Hari Tanpa Bayangan di Kota Kendari, Oleh: Imanuela Indah Pertiwi S.Si.,M.Si – Kendari Pos
Opini

Hari Tanpa Bayangan di Kota Kendari, Oleh: Imanuela Indah Pertiwi S.Si.,M.Si

Imanuela Indah Pertiwi S.Si.,M.Si

KENDARIPOS.CO.ID — Hari tanpa bayangan akan kembali terjadi di beberapa wilayah di Indonesia. Jika biasanya kita melihat benda-benda yang terkena sinar Matahari akan menghasilkan bayangan, maka ada satu hari dimana benda-benda tersebut tidak menghasilkan bayangan walaupun terkena sinar Matahari. Hari itu disebut sebagai hari tanpa bayangan. Seperti apa hari tanpa bayangan itu? Hari tanpa bayangan atau biasa disebut dengan kulminasi atau transit atau istiwa’ merupakan hari dimana ketika Matahari berada pada posisi paling tinggi di langit di siang hari, Matahari tidak melemparkan bayangan suatu benda sehingga benda-benda tidak akan terlihat bayangannya. Fenomena ini terjadi ketika deklinasi Matahari menjadi sama dengan garis lintang pengamat. Ketika Matahari melintasi meridian lokal, sinar Matahari akan jatuh persis tegak lurus ke benda-benda di tanah dan manusia, sehingga orang-orang tidak dapat mengamati bayangannya karena bertumpuk dengan benda itu sendiri. Dengan kata lain, pada saat itu Matahari tepat melintas di atas kepala manusia.

Fenomena hari tanpa bayangan atau “zero shadow day” terjadi dua kali dalam setahun untuk tempat-tempat yang berada pada lintang 23.5 derajat lintang utara hingga 23.5 derajat lintang selatan. Indonesia merupakan salah satu wilayah yang terletak pada interval lintang tersebut. Sedangkan orang-orang yang tinggal di wilayah dengan lintang di luar interval itu tidak berkesempatan menikmati Matahari melintas di atas kepalanya. Wilayah itu mencakup Eropa, Amerika Utara, Afrika Selatan, serta sebagian Chili, Argentina, dan Australia. Tanggal terjadinya fenomena ini akan berbeda pula di setiap tempat di Bumi.

Matahari adalah bintang yang berjalan. Sepanjang tahun, Matahari menempuh perjalanan bolak-balik dari utara ke selatan. Selama perjalanan tersebut, Matahari menyinggahi berbagai kota di Bumi dan menempuh suatu lintasan yang berbeda setiap hari. Matahari tidak hanya terbit pada waktu dan ketinggian yang berbeda, tetapi juga terbit di lokasi yang berbeda setiap harinya. Hal ini terjadi karena Bumi berotasi pada sumbunya sehingga Matahari tampak terbit di horizon timur dan kemudian terbenam di horizon barat. Selanjutnya disaat yang bersamaan Bumi juga meniti lintasan elips mengelilingi Matahari. Sumbu rotasi Bumi miring sekitar 66.6 derajat terhadap bidang orbit Bumi mengelilingi Matahari (ekliptika) atau dengan kata lain sumbu khatulistiwa Bumi miring sekitar 23.5 derajat terhadap ekliptika. Sehingga selama enam bulan, Matahari seolah-olah berada di Bumi belahan utara, lalu enam bulan berikutnya seakan-akan berada di Bumi belahan selatan. Karena kemiringan Bumi itu pula, sinar Matahari yang diterima kedua belahan Bumi tersebut tidak merata.

Persinggahan Matahari bergilir sesuai posisi lintang tempat/kota di Bumi. Dalam pergerakannya selama satu tahun, Matahari akan berada tepat di garis khatulistiwa (lintang 0 derajat) pada tanggal 21 Maret, kemudian bergerak ke Utara hingga tepat berada di lintang 23.5 derajat lintang utara pada tanggal 21 Juni. Selanjutnya, Matahari akan bergerak kembali menuju tepat di garis khatulistiwa pada tanggal 23 September. Pergerakan Matahari dilanjutkan menuju ke Selatan hingga tepat berada pada lintang 23.5 derajat lintang selatan di tanggal 22 Desember. Setelah itu, Matahari bergerak kembali menuju ke garis khatulistiwa dan tepat berada di lintang 0 derajat tersebut pada tanggal 21 Maret. Siklus ini akan terus berulang setiap tahunnya. Saat ini, bulan Maret, Matahari sedang berada di lintang selatan sehingga tempat-tempat di Bumi yang berada di lintang selatan sangat mungkin untuk terjadinya fenomena hari tanpa bayangan.

Indonesia merupakan negara yang dilalui oleh garis khatulistiwa (lintang 0 derajat), sehingga sebagian wilayahnya ada di lintang utara dan sebagian wilayah lainnya ada di lintang selatan. Pada awal tahun 2020 ini (Februari – Maret) terjadi kulminasi utama periode I, tempat-tempat di Indonesia yang berada di lintang selatan dapat menyaksikan fenomena hari tanpa bayangan tersebut, yang selanjutnya dapat disaksikan kembali pada 24 September sampai bulan November yang disebut sebagai kulminasi utama periode II. Sedangkan untuk tempat-tempat di Indonesia yang terletak di lintang utara dapat menyaksikan fenomena ini (kulminasi utama periode I) pada akhir bulan Maret (22 Maret) sampai April dan kulminasi utama periode II pada bulan Agustus sampai 22 September. Untuk tempat-tempat di Indonesia yang terletak tepat di lintang 0o dapat menyaksikannya pada tanggal 21 Maret (kulminasi utama periode I) dan 23 September (kulminasi utama periode II). Sehingga dapat dikatakan bahwa Indonesia merupakan negara yang sangat istimewa karena semua tempat-tempat di Indonesia dapat menyaksikan fenomena hari tanpa bayangan dua kali setiap tahunnya.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah menentukan tanggal dan waktu terjadinya fenomena hari tanpa bayangan yaitu saat kulminasi utama periode I di beberapa kota di Indonesia. Dimulai dari Kota Baa-Nusa Tenggara Timur pang yang terjadi tanggal 21 Februari, Kupang tanggal 23 Februari, Mataram dan Denpasar tanggal 27 Februari, dan Yogyakarta tanggal 29 Februari. Kota/kabupaten di Bali, Nusa Tenggara Timur, dan Nusa Tenggara Barat sebagian besar menyaksikannya di bulan Februari. Sedangkan sebagian besar kota lainnya menyaksikan fenomena tersebut di bulan Maret. Fenomena ini dapat disaksikan di Indonesia sampai tanggal 4 April, dan kota terakhir yang dapat menyaksikannya adalah kota Sabang.

Sulawesi Tenggara yang terletak di tenggara pulau Sulawesi berada pada batas lintang 2.75 derajat lintang selatan – 6.25 derajat lintang selatan menyebabkan fenomena hari tanpa bayangan dapat disaksikan di bulan Maret ini. Sebelumnya, peristiwa hari tanpa bayangan terjadi di Sulawesi Tenggara pada bulan Oktober 2019. Adapun tanggal dan waktu terjadinya fenomena ini berbeda di setiap kota/kabupaten. Pada tanggal 6 Maret telah tejadi hari tanpa bayangan di Wangi-Wangi, Pasarwajo, dan Bau-Bau. Selanjutnya tanggal 7 Maret, fenomena ini terjadi di Batauga dan Labungkari. Tanggal 8 Maret, fenomena hari tanpa bayangan terjadi di Buranga, Raha, Laworo, dan Rumbia. Kemudian tanggal 9 Maret fenomena ini terjadi Andolo pada pukul 12:01:43 WITA.

Masyarakat di Kota Kendari sendiri dapat menyaksikan fenomena hari tanpa bayangan pada tanggal 10 Maret dengan waktu kulminasi utama (waktu Matahari tepat berada di tempat tertinggi di langit dan tepat berada di atas benda-benda di tanah) pada pukul 12:00:10 WITA. Selain Kota Kendari, pada tanggal 10 Maret fenomena hari tanpa bayangan juga dapat disaksikan oleh masyarakat di Langara pada pukul 11:58:17 WITA, di Unaaha pada pukul 12:02:02 WITA, di Tirawuta pada pukul 12:02:33 WITA, dan di Kolaka pada pukul 12:03:52 WITA. Tanggal 11 Maret merupakan hari terakhir fenomena hari tanpa bayangan dapat disaksikan di kota/kabupaten di Sulawesi Tenggara, yaitu di Wanggudu pada pukul 12:01:33 WITA dan di Lasusua pada pukul 12:06:29 WITA. Jika tidak hujan dan tidak mendung, pada hari itu Matahari akan lebih terik 9 persen dari biasanya dan mulai terjadi perubahan musim di wilayah Indonesia. (*)

*Penulis adalah PMG (Pengamat Meteorologi dan Geofisika) Muda BMKG Stasiun Geofisika Kendari

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy