Dampak Dikeluarkannya Indonesia dari Negara Berkembang, Oleh: Asrul Ashar Alimuddin, S.E – Kendari Pos
Opini

Dampak Dikeluarkannya Indonesia dari Negara Berkembang, Oleh: Asrul Ashar Alimuddin, S.E

Asrul Ashar Alimuddin, S.E

KENDARIPOS.CO.ID — Dunia ini terdiri dari berbagai negara yang memiliki kultur budaya dan bahasanya masing-masing. Dari segi ekonomi dan sosial pun, negara-negara di dunia memiliki keanekaragaman yang membuat masing-masing menjadi sebuah negara yang unik. Pada dasarnya pembagian suatu negara dapat digolongkan menjadi 3 kategori yaitu negara terbelakang, negara berkembang dan negara maju. Untuk mengetahui dengan pasti apakah suatu negara masuk kategori negara terbelakang, negara berkembang atau negara maju tidaklah mudah. Dibutuhkan banyak syarat atau indikator yang mungkin tidak dapat dipenuhi oleh suatu negara.

Oleh karena itu, suatu negara kaya belum tentu menjadi negara maju, karena ada beberapa syarat yang tidak dapat dipenuhi, seperti kemajuan di bidang ekonomi, teknologi dan kondisi sosial politik. Negara maju merupakan istilah khusus yang disematkan kepada negara yang menikmati standar hidup relatif tinggi di sektor teknologi serta memiliki ekonomi yang merata. Dari pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa negara maju adalah suatu negara yang rakyatnya mempunyai kualitas hidup dan kesejahteraan tingkat tinggi. Biasanya negara yang memiliki Pendapatan Nasional Bruto (PNB) perkapita tinggi dianggap sebagai negara maju. Negara maju memiliki angka pertumbuhan penduduk yang relatif rendah. Tingkat kematian bayi pun sangat rendah, hal ini disebabkan oleh kemajuan dalam bidang kedokteran. Angka usia harapan hidup biasanya tinggi dan diimbangi dengan angka ketergantungan lansia terhadap anaknya yang rendah.

Amerika Serikat (AS) mengambil kebijakan yang cukup mengagetkan bagi Indonesia. Negara Paman Sam tersebut mengeluarkan Indonesia dari daftar negara berkembang. Indonesia keluar dari daftar negara berkembang setelah Kantor Perwakilan Dagang AS atau US Trade Representative (USTR) merevisi metodologi perhitungan negara berkembang untuk investigasi atas bea masuk, yaitu sebuah bea yang dikenakan pada impor. Hal tersebut dikarenakan pedoman sebelumnya yang diterbitkan tahun 1998 sekarang sudah usang. Namun, bukan berarti pengakuan ini positif. Sebaliknya, ini bisa menghapus fasilitas yang didapat Indonesia sebagai negara berkembang dalam perdagangan internasional. Dampaknya lebih banyak negatif. Dampaknya ke Indonesia yang berimplikasi besar dari dihapusnya status negara berkembang adalah dikeluarkannya Indonesia sebagai negara penerima fasilitas GSP (Generalized System of Preferences), yang selama ini banyak dinikmati pelaku usaha lewat fasilitas bea masuk yang rendah untuk ekspor tujuan AS. Secara makro Indonesia memang bisa dikategorikan sebagai negara maju.

Indikatornya Indonesia merupakan anggota G20 atau kelompok negara dengan perekonomian besar di dunia. Menurut Badan Pusat Statistik Ekonomi Indonesia tahun 2019 tumbuh 5,02 %. Pertumbuhan terjadi pada seluruh lapangan usaha. Pertumbuhan tertinggi dicapai oleh Lapangan Usaha Jasa Lainnya sebesar 10,55 %; diikuti Jasa Perusahaan sebesar 10,25 %; dan Informasi dan Komunikasi sebesar 9,41 %. Meski begitu pembangunan Indonesia tidak merata, dampak positif Indonesia sebagai negara maju hanya dinikmati segelintir kalangan, Yang menikmati kue pembangunan tidak rata, hanya terkonsentrasi ke 1% penduduk. Dengan dikeluarkannya Indonesia dari daftar negara berkembang oleh Amerika Serikat, maka diharapkan industri nasional siap melakukan efisiensi dan tidak bergantung kepada subsidi pemerintah.

Sebagai salah satu contoh industri karet merupakan peringkat ke-3 dari komoditas ekspor Indonesia ke Amerika Serikat dengan nilai sebesar USD1,637 miliar. Sedangkan rencana pemerintah Indonesia untuk memberikan subsidi dikhawatirkan akan membuat industri domestik Amerika Serikat memberikan petisi pada pemerintah dan mengenakan bea masuk untuk produk karet dari Indonesia. Namun, kemungkinan untuk terjadinya petisi tersebut juga minim, karena secara domestik Amerika Serikat tidak bisa cukup memenuhi kebutuhan karet dari produksi domestik mereka. BPS mencatat surplus perdagangan Indonesia dengan AS pada Januari 2020 senilai US$ 1,01 miliar, naik secara tahunan dari US$804juta. Apabila hal ini benar-benar terjadi, Indonesia akan mengantisipasinya, dengan memberikan subsidi kepada infant industri karena infant industri tersebut sebuah kondisi tidak ideal untuk efisiensi produksi. Memberikan subsidi pada produk ekspor tanpa tujuan mendewasakan industri, sejatinya tidak menguntungkan bagi negara kita .

Disamping itu juga ada beberapa sektor yang tidak akan berdampak signifikan, seperti komoditas pakaian. Berdasarkan data produk ekspor utama Indonesia ke Amerika Serikat adalah pakaian dan aksesoris pakaian (tidak dirajut dan pakaian jadi), dengan total nilai yang cukup besar, namun Amerika Serikat dinilai hanya mampu memenuhi tiga persen konsumsi dari industri domestiknya. Karena AS merupakan importir pakaian terbesar di dunia dan Indonesia merupakan eksportir pakaian jadi ke-13 di dunia pada 2018, maka Indonesia tidak perlu mengkhawatirkan dampak yang tidak signifikan tersebut. Industri pakaian Indonesia sudah cukup matang dan tidak bergantung pada subsidi pemerintah. Namun, akan lebih baik jika Indonesia bersiap untuk mengekspor di luar negara tujuan ekspor tradisional, seperti Australia yang sudah memiliki perjanjian kemitraan ekonomi komprehensif.

Ada beberapa hal yang perlu diantisipasi oleh pemerintah Indonesia dari dampak dikeluarkannya dari negara berkembang : pertama pemerintah perlu mengurangi subsidi sektoral atau berdasarkan jenis produk dan berfokus pada peningkatan infrastruktur yang menyeluruh untuk produksi industri secara keseluruhan seperti infrastruktur jalan, logistilk energi dan kemudahaan persyaratan izin berusaha bagi pelaku usaha. Kedua, pemerintah dapat meminimalkan dampak negatif dari kebijakan Amerika Serikat adalah dimana pelaku industri tanah air harus menambah efisiensi dan kecepatan produksi, dengan mengadopsi permesinan yang mendukung produksi dengan skala lebuh besar dan biaya produksi lebih rendah.

Semua negara juga ingin kaya, hal inilah yang menjadi permasalahan utama di negara berkembang. Negara berkembang kalah secara perekonomian dengan negara yang lebih maju karena tidak adanya komoditas yang bisa ditawarkan pada pasar global. Untuk itu, akhir-akhir ini banyak negara yang mengglobalisasikan diri mereka dalam sektor tertentu agar dapat terus bertahan dan mampu bersaing secara ekonomi di kancah internasional. Hal ini sangat penting untuk dilakukan oleh negara berkembang dan negara dunia ketiga yang ingin mengalami peningkatan secara finansial. Kegagalan suatu negara menjadi negara maju bukanlah disebabkan masalah ekonomi saja melainkan faktor politik, sosial dan budaya juga ikut mempengaruhi kemajuan suatu negara. Beberapa strategi yang dapat dilakukan adalah dengan mewujudkan pertumbuhan ekonomi inklusif dan berkelanjutan dimana dimaksud pertumbuhan inklusif itu adalah meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) melalui bidang pendidikan dan kesehatan.

Jumlah penduduk tiap tahun pasti akan terus bertambah dimana perkiraan jumlah penduduk Indonesia akan terus meningkat menjadi 305,6 juta jiwa pada tahun 2035. Dengan pertambahan penduduk yang cukup tinggi ini akan berdampak terhadap penciptaan lapangan kerja. Penciptaan lapangan kerja disektor industri akan berdampak negatif dengan dikeluarkannya Indonesia dari negara berkembang, dimana biaya operasional terhadap biaya yang dikeluarkan oleh sebuah perusahaan industri akan lebih besar lagi sehingga efesiensi terhadap biaya tersebut akan berdampak pengurangan pengeluaran dari beberapa bagian tidak menutup kemungkinan dari pembatasan tenaga kerja. (*)

*Penulis adalah Statistisi Pertama BPS Kota Kendari

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy