Kursi-Kursi Panas Itu, Oleh : La Ode Diada Nebansi – Kendari Pos
Kolom

Kursi-Kursi Panas Itu, Oleh : La Ode Diada Nebansi

KENDARIPOS.CO.ID

  1. Kursi Panas di Kota Kendari.
    Kursi panas Wakil Walikota Kendari sudah diperebutkan. Siska Karina terpilih. Selesai? Ya, tuntas. Tinggal menunggu pelantikan. Hanya, ada sesuatu yang menarik untuk didiskusikan. Tentang, PKS. Bukankah Walikota Kendari, Sulkarnain Kadir tercatat sebagai petinggi PKS Kota Kendari? Dan, Siska bukan usulan PKS. Legowo? Insyah Allah. Alasannya? Lihatlah setiap akhir pidato Walikota Kendari yang acap kali ditutupnya dengan kalimat: Nuun Wal Qalami Wamaa Yasthuruun. Artinya, Nun, Demi Kalam dan Apa Mereka Tulis.
    Apa-apa yang sudah tertulis dalam Kalam Allah, terimalah. Itu lebih baik bagimu. Ceh, kaya ustadz saya ee.
  2. Kursi Panas di Sultra.
    Sekretaris Provinsi masih Panas walau cenderung turun ke hangat-hangat kuku. Tim Seleksi (Timsel) sudah bekerja, sudah menghasilkan tiga besar. Oleh karena tiga besar ini, ibarat gorengan, koki terus menguleknya, mengaduknya, menggorengnya hingga nyaris hangus dan mungkin akan hangus jika berita yang terlansir bahwa Gubernur menginginkan godok ulang.
  3. Kursi Panas di Kabupaten.
    Ada tujuh kursi panas di Kabupaten yang akan diperebutkan. Kita mulai dari Buton Utara (Butur) yang sudah jelas pasangannya. Bupati Butur, Abu Hasan berpasangan dengan Suhuzu. Tentu, pasangan ini lahir setelah membaca peta kekuatan. Kandidat lain, tentu pula sudah membaca kekuatan. Dan, yang namanya kursi panas, harus direbut dengan taktis dan strategi. Nama Ridwan Zakaria (mantan Bupati Butur) disebut sebagai rival berat. Sebagai mantan Bupati, Ridwan Zakaria tentu tak ingin mengulangi kegagalan lima tahun lalu. Ini berat untuk kedua figur ini dalam merebut kemenangan.
    Menuju Konawe Kepulauan (Konkep). Di sana, pasangan petahana bertahan. Amrullah-Lutfi tetap seya-sekata seperti lima tahun lalu. Artinya, sedangkan melawan incumbent menang, apalagi kalau sudah jadi incumbent. Ketika ditanya bagaimana peluang di Pilkada September nanti? Kira-kira jawaban Amrullah-Lutfi begini: “Ah, entenglah itu Dinda”.

Di Konawe Utara (Konut), naga-naganya Ruksamin di atas angin. Bukan apa-apa, tapi karena ia incumbent. Satu-satunya penantang adalah Wakil Bupati Konut, Raup. Raup ingin menjajal Pilkada dan ingin merebut kursi panas kosong satu. Tapi jangan salah, salah seorang tokoh Konawe yang berpengaruh menginginkan Raup tetap berpasangan dengan Ruksamin. Siapa tokoh itu? Dia adalah Kery Sjaiful Konggoasa, Bupati Konawe. Dia berpendapat, agar semua keluar sebagai pemenang dan tak ada yang dikalahkan maka Raup harus kembali berpasangan dengan Ruksamin.

Di Konawe Selatan (Konsel), Surunuddin masih dianggap yang terkuat. Tapi, ada satu indikator jika kekuatan ini diyakini menjadi kenyataan. Apa itu? Terletak pada figur yang akan didukung partai Golkar. Bukankah Ketua Golkar Konsel, Irham Kalenggo tampil sebagai calon kosong satu, ingin merebut kursi Bupati. Irham disebut sebagai penantang kuat Surunuddin dan pintu yang akan digunakan, tentulah Partai Golkar, diamana ia menjabat sebagai Ketua. Tapi bagaimanapun juga, Surunuddin adalah kader Golkar. Mantan Ketua Golkar Konawe Selatan dan sekarang menjabat Bupati. Artinya, DPP Golkar, amat sangat memungkinkan untuk merekomendasikan Surunuddin sebagai Calon Bupati ke periode kedua.

Bagaimana dengan kursi panas di Kolaka Timur? Kalau ini, saya kira tergantung apresiasi rakyat. Karya-karya Bupati Koltim, Tony Herbiansyah yang relatif dekat dengan kegiatan petani yang menjadi mayoritas pekerjaan masyarakat Koltim, sudah tampak di masyarakat. Media juga sudah menampilkannya. Mulai dari project kecil hingga project super jumbo sekelas bendungan Ladongi dan Pelosika, semua sudah terpublish. Artinya, memilih pemimpin bagi rakyat Koltim tak lagi ada istilah memilih kucing dalam karung.

Tentang kursi panas di Wakatobi, kayanya ini serius mendebarkan. Salah olah, lewat. Apalagi, sikap Wakil Bupati yang memilih “cerai” dengan kosong satu lalu berpasangan dengan calon lain sementara posisi tetap kosong dua, adalah fenomena yang langka. Biasanya, kosong dua melepaskan diri dari kosong karena ingin ke jabatan lebih tinggi. Tapi, di Wakatobi, lain cerita. Ilmyati Daud sudah membuktikan suntikkan kekuatannya di Pilkada Wakatobi lima tahun lalu, dan Pilkada tahun ini, kekuatan ini disuntikkan ke calon lain. Soal Muna? Saya ingin bahas, tapi: Ah, Jammi deh.(nebansi@yahoo.com)

Oleh : La Ode Diada Nebansi (Direktur Kendari Pos)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy