Alat Pelindung Diri di RS Bahteramas Minim, Puluhan Perawat Masih Diisolasi – Kendari Pos
HEADLINE NEWS

Alat Pelindung Diri di RS Bahteramas Minim, Puluhan Perawat Masih Diisolasi

KENDARIPOS.CO.ID — Tiga warga Sultra positif Virus Corona Disease 2019 (Covid-19) masih menjalani perawatan di ruang isolasi Rumah Sakit (RS) Bahteramas. Manajemen RS intens melakukan perawatan. Ketua DPRD Sultra, Abdurrahman Shaleh pun memantau langsung pelayanan dan kondisi pasien Korona di RS Bahteramas. Semalam, Abdurrahman Shaleh terlihat di RS Bahteramas. Dia diterima Direktur RS Bahteramas, dr.Sjarif Subiakto. Meski kondisi pasien corona membaik, namun belum dapat dipulangkan. Sebab, masih akan menjalani tahap pemeriksaan lagi melalui metode swap, yakni pengambilan sampel usap (swap) tenggorokan.

Swap sebagai metode pengambilan sampel dalam uji diagnosis covid-19 guna menurunkan risiko infeksi silang terhadap para petugas medis. “Sudah 11 hari pasien dirawat. Kondisinya sudah membaik. Saat ini menunggu pemeriksaan swap atau pengambilan sampel usapan tenggorokan sekali lagi. Jika hasil swap negatif maka pasien tersebut bisa dipulangkan,” ujar dr. Sjarif kepada Ketua DPRD Sultra, Abdurrahman Shaleh, Jumat (20/3) malam.

dr.Sjarif Subiakto menegaskan pasien korona masih dalam perawatan, sehingga pasien masih di dalam ruang isolasi. dr.Sjarif menyampaikan pihaknya kekurangan peralatan kesehatan penanganan Covid-19 ini seperti alat pelindung diri (APD). “APD itu seperti pakaian astronot dan masker. Tersisa 17 unit. Stok saat ini hanya untuk 2 hari. Kita punya uang tapi stok dipasaran tidak ada,” terang dr.Sjarif.

Saat sidak, Abdurrahman Shaleh juga menerima aspirasi dari para perawat yang bertugas di ruang isolasi. “Tolong pak bisa dibantu agar proses swap bisa dilakukan cepat,” pinta salah seorang perawat. Rupanya proses swap juga dibutuhkan para perawat yang diduga terpapar korona. Menjawab permintaan itu, Abdurrahman Shaleh berjanji akan memperjuangkan apa yang menjadi permintaan para tenaga medis tersebut. “Saya usahakan semua ibu, adek. Kalian luar biasa. Kalian tinggalkan keluarga demi merawat masyarakat yang sakit. Atas nama pribadi, Gubernur Sultra dan masyarakat Sultra, saya sampaikan terimakasih yang setinggi-tingginya kepada kalian,” ujar Abdurrahman Shaleh.

Ketua DPW PAN Sultra itu memastikan penanganan pasien positif korona maupun suspect korona sangat maksimal dilakukan manajemen RS Bahteramas. “Saya sidak untuk memastikan informasi bahwa tidak optimalnya pelayanan medis di RS Bahteramas. Ternyata informasinya tidak benar. Hoaks,” ujar Abdurrahman Shaleh. Indikatornya, manajemen RS Bahteramas melakukan pencegahan penyebaran korona dengan menyiapkan dua unit Instalasi Gawat Darurat (IGD). Satu IGD khusus pasien korona dan satu IGD bagi pasien umum atau bukan penyakit korona. Selain itu, kunjungan keluarga dibatasi sebagai salah satu prosedur pencegahan penyebaran virus korona.

Ruang isolasi dan perawatan pasien positif korona dan suspect (terduga) korona pun dipisahkan. Termasuk ruang dan gedung tenaga medis yang diduga terpapar pun dipisahkan. RS Bahtermas menyiapkan dua unit tenda dari BPBD sebagai bentuk antisipasi jika pasien terduga korona bertambah. Dalam sidak Abdurrahman Shaleh itu diketahui 17 tenaga medis, dokter dan perawat diduga terpapar virus korona saat menangani pasien yang positif. Kini mereka dalam proses karantina di RS Bahteramas sambil menunggu proses swap atau pengambilan sampel usap tenggorokan untuk memastikan mereka positif atau negatif korona. “Saya akan berkoordinasi dengan gubernur untuk memberitahu pemerintah pusat terkait kebutuhan RS Bahteramas dalam penanganan korona di Sultra. Termasuk kebutuhan APD dan swap. Ini harus menjadi perhatian serius,” tegas Abdurrahman Shaleh.

Ketua DPRD Sultra saat mengunjungi RS Bahteramas.

Sementara itu berdasarkan informasi yang dihimpun Kendari Pos, total petugas medis yang menjalani isolasi berjumlah 35 orang. Rincianya 17 diruang RS Bahteramas, 18 lainnya menjalani karntina di rumah. Minimnya alat pelindung diri juga dikeluhkan para perawat. Apalagi menghadapi pasien disaat wabah corona menyebar. “Kami perawat akan bekerja sebaik mungkin untuk masyarakat agar mereka bisa sehat kembali. Itu sudah tugas kami. Tapi perlu diingat kami juga manusia biasa yang butuh alat pelindung. Misalnya, masker yang minim dan lainnya. Kami juga punya keluarga di rumah. Ini tentu harus menjadi perhatian utama,” kata salah seorang perawat yang enggan namanya ditulis. Sebelumnya, Dirut RS Bahteramas dr. Sjarif mengakui jika rumah sakit yang dipimpinnya kekurangan alat pelindung diri. Bahkan oeprasi bedah pun sempat dibatalkan.

“Iya, benar beberapa operasi bedah tumor elektif kami batalkan. Pembatalan ini akibat stok masker kita kosong. Tidak mungkinkan operasi tanpa masker. Jadi bukan yang cito atau emergency yah. Kalau Cito adalah tindakan yang harus segera dilakukan karena dalam keadaan darurat,” jelas dr Sjarif. Sebelum dibatalkan, pihaknya sudah berusaha mencari. Namun stoknya memang terbatas. Yang ada hanya satu dos, itupun akan dibagi ke sejumlah ruangan. Atas dasar itu, pihaknya menunda sejumlah operasi bedah. “Kita sudah berupaya, bahkan pontang panting cari masker cuma dapat satu dos. Itupun dari satu ini dibagi banyak ruangan. Jadi diputuskan operasi yang elektif ditunda Kamis (19/3),” katanya. (yog/imn/KP)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy