49 TKA Datang dari Cina : Masuk Sultra tak di Karantina, Polda – Kemenkumham Beda Penjelasan – Kendari Pos
HEADLINE NEWS

49 TKA Datang dari Cina : Masuk Sultra tak di Karantina, Polda – Kemenkumham Beda Penjelasan

KENDARIPOS.CO.ID — Kabut yang menutupi kedatangan 49 Tenaga Kerja Asing (TKA) asal Cina di Bandara Halu Oleo tersingkap. Mereka memang terbang dari negerinya menuju Indonesia dan tiba di Sultra, Minggu (15/3) malam. Hal ini sangat berbeda jauh dengan penegasan Kapolda Sultra Brigjen Pol Merdisyam, SIK yang mengatakan jika puluhan warga China tersebut sudah lama bekerja di Sultra dan hanya memperpanjang izin kerja di Jakarta. Lalu kembali lagi ke Sultra.

Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkuham) Sultra telah merilis rute perjalanan 49 TKA itu. Bahkan mereka tak dikarantina di Indonesia. Hal ini membuat ada perbedaan perlakuan dengan warga Sultra yang belajar di Wuhan, namun saat pulang diminta mengikuti observasi selama 14 hari di Natuna.

Kepala Kanwil Kemenkumham Sultra, Sofyan menjelaskan rute perjalanan 49 TKA asal Cina itu. Menurut Sofyan, setelah mengantongi izin kunjungan uji coba kerja pada 14 Januari 2020 di ibu kota Bejing, mereka terbang menuju Thailand pada 29 Februari 2020. Selama 14 hari mereka menjalani karantina di Bangkok dan mendapat cap keimigrasian pasport. Lalu terbang menuju Indonesia.

Sayangnya, 49 TKA asal Henan, Cina ini tak menjalani karantina di Indonesia. Mereka hanya mendapat rekomendasi surat sehat dari Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Jakarta Pusat. Setelah mendapat surat tersebut, para TKA Cina itu terbang dari Bandara Soekarno Hatta menuju ke Bandara Halu Oleo, Sultra pada hari Minggu, 15 Maret 2020.

Sofyan.

Tiba di Kendari, 49 WNA ini langsung dijemput dan bergerak ke salah satu perusahaan smelter. Kepala Kanwil Kemenkumham Sultra, Sofyan mengatakan 49 TKA ini memang warga negara Cina yang tiba di Indonesia melalui berbagai riwayat perjalanan resmi. Sofyan tak menampik, para TKA hanya memiliki izin kunjungan uji coba kerja yang diurus di Beijing, Cina.

“Informasi yang disampaikan sebelumnya hanya bersifat sementara. Tapi memang TKA ini mendapat izin perjalanan resmi dari Cina, Thailand lalu Indonesia,” tutur Sofyan saat konferensi pers bersama Gubernur Sultra, Ali Mazi, Senin (16/3).

Ditanyakan ihwal tak dikarantinanya TKA tersebut, Sofyan mengatakan mereka mendapat rekomendasi surat keterangan kewaspadaan sehat kepada 49 WNA dari KKP. Wewenang karantina itu bukan kewenangan Kemenkumham. “Bisa jadi tidak di karantina. Kami maunya mereka harus di karantina. Tapi kalau sudah dapat rekomendasi sehat dari KKP, berarti mereka semua dinyatakan sehat dari Covid-19,” jelas Sofyan.

Gubernur Sultra, Ali Mazi pun ikut membenarkan 49 TKA itu adalah warga asli Cina. Ali Mazi meminta polisi, TNI, dan Dinas Kesehatan Sultra, rumah sakit umum daerah dan dokter Biddokes RS Bhayangkara untuk mengecek kesehatan 49 TKA tersebut. Ali Mazi menyatakan TKA yang kini berada di salah satu perusahaan smelter harus di lockdown. Tidak ada yang boleh keluar. “Memang harus di lockdown. Kami juga telah terbitkan Pergub untuk mencegah wabah virus Corona,”kata Ali Mazi.

Status visa kunjungan 49 WNA asal Cina ini menjadi pertanyaan semua pihak. Hanya berbekal izin kunjungan, WNA ini lolos bekerja di perusahaan di Sultra. Kebijakan membiarkan bisa kunjungan untuk bekerja ini justru bertentangan dengan regulasi Kementerian Ketenagakerjaan RI.

Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Sultra, Saemu Alwi mengatakan, kewenangannya hanya mengawasi TKA. Ihwal 49 TKA yang hanya punya izin kunjungan, Saemu mengaku bingung. Yang jelas dalam aturan lain di Kemenkumham bahwa ada izin kunjungan uji coba kerja berlaku hanya 60 hari.

“Kemungkinan ini yang diterapkan. Tapi, kalau Nakertrans Sultra hanya mengawasi TKA resmi. Secara regulasi, TKA itu harus memiliki izin mempekerjakan tenaga asing (IMTA) dan Kartu Izin Tinggal Terbatas (KITAS),”kata Saemu. Lalu apakah 49 WNA ini iIlegal karena tak punya IMTA dan KITAS, Saemu ragu menjawabnya. Dia berdalih bahwa ada aturan lain di Kemenkumham bahwa dibolehkan izin kunjungan uji coba kerja. “Tidak ilegal juga,” ujar Saemu.

Sebelumnya, Saemu Alwi mengatakan, sejak 20 Februari lalu telah terbit surat edaran larangan penambahan izin baru bagi para TKA. “Komunikasi Dirjen Pembinaan Pengawasan Ketenagakerjaan dan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (Ditjen Binwasnaker dan K3) Kemenaker bahwa tidak ada penambahan izin baru. Kalau perpanjangan beda lagi regulasinya,”ungkapnya.

Pemerintah hanya memberi kelonggaran pelaku usaha untuk bisa kembali mempekerjakan TKA Cina yang masih ada di Indonesia. Makanya, penguna TKA Cina diberi dispensasi kelonggaran untuk memperkerjakan TKA Cina yang seharusnya pulang ke Cina. Mereka dipekerjakan sampai 6 bulan saja,”kata Saemu.

Untuk diketahui sebelumnya, WNA asal Cina datang di Sultra melalui penerbangan domestik dari Jakarta. Awalnya dikabarkan bahwa TKA ini sudah lama bekerja di Sultra dan hanya memperpanjang izin kerja di Jakarta. Bahkan salah seorang warga Konawe Selatan yang merekam video tersebut ditangkap kepolisian daerah (Polda Sultra). Namun faktanya 49 TKA tersebut baru didatangkan dari Cina.

Kapolda Sultra Brigjen Merdisyam membenarkan terkait kedatangan WNA tersebut. Merdisyam membeberkan mereka adalah tenaga kerja asing dari perusahaan tambang. “Kami sudah lakukan pengecekan langsung, iya benar mereka (TKA) dari perusahaan smelter yang ada di Sultra,” katanya saat dikonfirmasi, Minggu (15/3/2020).

Merdisyam mengungkapkan puluhan TKA itu bukan dari Cina, melainkan dari Jakarta. Merdisyam mengatakan mereka dari Jakarta dalam rangka memperpanjang visa. “Mereka kembali dari memperanjang visa di Jakarta,” ujarnya. (ade/rah/b)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy