat Plt Direktur Perencanaan Pengendalian Penduduk BKKBN RI di Jakarta.

1 Comment

1 Comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy