Beras dan Gula Masih Mahal – Kendari Pos
Nasional

Beras dan Gula Masih Mahal

Ilustrasi

KENDARIPOS.CO.ID — Masyarakat mengeluhkan harga sejumlah bahan pokok seperti gula pasir, bawang putih, bawang merah, dan beras yang mahal.

Wa Ode Nadia (58), salah seorang warga Kota Kendari mengaku terkejut kenaikan harga gula pasir dan beras di pasar.

“Dulu, gula pasir 1 kilogram (kg) sekira Rp 18 ribu, sekarang sudah Rp 20 ribu. Mahal sekali. Beras juga mahal,” keluh Nadia saat ditemui Kendari Pos, Minggu (29/3) kemarin.

Bawang merah dan bawang putih yang mengalami kenaikan harga sejak tahun baru 2020. Bawang merah dijual seharga Rp 40 ribu per kg, bawang putih dibanderol Rp 45 ribu sampai Rp 50 ribu per kg.Kedua komoditas ini belum mengalami penurunan harga yang berarti.

Pantauan Kendari Pos di sejumlah pasar tradisional maupun pasar modern (swalayan) di Kota Kendari, gula pasir per kg dijual rata-rata Rp 20 ribu. Bahkan, beberapa pedagang mengaku cukup kesulitan mendapatkan gula pasir belakangan ini.

“Harga gula pasir Rp 950 ribu per 50 kg. Saya jual Rp 20 ribu per kg. Pengambilan kita ke sales juga dibatasi. Paling banyak bisa ambil 10 karung sekali order. Itu bisa habis dalam setengah bulan,” ujar seorang pedagang di Pasar Baruga, akhir pekan lalu.

Ia juga mengeluhkan kurangnya pasokan beras. Kini, ia menjual beras dengan harga paling murah Rp 11 ribu per kg. Sedangkan beras kualitas premium dijual seharga Rp 12 ribu per kg atau Rp 11 ribu per liter. “Harga satu karung (50 kg) beras poles (premium) sekarang ini Rp 600 ribu. Padahal dulu masih Rp 550 ribu. Harganya mulai naik sejak sebulan lalu. Stok sangat kurang. Saya dengar beras ini didatangkan dari Sulawesi Selatan,” akunya.

Para pedagang di Pasar Anduonohu mengungkapkan hal senada. Salah satu pedagang mengaku hanya dibolehkan memasok gula pasir kristal maksimal 2 karung setiap 2 minggu. Sementara, untuk mendapatkan sekarung beras ukuran 50 kg beras poles, ia harus mengeluarkan Rp 540 ribu. Lebih mahal dari sebelumnya yang hanya Rp 490 ribu. Beras campuran yang kualitasnya paling rendah kini dibelinya seharga Rp 480 ribu.

“Itupun berasnya hancur. Saya tangan (suplier) kedua, berasnya dari (Sulawesi) Selatan. Dulu paling mahal Rp 450 ribu. Saya tidak tahu kenapa bisa semahal itu. Kalau gula pasir, saya beli per karung Rp 850 ribu. Satu bulan lalu masih Rp 620 ribu, itupun bisa sampai 10 karung,” akunya.

Kondisi serupa juga terjadi di sejumlah swalayan. Gula pasir tanpa merek dijual mulai Rp 19.500 hingga Rp 20.000 per kg. Beberapa swalayan bahkan telah mengalami kekosongan stok dalam tiga hari. Kendati demikian, masih ada toko ritel yang menjual gula pasir sesuai harga eceran tertinggi (HET) yakni Rp 12.500. Misalnya, Hypermart dan Indogrosir. Kedua swalayan ini juga membatasi penjualan pada tiap pembeli untuk menghindari pembelian berlebihan.

Dihubungi terpisah, Kepala Perum Bulog Divre Sultra, Ermin Tora mengatakan, Bulog Sultra saat ini punya 50 ton stok gula pasir. Bulog Sultra juga telah mengajukan permohonan tambahan stok gula ke kantor pusat.
“Kenaikan harga gula memang terjadi secara nasional. Bulog di seluruh daerah sedang mengalami kekurangan stok,” ujarnya.

Sementara harga komoditas lainnya relatif masih stabil. Daging sapi dijual Rp 120.000 per kg sementara ayam broiler dipatok Rp 50 ribu hingga Rp 60 ribu per ekor ukuran paling besar. Telur ayam ras Rp 48 ribu hingga Rp 55 ribu per rak. Cabai keriting dijual Rp 25 ribu per kg, cabai rawit Rp 40 ribu, cabai rawit merah Rp 25 ribu, tomat Rp 14 ribu, minyak goreng Rp 13 ribu sampai Rp 14 ribu per liter, terigu Rp 9 ribu per kg.

Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian, Koperasi dan UKM Kota Kendari Muhammad Saiful membenarkan beberapa bahan pokok mengalami kenaikan harga. Sebut saja, gula pasir dan beras. “Berdasarkan informasi dari tim yang memantau harga setiap, harga gula dan beras naik. Kalau beras medium naik, dari Rp 9.700 menjadi Rp 11 ribu per kg. Nah gula yang melonjak, dari Rp 12.500 menjadi Rp 20 ribu per kg,” ungkapnya.

Sebenarnya, kata Syaiful, kenaikannya sudah terjadi sejak Februari lalu. Pihaknya pun telah mengantisipasinya dengan melaksanakan operasi pasar. “Kami gandeng Bulog Divre Sultra dan menggelar operasi pasar. Awalnya kami sudah tetapkan 11 titik lokasi operasi. Kami sudah mulai pada 12 Maret. Meski begitu di tengah jalan terhenti karena ada instruksi dari Satgas Penanganan Covid-19 untuk tidak membuat segala bentuk keramaian,” jelasnya.

Walhasil, Disperindag hanya menggelar operasi pasar di 4 titik saja. Adapun 8 titik lainnya akan dilaksanakan jika kondisi sudah memungkinkan atau sudah dinyatakan aman oleh Satgas Penanganan Covid-19 Kota Kendari.

Muhammad Saiful mengatakan pihaknya berencana menggelar sidak pasar untuk mengetahui penyebab pasti melonjaknya harga gula pasir dan beras di pasaran. “Tentu kita akan sidak. Kami pastikan harga bisa kembali normal dalam waktu dekat ini. Jika ditemukan ada indikasi penimbunan sembako maka akan ditindak. Kebetulan kalau sidak kami juga menggandeng jajaran Polres Kendari,” tandasnya. (uli/ags/a)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy