Dampak Wabah Covid-19, Harga Bahan Pokok Melambung – Kendari Pos
Nasional

Dampak Wabah Covid-19, Harga Bahan Pokok Melambung


KENDARIPOS.CO.ID — Dampak wabah virus korona di Sultra sangat terasa. Masyarakat “dipaksa” berada dalam situasi sulit. Aktivitas mencari nafkah untuk pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari terganjal instruksi pemerintah agar berdiam di rumah demi memutus mata rantai penyebaran virus korona.

Pada sisi lain, harga kebutuhan bahan pokok terus melambung. Kondisi masyarakat seperti mendapat “tekanan” dari atas dan bawah. Pantauan Kendari Pos di 8 daerah, harga beras, gula, minyak, telur dan bahan pokok lainnya terus bergerak naik sejak virus korona merebak. (Lihat grafis)

Di Pasar Baru Kelurahan Watulo, Kecamatan Mawasangka Kabupaten Buton Tengah, harga beras ukuran 50 kilogram semula hanya Rp.530 ribu sampai Rp.550 ribu, kini menjadi Rp.600 ribu. Beras ukuran 25 kilogram semula hanya Rp.240 ribu menjadi Rp. 300 ribu. Kenaikan harga bahan pokok itu memicu kekhawatiran masyarakat. Ali meminta pemerintah hadir dalam situasi pelik ini untuk menjaga kestabilan harga di pasaran.
“Kami khawatir dengan keadaan ini di tengah situais wabah korona ini. Kami berharap kenaikan ini bisa ditanggapi pemerintah,” ujar Ali, warga Watulo, Senin (30/3).

Dari pengakuan pedagang, kenaikan harga bahan pokok dipicu minimnya persediaan barang.

“Sebelum adanya virus ini, persediaan beras sangat mudah kita dapatkan. Begitu juga telur. Sekarang mulai langka. Bahkan kita mendapatkan beras tidak sesuai pesanan,” ujar salah satu penjual yang enggan menyebutkan namanya.

Kondisi serupa terjadi di Pasar Sentral Laino, Kabupaten Muna. Muna. Beras biasa ukuran 50 kilogram semula hanya Rp.480 ribu, kini menjadi Rp.580 ribu. Harga naik sekira Rp.100 ribu. Beras kepala 25 kg naik Rp15.000, semula Rp.280 ribu, sekarang Rp.295 ribu. “Harga telur naik Rp.3.000 dari Rp.52 ribu per rak menjadi Rp.55 ribu,” ujar Nia, salah
seorang di Pasar Laino, Senin (30/3)

Di tempat terpisah, Kepala Dinas Perindustrian, Koperasi dan UKM Kota Kendari Muhammad Saiful membenarkan beberapa bahan pokok mengalami kenaikan harga. Seperti gula pasir dan beras. “Beras medium naik, dari Rp 9.700 menjadi Rp 11 ribu per kg. Nah gula yang melonjak, dari Rp 12.500 menjadi Rp 20 ribu per kg,” ungkapnya.

Sebenarnya, kata Syaiful, kenaikannya sudah terjadi sejak Februari lalu. Pihaknya pun telah mengantisipasinya dengan melaksanakan operasi pasar. “Kami gandeng Bulog Divre Sultra dan menggelar operasi pasar. Awalnya kami sudah tetapkan 11 titik lokasi operasi. Kami sudah mulai pada 12 Maret. Meski begitu di tengah jalan terhenti karena ada instruksi dari Satgas Penanganan Covid-19 untuk tidak membuat segala bentuk keramaian,” jelasnya.

Walhasil, Disperindag hanya menggelar operasi pasar di 4 titik saja. Adapun 8 titik lainnya akan dilaksanakan jika kondisi sudah memungkinkan atau sudah dinyatakan aman oleh Satgas Penanganan Covid-19 Kota Kendari.

Kenaikan harga bahan pokok dikhawatirkan mempengaruhi secara negatif daya beli masyarakat. Terlebih pandemi global Covid-19 telah menyebabkan masyarakat berpendatan rendah dan pekerja harian mulai kehilangan pendapatan.

Untuk menghindari dampak yang lebih buruk, operasi pasar murah dinilai bisa menjadi salah satu solusi agar masyarakat mendapatkan bahan pokok yang dibutuhkan tanpa terlalu terbebani. Menggelar pasar murah juga secara tidak langsung dapat menekan angka inflasi dalam jangka pendek. Pendapat itu dikemukakan Pengamat Ekonomi Sulawesi Tenggara, Dr. Syamsir Nur.

“Salah satu komoditas yang kenaikan harganya paling terasa saat ini adalah gula pasir. Informasi yang kita
dengar, kenaikan harga ini disebabkan pasokan yang kurang. Di sisi lain, kita juga sedang menghadapi wabah Covid-19 dan bulan puasa. Salah satu cara yang bisa dilakukan pemerintah untuk memastikan masyarakat sanggup membeli kebutuhan pokok yakni dengan menggelar pasar murah,” ujar Syamsir Nur kepada Kendari Pos, Senin (30/3).

Secara umum, kata Dr.Syamsir, kenaikan harga komoditas disebabkan dua hal. Pertama, dari sisi supply (penawaran), ada pasokan yang terhambat didistribusikan sehingga tidak mencukupi kebutuhan sebuah daerah. Terhambatnya pasokan sendiri
dikarenakan ada alokasi permintaan daerah lain yang memengaruhi daerah lainnya, serta kemungkinan tingginya biaya logistik untuk mendatangkan komoditas tertentu ke suatu daerah.

Kedua, dari sisi demand (permintaan), permintaan terhadap kebutuhan komoditas tertentu melebihi dari stok yang ada.

“Gula pasir merupakan salah satu komponen perhitungan Indeks Harga Konsumen (IHK). Sehingga, dengan menggelar pasar murah untuk gula pasir bisa menekan tingkat inflasi,” imbuhnya.

Mengenai sasaran pasar murah, menurutnya, tidak boleh hanya dibatasi kepada masyarakat berpendapatan rendah. Idealnya, pasar murah memang diperuntukkan bagi kelompok masyarakat yang berpendapatan rendah. Namun, dalam kondisi saat ini, kata dia, gula tidak hanya dibutuhkan masyarakat berpendapatan rendah. Sehingga pasar murah diharapkan bisa menyasar kelompok middle income (bependapatan menengah).

“Di tengah wabah Covid-19, kelompok middle income tentu kena imbas dari kelangkaan gula. Tidak masalah jika kelompok ini menikmati pasar murah. Kebutuhan mereka terhadap gula juga tinggi,” argumennya.

Akademisi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Halu Oleo (UHO) ini menekankan pentingnya mekanisme pendataan dan penentuan kriteria siapa yang layak dan tidak layak menikmati asar murah. Agar terdistribusi secara merata kepada masyarakat yang membutuhkan, pemerintah harus punya mekanisme penjatahan yang baik.

“Misalnya, maksimal 2 kg per kepala rumah tangga. Agar semua bisa menikmati karena suplai gula pasir yang terbatas, distribusi harus merata. Sebaiknya (pasar murah) sudah digelar awal April. Sebaiknya melibatkan pemerintah kelurahan untuk melakukan sosialisasi jika ingin lebih efektif,” sarannya.

Mengenai kenaikan harga gula akibat kelangkaan stok, doktor alumni Universitas Brawijaya Malang ini mengkhawatirkan adanya spekulan. Ia berharap, Pemprov Sultra melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sultra memastikan berapa rata-rata kebutuhan gula sebulan. Jika stok gula yang masuk dalam beberapa bulan terakhir sama saja, namun tiba-tiba ada kenaikan harga, ia khawatir ada spekulan yang memanfaatkan situasi.

“Rantai pasok gula harus dideteksi. Jangan sampai ada spekulan yang memanfaatkan situasi di tengah pandemi Covid-19 dan menghadapi ramadan. Yang saya khawatirkan, jangan sampai importir sengaja menahan stok. Mereka menjatah ke pedagang ecer toko ritel yang kemudian dari ritel didistribusikan ke pasar-pasar dalam jumlah terbatas. Kita bisa stressing, spekulan itu pemain di rantai pertama,” terangnya.

Secara resmi, lanjut dia, spekulan memiliki legalitas untuk melakukan impor atau pengadaan gula di suatu daerah. Pemerintah harus memeriksa bagaimana rantai pasok pangan di Sultra, bukan hanya gula.

“Bisa dicek berapa jumlah yang didorong dari daerah pemasok utama ke Sultra. Dari jumlah yang sampai ke sini harus dipastikan berapa yang didorong ke ritel-ritel. Harus cross check ke Disperindag, sejau mana koordinasi dengan para penyalur gula. Berapa banyak yang didorong ke Sultra setiap bulannya, kemudian berapa banyak yang didorong ke ritel-ritel,” pungkas Dr.Syamsir Nur. (rud/ode/ags/uli/b)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy