Honorer Konawe Harap RUU ASN Segera Diketuk – Kendari Pos
Konawe

Honorer Konawe Harap RUU ASN Segera Diketuk

Pengurus FHK2 PGRI Konawe pose bersama anggota Komisi II DPR RI, Hugua usai berdiskusi di Hotel Grand MM Kota Unaaha, kemarin. Honorer sangat berharap RUU ASN segera disetujui.

KENDARIPOS.CO.ID — Ribuan guru honorer di Kabupaten Konawe berharap revisi UU nomor 5 tahun 2014 tentang ASN (RUU ASN) segera diketuk (disetujui). Bagi mereka, regulasi tersebut merupakan “angin segar” yang bisa merubah status honorer. Harapan itu diungkapkan saat Forum Honorer K2 (FHK2) Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Konawe menggelar silaturahmi bersama anggota Komisi II DPR RI, Hugua di Hotel Grand MM Kota Unaaha, kemarin.

Salah seorang perwakilan guru honorer Konawe, Hasbian mengatakan, dirinya telah mengabdikan diri menjadi guru honorer selama 11 tahun. Selama itu pula, dia merasa perhatian pemerintah terhadap nasib guru honorer sangat minim. Meskipun demikian, dirinya mengaku sangat bangga menjadi seorang pendidik yang punya tugas luhur memanusiakan manusia.

“Soal akademik, kami boleh diadu dengan yang berstatus ASN. Kami juga cerdas, hanya kurang beruntung saja. Kami minta Pak Hugua dan kawan-kawan komisi II DPR RI, memperjuangkan revisi UU ASN dan diketuk palu, supaya kami juga bisa punya Nomor Induk Kepegawaian (NIK),” harap guru honorer K2 di SDN 2 Lalohao itu.

Sementara itu, Ketua FHK2-PGRI Konawe, Yogen menyebut, saat ini jumlah guru honorer di Konawe mencapai 5.000-an orang. Semuanya, mengabdikan diri di 500-an sekolah negeri dan swasta yang ada di Konawe. Baik di jenjang Taman Kanak-kanak (TK) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA). Penghasilan guru honorer itu, katanya, hanya mengandalkan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) serta dana sertifikasi guru non PNS. “Yang tersertifikasi belum begitu banyak. Sesuai ketentuan pula, mereka yang sudah tersertifikasi tidak boleh menerima dana BOS,” ujarnya.

Dia menambahkan, dalam UU ASN nomor 5 tahun 2014, kecil ruang bagi tenaga honorer untuk terakomodir menjadi pemegang NIK. Sebab, ada pembatasan usia maksimal 35 tahun dalam pengangkatan ASN. Padahal, guru honorer di Konawe rata-rata usianya sudah diatas 35 tahun. “Pemerintah kurang mengapresiasi guru honorer. Masa ada guru yang gajinya Rp 150 ribu perbulan. Ketika nanti UU ASN diketuk, kami juga harap passing grade tidak menjadi tolak ukur pengangkatan ASN. Namun, dilihat dari lamanya pengabdian dan keaktifan guru honorer di tempat tugasnya masing-masing,” urainya.

Merespon keluhan guru honorer di Konawe, Ir Hugua menjelaskan, salah satu wewenang DPR RI yakni membuat regulasi atau peraturan perundang-undangan (per-UU). Salah satu UU yang tengah digodok komisi II DPR RI, sebutnya, yakni revisi UU ASN nomor 5 tahun 2014. Selaku mitra Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara-Reformasi Birokrasi (Kemenpan-RB), Hugua mengaku dirinya dan koleganya di Senayan benar-benar getol memperjuangkan revisi UU ASN tersebut. “Saya paham bagaimana nasib guru honorer. Siapa bilang honorer K2 tidak punya kompetensi,” ucapnya.

Hugua menyebut, pihaknya saat ini tengah mendorong pemerintah membuat diskresi alias terobosan dalam hal pengangkatan ASN dari kalangan honorer. Meski mengalami tarik ulur di Senayan, ia dan koleganya di Komisi II DPR RI yakin bisa menggolkan revisi UU ASN tersebut. Di salah satu pasal dalam UU ASN yg akan direvisi, sambungnya, disebutkan bahwa pengangkatan ASN hanya didasarkan pada seleksi administrasi saja. “Artinya tidak melalui proses. Tapi, ini masih rancangan dan belum ketuk palu. Kesimpulannya, ini perjuangan. Perjuangan itu antara sukses dan gagal. Yang jelas, kami di komisi II DPR RI akan terus memperjuangkan nasib guru honorer yang ada di seluruh Indonesia,” imbuhnya. (b/adi)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy