Mari Bersatu, Oleh : Prof. Dr. Eka Suaib – Kendari Pos
Kolom

Mari Bersatu, Oleh : Prof. Dr. Eka Suaib

KENDARIPOS.CO.ID — Corona, dengan nama lengkap Covid-19 di kolom Kendari Pos, 18 Maret 2020, Prof. Hanna menulis tentang topik ini. Untuk memahami fenomena ini, tidak memadai jika hanya menggunakan sudut pandang yang saya geluti. Perlu pendekatan, interdisiplin, bahkan transdisiplin ilmu pengetahuan. Gara-gara covid-19, situasi kebatinan kita sebagai mahluk sosial menjadi terganggu.Kita dilarang untuk mengurangi kontak antara orang yang membawa infeksi dan orang lain yang tidak terinfeksi. Diharapkan untuk menghindari kerumunan orang. Jadi, kegiatan sosial yang biasa dilakukan seperti arisan, reuni, acara keluarga sedapat mungkin dihindari. Semua orang dihimbau untuk berdiam diri.

Dalam aspek agama yang lebih terasa. Jika ada orang yang meninggal karena terindikasi kena wabah corona, maka prosesi pemakamannya dilakukan secara medis. Duka keluarga semakin mendalam,karena orang dilarang untuk mendekat. Padahal, selama ini, jika ada keluarga,
kerabat, dan tetangga yang meninggal, merupakan momentum untuk saling menyapa dan silaturahmi. Saat menyaksikan televisi, sedih menyaksikan ka’bah sunyi dari tawaf. Yakni salah satu ritual umat Islam sebagai simbol persatuan manusia dan perputaran waktu. Belum lagi, relasi antar negara. Saat ini sudah banyak negara yang melakukan lockdown.

Implikasi pandemi covid-19 yakni dari sudut pemerintahan dan masyarakat. Pada level pemerintahan, masifnya Covid-19 maka Kementerian PAN-RB membolehkan ASN bekerja dari rumah/tempat tinggal yakni Work From Home (WFH). Bisa ditebak, tujuannya untuk mencegah dan meminimalisasi penularan. Pada level pejabat strutural tertinggi, tetap melaksanakan tugasnya di kantor untuk memastikan agar pelayanan kepada masyarakat tetap berlangsung.

Eka Suaib

Tentu saja, melalui system ini, tidak membuat manajemen kepegawaian menjadi tidak efektif. Sebab, bisa terjadi bias yang dimanfaatkan oleh para ASN untuk tidak masuk kantor. Karena itu, pada level di masing-masing unit kerja perlu untuk tetap membuat system kerja yang akuntabel. Pemerintah mengintruksikan agar para pendidik (guru dan dosen) memindahkan tempat belajar dari ruang kelas ke smartphone. Semua materi pelajaran diunggah untuk dapat diakses oleh seluruh peserta didik. Melalui system ini, orang tua siswa dapat terlibat aktif untuk memantau perkembangan materi pelajaran yang diikuti.

Akhir-akhir ini, barang public (public goods) yang banyak dicari yakni masker. Pemerintah sudah berupaya mengatasinya, misalnya dengan pemberian gratis disebar ke Puskesmas. Hanya saja, belum dapat memenuhi semua permintaan masyarakat. Selain itu, juga mendesak adalah pembersih tangan pada tempat-tempat strategis. Kebutuhan bahan kimia disinfektan juga penting guna penyemprotan ruangan dan fasilitas public. Belum lagi kebutuhan lain seperti termometer, pembersih serba guna.

Seiring dengan itu, petugas kesehatan perlu untuk melindungi diri dengan baik karena berisiko paling tinggi terinfeksi virus. Soalnya, mereka bersentuhan langsung dengan pasien suspect (dicurigai) maupun positif terinfeksi. Karena itu penting untuk menyediakan alat pelindung diri (APD) bagi petugas kesehatan di seluruh daerah. Dengan cara itu, maka dapat mengurangi risiko terinfeksi. Semua aspek di atas, pemerintah harus memastikan untuk tercukupi. Sebab, jika tidak legitimasinya akan berkurang. Skenario yang paling memungkinkan yakni dengan melakukan revisi ulang terhadap penggunaan APBD. Karena itu, biaya yang tidak terlalu penting seperti untuk pertemuan/rapat, perjalanan dinas. Metode sosialisasi dapat dilakukan melalui teleconfrence dan videoconfrence.

Semua perlu disediakan dalam waktu yang mendesak, cepat, dan terukur. Sebab, jika tidak, toh pada akhirnya juga pemerintah akan kewalahan.Apalagi, dengan media social yang tersedia sekarang, public dengan mudah untuk ‘melapor’ dan viral. Harus diakui, semua level pemerintahan mengalami tantangan hal yang sama. Pada saat merumuskan visi, misi dan program prioritas, tidak terbayangkan adanya tantangan wabah dan virus pandemic. Rata-rata, program pemerintah yakni berkaitan dengan infrastruktur dan ekonomi. Program penangulangan wabah penyakit, tidak seksi untuk dijadikan sebagai program strategis.

Pelajaran penting juga dari merebaknya wabah ini, yakni relasi pemerintah pusat-daerah. Pemerintah pusat awalnya berdalih bahwa protocol komunikasi dan informasi harus seizing pusat. Sementara, di daerah, seperti Anis Baswedan dan Ridwan Kamil aktif membagi informasi, baik sebaran daerah wabah maupun korbannya. Bahkan Anis, mengambil langkah lebih agresif meliburkan sekolah dan perkantoran. Paling mutakhir, pemerintah daerah menyuarakan agar perlu lebih banyak penguji covid-19. Selama ini, hasil tes tidak dapat langsung diketahui karena tidak memiliki peralatan memadai di level daerah.

Sementara itu, bagi masyarakat, inilah momentum kita untuk saling memperkuat satu sama lain. Perlu membangun kesadaran bersama, bahwa pandemi virus ini tidak main-main. Sejak dulu, kita sudah pernah dicoba melalui berbagai macam wabah, mulai dari flu burung, HIV AIDS, ebola dan lain-lain. Semuanya datang, silih berganti. Seharusnya, melalui momentum ini bisa memperkuat solidaritas kita semua. Lupakan pilihan-pilihan yang berbeda, baik saat pilpres dan pilkada. Perlu diingat, bencana di Indonesia seringkali membawa hikmah untuk persatuan dan kesatuan masyarakat.Beruntung kita memiliki modal social yang memadai untuk melewati ujian virus ini. Insya Allah. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy