Corona, Sengsara Membawa Nikmat, Oleh : Prof. Hanna – Kendari Pos
Kolom

Corona, Sengsara Membawa Nikmat, Oleh : Prof. Hanna

KENDARIPOS.CO.ID — Tahun 1980-an kita dikagetkan dengan penyakit Aids. Pertama kali ditemukan di Amerika Serikat (AS). Virusnya, HIV berasal dari Afrika. Konon penyakit ini muncul setelah salah seorang warga di Afrika melakukan hubungan badan dengan seekor monyet. Selanjutnya menulari warga AS. Kita juga pernah mendengar penyakit sapi gila. Pertama kali ditemukan di Inggris tahun 1986. Mulanya menyerang hewan ternak. Virus berekspansi menyerang manusia dengan varian baru. Pada manusia, objek yang diserang adalah sistem saraf atau otak. Orang yang terinfeksi penyakit sapi gila umumnya akan kehilangan kendali atas tubuhnya. Dia akan kesulitan berbicara, berdiri dan berjalan.

Selanjutnya flu burung (H5N1). Ini juga penyakit lama. Muncul pertama kali di Italia lebih dari satu abad lalu. Mulanya dianggap penyakit biasa karena menyasar hewan ternak yang kurang terawat. Virus H5N1 ini juga menyerang manusia. Puncak mewabahnya penyakit flu burung pada tahun 2000-2007. Lalu muncul wabah yang mirip flu burung, yaitu flu babi. Penyakit ini menyerang pernapasan manusia. Hanya beda kode virus saja. Flu burung H5N1, flu babi H1N1. Flu babi ditemukan pertama kali tahun 1976 di Amerika Serikat. Namun sudah dikenali sebagai penyakit musiman sejak tahun 1919. Flu babi lalu mewabah hingga ke berbagai negara dan tercatat menyerang warga Luzon, Filipina tahun 2007.

Penyakit mematikan lainnya seperti Ebola. Ditemukan tahun 1976 di Kongo, Afrika. Virus berasal dari monyet dan kelelawar pemakan buah. Penderita Ebola akan mengalami kesulitan pembekuan darah. Darah akan mengucur dengan sendirinya dari hidung, mulut atau bekas suntikan. Muntah darah, batuk berdarah, hingga berak berdarah adalah tanda akut dari mengganasnya virus dari tubuh seseorang yang terjangkiti.
Selanjutnya kita disuguhi lagi wabah SARS. Muncul di Cina tahun 2002. Penyakit SARS tergolong mematikan dan menyerang pernapasan manusia. Pemerintah Cina sempat menutupi epidemi penyakit ini saat pertama kali ditemukan. Namun setelah SARS menyebar diberbagai negara dalam hitungan bulan dengan korban tewas mencapai 775 orang, ratusan ribu ternak, barulah pemerintah Cina membuka diri dan mengajak dunia internasional memeranginya.

Prof Hanna

Pada awal tahun 2020 kita dikagetkan dengan virus Corona. Pemerintah Cina enggan menyembunyikan wabah virus yang bermula dari Kota Wuhan ini. Kota Wuhan diisolasi, warga dilarang berpergian. Virus Corona menyerang sistem pernapasan manusia dengan melumpuhkan fungsi paru-paru. Virus ditengarai berasal dari kelelawar dan ular yang dijual bebas di pasaran. Virus ini sangat mematikan, karena hanya butuh waktu hitungan hari untuk mengakhiri hidup seseorang.

Virus Corona Disease 2019 (Covid-19) telah menyebar ke berbagai dunia, termasuk Indonesia. Kepanikan pun tak dapat dibendung. Kepanikan tidak bisa dihindari karena itu masalah kehidupan, tetapi kita juga tidak boleh sombong dan congkak menghadapi itu, karena kita tidak tahu dari mana sumbernya, wujudnya, dan bagaimana Covid-19 masuk ke dalam tubuh kita. Pemerintah sudah bersikap dengan cara tindakan preventif untuk melindungi warga dari Covid-19. Tentu saja dalam tindakan seperti ini akan membuat sengsara semua orang, tetapi itu suatu keharusan. Penyebarannya menyadarkan kita bahwa kita tidak sedang baik-baik saja.

Media yang begitu gencar memberitakannya menambah ketakutan luar biasa di tengah masyarakat. Belum lagi beberapa pejabat yang positif dan sebagian terindikasi virus ini. Pandangan Islam menyadarkan kita semua bahwa penyebaran virus ini adalah sebuah cobaan atau, ia betul-betul telah membuka mata manusia bahwa ternyata kematian itu begitu dekat. Tidak salah rasa ketakutan itu muncul, mutasi dari virus ini telah mengakibatkan kematian yang lebih cepat dari sebelumnya. Memang terdengar sangat mengerikan, kematian-yang mungkin- menurut sebagian orang kadang terasa masih jauh, kini mengancam diri kita dan keluarga akibat Covid-19 ini.

Agama apapun meyakini bahwa seseorang meninggal dunia adalah karena sudah Takdir-Nya. Corona hanya sebagai wasilah kematian bukan penyebab utama, karena banyak juga yang bisa sembuh dari virus ini. Kematian itu memang sangat kita takutkan, dengan berbagai alasan. Ada yang belum siap mati karena belum banyak bekal. Ada juga yang masih memiliki banyak tanggungan hingga masih cinta dengan dunia.
“Saya kalau meninggal siap saja, cuma janganlah karena virus seperti ini,” ujar seorang teman saya. Ucapan ini menunjukan ketakutan terhadap Covid-19 dan juga kematian. Padahal lagi-lagi jika memang sudah Takdir-Nya, apa hendak kita buat? Kita tidak bisa mengelak, tapi hanya berusaha dan berdoa. Kesengsaraan lainnya adalah ketika ada batas-batas alamiah dan batas kebiasaan kita sebagai mahluk sosial yang saling berinteraksi. Cara berkomunikasi dibatasi. Oleh karena itu kewaspadaan tidak bisa dipandang enteng.

Usaha preventif pemerintah, ternyata justru banyak yang merasa wabah Covid-19 ini adalah sebuah anugerah untuk menguji segala kehebatan dan pengetahuan yang dimiliki. Misalnya mengubah sistem pembelajaran dari tatap muka menjadi daring (online). Tentu itu mempersiapkan segala fasilitas yang tidak segampang dengan membalikkan telapak tangan. Selanjutnya, dengan adanya Covid-19 ini, mengubah cara kerja kita di kantor dengan rumah. Lalu, wabah Covid-19 ini memicu para pakar obat-obatan berlombah menemukan dan membuat obat yang memungkinkan mencegah penularan dan pengobatan Covid-19. Mari tetap waspada dan mendukung program pemerintah memberantas penyakit Covid-19. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy