Heboh Dikira Suspect Corona, Pasien Asal Baubau Ini Ternyata Demam Karena Kehujanan – Kendari Pos
HEADLINE NEWS

Heboh Dikira Suspect Corona, Pasien Asal Baubau Ini Ternyata Demam Karena Kehujanan

Ilustrasi

KENDARIPOS.CO.ID — Isu virus Corona (COVID-19) membuat warga Sultra mudah menjadi paranoid. Seseorang yang mengalami demam disertai flu akan mudah di “cap” mengalami gejala virus corona. Terlebih lagi jika pasien suspect itu pernah menjejak kaki di luar negeri.

Sebut saja, WH, warga Kendari yang pernah berkunjung di Korea dan mengalami demam disertai flu. Lalu, pasutri asal Kolaka, AT dan AD mengalami flu usai umrah di sangka terpapar virus corona. Begitu juga dengan empat TKA yang dirawat di ruang isolasi.

Teranyar, LD (23) warga Buton yang tiga pekan lalu kembali dari Thailand dan mengalami gejala flu dan disangka terpapar virus Corona. LD mengeluhkan batuk dan pilek, nyeri tenggorokan, nyeri pada anggota badan, dan mulai merasa sesak nafas. Saat ini, LD dirujuk ke Rumah Sakit (RS) Bahteramas, Kendari untuk menjalani pemeriksaan laboratorium.

Plt.Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Sultra, dr.Andi Hasnah mengatakan, warga jangan terlalu mudah panik sehingga pasien penderita sakit biasa langsung divonis suspect. Andi Hasnah memastikan tidak ada pasien suspect yang masuk di RS Bahteramas. Hal itu sesuai dengan pemeriksaan epidermis. Pasien yang dimaksud, LD adalah pasien yang mengalami sakit dengan riwayat kehujanan.
“Habis kehujanan, lalu mengalami demam. Sudah sebulan lalu dari Thailand,”kata dr.Andi Hasnah saat dikonfirmasi Kendari Pos, Minggu, (8/3).

Jika sudah sebulan berlalu, menurut dr.Andi Hasnah, masa inkubasi sudah lewat. Jadi tidak mungkin lagi terpapar. Dia berharap semua pihak tidak menggiring isu tersebut yang menyebabkan kepanikan di tengah masyarakat.

dr.Andi Hasnah menjelaskan pasien LD telah menjalani masa inkubasi dan karantina sejak 27 Januari lalu. LD merupakan salah seorang dari 37 orang rombongan WNI yang usai berkunjung di Thailand. “Jadi, tidak dirawat, tidak diisolasi. Karena sakitnya demam biasa. Bukan corona yah,”tegasnya.

Dari Baubau dilaporkan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Palagimata, Kota Baubau sempat merawat LD (23) yang diduga terpapar corona. Dugaan tersebut berdasarkan gejala klinis dan faktor risiko seseorang terserang virus corona.

Direktur RSUD Palagimata, dr. Nuraeni Djawa mengatakan seseorang yang suspect corona artinya baru sebatas sangkaan atau dugaan. Dengan begitu pasien LD belum dipastikan positif tertular virus corona, karena belum ada tes medis yang memastikan dugaan penyakitnya. Semua masih akan dilakukan proses pemeriksaan laboratorium dan hasilnya akan diketahui beberapa hari ke depan.

“Kami merujuk itu, karena sesuai ketentuan standar operasional prosedur dari Kementerian Kesehatan. Jika sudah memenuhi kriteria itu maka harus dievakuasi di rumah sakit yang telah ditunjuk oleh kementerian. Tapi selama itu dugaannya belum terlalu kuat, kita masukan di ruang isolasi, dan kita punya fasilitas itu di RSUD Kota Baubau,” kata Nurhaeni Djawa dalam konferensi pers di Kantor Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Baubau, Minggu (8/3).

Saat datangkan di RS Palagimata, pasien LD di rawat di ruang UGD. Padahal ruangan tersebut merupakan tempat pasien umum yang memerlukan pertolongan medis darurat. “Terkait ruang UGD, saat ini sementara dikosongkan untuk sterilisasi. Sterilisasi lincoff dilakukan sebagai standar kesehatan. Karena virus corona ini bisa tahan berada di luar sekitar sembilan sampai 12 jam. Kemudian dalam waktu 24 jam, terhitung hari ini kami belum terima pasien. Ini untuk langkah-langkah antisipatif,” tutup wanita berhijab itu.

Di tempat yang sama, dokter spesialis penyakit dalam, dr. Lukman mengungkapkan saat pasien pertama kali ditangani di ruang UGD, suhu tubuhnya mencapai 39 derajat celcius. Keluhannya, batuk dan pilek, nyeri tenggorokan, nyeri anggota badan, dan sudah mulai merasa sesak nafas. Berdasarkan indikasi klinis itulah, pasien LD diduga terjangkit virus corona. Selanjutnya riwayat perjalanan pasien juga diketahui dari negara yang terjangkit virus corona yaitu Thailand. “Jika dihitung semenjak kepulangannya dari Thailand ke Indonesia, berarti memenuhi waktu inkubasi selama dua minggu,” kata Lukman.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Baubau, dr. Wahyu menuturkan pasien LD adalah warga Kabupaten Buton. Sebelum dinyatakan suspect corona, yang bersangkutan pernah beraktivitas di Thailand. LD berada di Thailand
untuk kepentingan bisnis dan diketahui meninggalkan Thailand pada Minggu 23 Februari 2020. “Pasien merupakan warga Kabupaten Buton dan dirujuk di RSUD Kota Baubau,” terangnya.

Perjalanan LD dari Thailand menggunakan pesawat menuju Bandara Jakarta. Kemudian terbang menuju Kota Kendari. Lalu dari Kendari ke Baubau menggunakan kapal laut dan tiba di Pelabuhan Murhum Kota Baubau Selasa (25/2). “Pasien mengaku pernah beraktivitas di Kota Baubau tanggal 29 Februari 2020. Ia mengunjungi rumah ayah angkatnya,” terang Wahyu.

Lanjut Wahyu, tempat-tempat tersebut merupakan persinggahan LD dalam masa inkubasi selama dua minggu. Meski demikian indikasi LD terpapar corona masih dugaan. Kepastian positif atau negatif, harus berdasarkan pemeriksaan laboratorium. Hasilnya akan diketahui sekira tiga hari ke depan. “Orang-orang yang pernah melakukan kontak dengan pasien suspect itu akan kita pantau. Kita juga sudah koordinasi dengan Dinkes Buton untuk memantau,” ucapnya.

Sekedar diketahui pasien LD dirujuk ke RSUD Kota Baubau dari Puskesmas di Kabupaten Buton, pada Sabtu (7/3/) malam, sekira pukul 22.00 Wita. LD menjalani perawatan di ruang UGD RSUD Kota Baubau, sebelum di rujuk ke RS Bahteramas, Kendari, Minggu (8/3) sekira pukul 02.30 Wita. (ade/ahi/b)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy