Xenophobia dan Ancaman Terhadap Kemajemukan, Oleh : Erens Elvianus Koodoh – Kendari Pos
Opini

Xenophobia dan Ancaman Terhadap Kemajemukan, Oleh : Erens Elvianus Koodoh

Erens Elvianus Koodoh

KENDARIPOS.CO.ID — Jacob Zuma, Presiden Afrika Selatan, membatalkan kedatangannya pada Konferensi Asia Afrika (KAA), di Bandung beberapa waktu lalu. Alasannya, kondisi dalam negeri Afrika Selatan yang sedang dilanda kerusuhan beberapa waktu belakangan ini. Kerusuhan atau tepatnya kekerasan, dilakukan oleh warga pribumi terhadap warga asing yang sedang mukim mencari penghidupan di beberapa wilayah Afrika Selatan. Realitas ini menunjukkan sebentuk ketakutan warga pribumi terhadap dominasi warga pendatang dalam kehidupan ekonomi atau biasa disebut xenophobia. Ada kekhawatiran, bahwa para pendatang akan lebih banyak menguasai sektor-sektor ekonomi di negeri ini. Tampaknya, kerusuhan dan kekerasan ini belum akan mereda dalam hari-hari mendatang. Tentu, pemerintah Afrika Selatan masih mencari solusi untuk mengatasi dan memadamkan kerusuhan ini.

Di Indonesia, sikap xenophobia ini bukanlah hal baru dalam percaturan ekonomi, politik dan sosial. Berbagai kerusuhan yang terjadi beberapa tahun silam, misalnya di Ambon-Maluku, Poso, Kalimantan mengisahkan bentuk ketakutan penduduk lokal atas dominasi orang-orang pendatang terhadap kantong-kantong ekonomi, bahkan mendominiasi kehidupan sosial-politik. Ancaman orang-orang pendatang di berbagai wilayah di negeri ini kemudian selalu berujung kekerasan, untuk tidak mengatakan pembersihan etnis (ethnic cleansing).

Pasca kejatuhan rezim orde baru, ketegangan antara warga pribumi dan pendatang semakin nyata terkuak, bahkan dalam skala massif terjadi di mana pun di setiap sudut negeri ini. Seperti api dalam sekam, kekerasan etnis sangat mudah tersulut. Dari soal pribadi kemudian berkembang lebih jauh, melibatkan massa, apalagi etnis tertentu. Sukuisme ‘buta’ semakin menguat di era ini. Semenjak pasca orde baru hingga saat ini, negeri ini sedang ‘terluka’ dan ‘tercabik-cabik’ oleh perseteruan etnis. Sikap eksklusif merebak di mana-mana. Paranoia dan xenophobia menghinggapi sebagian besar masyarakat. Wacana pluralisme dan multikulturalisme menjadi semakin elitis, diperbincangkan hanya di kalangan akademisi, kemudian perlahan meredup pada tingkat akar rumput (grassroot).

Kekhawatiran, jika bukan ketakutan, terhadap agresivitas masyarakat pendatang dalam berbagai lini kehidupan, seperti kehidupan ekonomi, politik, pendidikan dan kebudayaan kini juga menghinggapi sebagian besar orang Tolaki. Kesuksesan ‘orang lain’ dalam lapangan ekonomi, yang dibuktikan dengan penguasaan kantong-kantong dan sumber-simber ekonomi, dalam lapangan politik kekuasaan yang dibuktikan kesuksesan ‘orang lain’ merambah dan menguasai kantong-kantong kekuasaan di daerah ini, serta kesuksesan di bidang pendidikan menjadi sumber kegalauan orang Tolaki dewasa ini. kekhawatiran ini kemudian memancak kepada perasaan tersisih dan terancam.

Kekhawatiran itu akan sangat berbahaya ketika diwujudkan dalam tindakan-tindakan radikal dan merusak tatanan sosial. Maka dibentuklah sayap paramiliter sebagai tameng dan ‘pemukul’ ketika ‘orang lain’ mengganggu kepentingan etnik mayoritas. Dengan cara ini, kita sedang mempertontonkan cara-cara kerja yang tidak profesional dalam mengelola keragaman dan kebersamaan. Kita sedang mempertontonkan ketidakmampuan, memperlihatkan kualitas, dan kinerja serta gagal bersaing secara sehat serta bermartabat.

Menatap Masa Depan

Musyawarah Adat Pusat Lembaga Adat Tolaki (LAT) ke IV merupakan langkah awal untuk menata kembali identitas kita sebagai orang Tolaki. Ini menjadi penting, sebab selama ini ada kesan bahwa identitas ke-tolaki-an kita sudah mulai pudar. Hal ini ditunjukkan dalam bentuk semakin kurangnya kebanggaan terhadap identitas kita, baik berupa perayaan tradisi, pakaian, kuliner, seni, dan bahkan bahasa. Memudarnya identitas sebagai orang Tolaki disebabkan oleh kegagalan dan kegagapan kita berhadapan dengan realitas. Baik itu realitas kemodernan maupun kesukubangsaan yang sangat beragam di daerah ini.

Ini kemudian berimbas kepada ‘kekalahan’ kita dalam semua lini kehidupan, baik itu kehidupan sosial, ekonomi, politik, maupun pendidikan. Kemunduran ini tentu tidak bisa serta merta menyalahkan pihak lain, etnis lain yang justeru semakin bangga dengan kesukuannya. Hal paling penting yang sejatinya kita lakukan adalah melangkah dengan penuh kebanggaan. Bangga terhadap tradisi dari para leluhur dan pada saat bersamaan tetap menjaga muruah kesukuan kita. Kita sejatinya harus merefleksi diri, memandang jauh ke kedalaman jiwa dan pikiran, sejauh mana kita masih memiliki rasa kebanggaan dan kepercayaan diri terhadap ketolakian kita.

Sebagai orang beragama, apapun kepercayaannya yang dianut, kita tentu mempersiapkan diri dan bijak menatap masa depan orang Tolaki yang lebih cemerlang. Perbedaan-perbedaan di masa lalu sejatinya hanya sekadar pembelajaran tentang bagaimana mengelola perbedaan-perbedaan itu sebagai sumber kekuatan bersama. Perbedaan-perbedaan cara pandang yang pernah terjadi di masa lalu, mestinya dianggap sebagai dialektika, sesuatu yang alamiah dan wajar. Riak-riak itu tidak sampai meretakkan hubungan kekerabatan dan hubungan kesukuan kita.

Musyawarah Adat Pusat LAT merupakan momentum yang sangat baik untuk merekatkan kembali “Pepokoaso’a”, momentum yang menyerap ide-ide besar untuk menatap masa depan suku tolaki yang lebih baik. Oleh karena itu, ide-ide besar untuk kemajuan orang Tolaki harus dapat diserap dan kemudian diimplementasikan dalam program kerja yang strategis.

Penutup

Xenophobia merupakan tantangan dan ancaman sekaligus kegagalan dalam menjaga muruah tradisi dan kebudayaan kita. Musyawarah daerah pusat Tolaki oleh LAT merupakan keniscayaan di dalam sebuah organisasi, bahkan kehendak untuk merevitalisasi kebudayaan. Tetapi pada saat bersamaan, kita tidak bisa mengabaikan kemajemukan atau pluralisme kewargaan. Kemajemukan sebuah negeri merupakan modal yang sangat bagus untuk mempercepat pembangunan sebuah negeri. Kemajemukan merupakan sunnatullah. Kepelbagaian suku bangsa menghendaki kesalingpengertian dan saling membersamai. Kecintaan dan loyalitas yang berlebihan (chauvinism) terhadap daerah, etnis dan budaya Tolaki sejatinya tidak berujung kepada pengabaian akan kualitas dan kebaikan-kebaikan yang dimiliki oleh daerah dan etnis lain di wilayah ini. (**)

*) Penulis adalah Ketua Presidium Forum Pelestarian Kebudayaan Tolaki, Anggota Dewan Sara Bawaa Pobende Sarano (Banderano) Tolaki.

1 Comment

1 Comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy