Derita Diko, Warga Konawe Pengidap Gagal Ginjal : Sekali Cuci Darah, Rp 3 Juta Habis – Kendari Pos
HEADLINE NEWS

Derita Diko, Warga Konawe Pengidap Gagal Ginjal : Sekali Cuci Darah, Rp 3 Juta Habis

Diko (30), warga Desa Tudameasa Kecamatan Meluhu Kabupaten Konawe divonis mengidap penyakit gagal ginjal. Kini, ia dirawat di gedung Laika Waraka kamar nomor 7 RSUD Bahteramas Kendari.

KENDARIPOS.CO.ID — Menghadapi kenyataan divonis penyakit gagal ginjal bukanlah hal mudah bagi Diko. Belum lagi, kehilangan pekerjaan sebagai montir. Maka lengkap sudah derita yang harus dipikul seorang Diko.

Diko seketika tersungkur dan tak sadarkan diri di Rumah Sakit (RS) Siloam kkota Manggarai Nusa Tenggara Timur (NTT), akhir tahun 2017 silam. Saat dokter di rumah sakit tersebut memvonis dirinya mengidap gagal ginjal dan harus melakukan cuci darah atau dalam istilah kedokteran disebut hemodialisa, dunia Diko seakan runtuh.

Psikologisnya terguncang. Dalam benaknya, yang terbayang hanyalah kematian yang kian dekat. Sempat putus asa, namun pria asli Desa Tudameasa Kecamatan Meluhu Kabupaten Konawe itu mencoba kuat menghadapi getirnya cobaan.

Diko habis-habisan berupaya sembuh dari penyakitnya. Biaya cuci darah tidaklah kecil. Sekali melakukan hemodialisa, ia harus menguras dompet sekira Rp 3 jutaan. Diko bercerita, hampir setengah tahun ia melakukan cuci darah di RS Siloam kota Manggarai. Kira-kira, hal itu rutin dilakukannya semenjak awal tahun 2018. Dalam seminggu, ia mesti dua kali menjalani proses cuci darah. “Saya sebenarnya punya kartu BPJS. Tapi karena saya bukan warga NTT, jadi tidak berlaku di RS Siloam Manggarai. Mau tidak mau, saya ambil yang umum karena tidak ada pilihan lain,” ucap Diko kepada Kendari Pos saat dihubungi disela-seala menjalani perawatan di RS Bahteramas, Jumat (6/3).

Untuk menutupi biaya pengobatannya selama menjalani cuci darah di RS Siloam kota Manggarai NTT, Diko mengaku, ia mengikhlaskan sebidang tanah warisan keluarganya dijual. Tak ada jalan lain. Diko menuturkan, selama hampir setengah tahun dirawat di NTT, tabungannya selama hidup di perantauan ludes seketika. Pundi-pundi rupiah yang didapatnya sebagai montir di salah satu bengkel di kota Manggarai, tidak cukup untuk menutupi biaya cuci darah serta biaya hidup selama menjalani pengobatan di RS. “Kurang lebih uang Rp 60 jutaan habis selama saya di rawat disana,” akunya.

Diko menuturkan, dari penjelasan dokter di RS Siloam Manggarai, penyakit gagal ginjal yang dideritanya diduga akibat sering jongkok dalam jangka waktu lama saat masih menjadi montir. Ditambah lagi, kebiasaannya yang suka mengonsumsi minuman suplemen setiap hari, tanpa diimbangi konsumsi air putih yang cukup. “Kalau diingat-ingat, saya sangat menyesal. Mungkin ini takdir dari yang di Atas,” timpal pria religius itu.

Kini, Diko telah berpindah tempat perawatan. Semenjak memutuskan kembali ke Sultra pada pertengahan tahun 2018 lalu, Diko memilih menjalani perawatan dan cuci darah di RSUD Bahteramas Kendari. Selama di rawat di RSUD Bahteramas, ia hanya didampingi oleh beberapa orang keluarga.

Ia mengaku, lokasi kampung halamannya yang cukup jauh membuat sebagian keluarganya mengurungkan niat untuk sekadar melihat kondisinya di RSUD Bahteramas. Keluarganya di kampung hanya sesekali mengirim uang pengobatan. Itupun, sebagian besar diperoleh dengan meminjam dari tetangga. “Itupun kerabat yang datang cuma sebentar. Praktis, saya sendirian disini. Untungnya, ada beberapa jamaah masjid RSUD Bahteramas yang sering menengok kondisi saya,” ungkapnya.

Diko sebenarnya bukanlah pria bujang. Ia sempat menjalani hubungan rumah tangga dengan Hani (25). Namun, sebelum divonis gagal ginjal, ada permasalahan rumah tangga yang membuat mereka berdua memutuskan untuk bercerai dan mengambil jalan masing-masing.

Terlepas dari itu, Diko mengatakan, selama menjalani cuci darah di RSUD Bahteramas Kendari, ia mengaku sedikit terbantu sebab biaya cuci darahnya sepenuhnya menjadi tanggungan BPJS. Diko juga menjelaskan, kehilangan fungsi ginjal merupakan kenyataan terpahit dalam hidupnya. Saat ini, ginjalnya mulai mengecil. Sedikit-sedikit, ia mengalami drop. Hemoglobin (HB)
-nya pun sering turun kalau terlambat melakukan cuci darah.”Saya masih sering keluar masuk UGD bahkan ICU kalau terlambat ditangani,” tuturnya.

Meski demikian, Diko menyebut, selama hampir dua tahun menjalani hemodialisa di RSUD Bahteramas, biaya hidup yang dikeluarkannya juga tidaklah sedikit. Ia mengaku, uang puluhan juta sudah habis ia pakai untuk keperluannya sehari-hari. Saat ini, Diko dirawat di RSUD Bahteramas Kendari, tepatnya di gedung Laika Waraka kamar nomor 7.

Satu keinginannya, Diko berharap pemerintah kabupaten (pemkab) Konawe berkenan untuk datang melihat kondisi atas penyakit yang dideritanya. Ia berharap, ada bantuan dari pemkab setempat untuk meringankan biaya hidupnya selama menjalani perawatan di RSUD Bahteramas Kendari.

“Mungkin pemkab Konawe belum tahu ada warganya yang sedang terbaring di RSUD Bahteramas. Mudah-mudahan cepat didengar oleh mereka, saya sudah divonis cuci darah seumur hidup oleh dokter,” imbuhnya. (a).

1 Comment

1 Comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy