Stok Abate dan Cairan Fogging Terbatas, Dinkes Sultra : Semua Dianggarkan Masing-masing Daerah – Kendari Pos
Metro Kendari

Stok Abate dan Cairan Fogging Terbatas, Dinkes Sultra : Semua Dianggarkan Masing-masing Daerah

KENDARIPOS.CO.ID — Permintaan bantuan bubuk abate Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Kendari ke Dinkes Pemprov Sultra tidak bisa terpenuhi. Padahal korban akibat DBD kian menggila. Bahkan, sudah ada tiga korban meninggal dunia akibat gigitan nyamuk aedes aegypti. Stok bubuk abate di Dinkes Sultra terbatas. Instansi tersebut berdalih, dana pembelian bubuk abate tak dialokasikan tahun ini. Dinkes Sultra sengaja tak menganggarkan bubuk abate dan cairan fogging atau melathion. Sebab semua item penganggarannya telah diberikan kepada Dinkes kabupaten dan kota.

“Jadi untuk cairan foging seperti Melathion dan bubuk abate dianggarkan masing-masing kabupaten dan kota. Pemprov tahun ini menganggarkan Malathion tapi hanya sedikit dan untuk buffer stok provinsi. Paling hanya beberapa liter. Untuk bubuk abate tidak masuk dalam penganggaran tetapi akan dikondisikan agar juga bisa terbeli walau hanya dalam stok terbatas,” ujar dr. Irma, Kepala Seksi Penyakit Menular Dinkes Sultra.

Kasus DBD berdasarkan data per Januari sambungnya, sudah mencapai 145 orang. Tetapi ini masih terbilang rendah bila dibandingkan tahun lalu. Pada periode yang sama januari 2019, ada sebanyak 314 kasus. Berdasarkan data, penyebaran ini mengalami penurunan. Sehingga untuk kebutuhan abate dan Melathion bisa di atasi oleh setiap kabupaten dan kota. “Kami bisa memberikan ke Kabupaten dan Kota bila sudah terjadi kejadian luar biasa (KLB). Di mana populasi penyebaran DBD sudah melebihi angka 49 persen dari jumlah penduduk. Tapi daerahkan juga sudah menganggarkan, jadi kemungkinan itu bisa saja tidak terjadi,”ungkapnya.

Mengantisipasi penyebaran DBD, Dinkes Sultra telah menerbitkan surat edaran ke kabupaten dan kota tentang langkah-langkah kesiap siagaan peningkatan kasus. Selain itu, upaya penggerakan masyarakat melalui sosialisasi serta edukasi pemberantasan sarang nyamuk (PNS). Melalui kegiatan menguras, menutup dan memanfaatkan kembali barang bekas, plus mencegah gigitan nyamuk (3M Plus).

“Jadi ada juga upaya surveilans kasus dan surveilans faktor risiko terhadap kejadian DBD. Melalui kegiatan pemantauan jentik berkala (PJB) oleh petugas kesehatan puskesmas. Serta penyediakan bahan insektisida dan larvasida untuk pemberantasan nyamuk dan jentik. Intinya perlu menutup semua potensi terjadinya jentik baru untuk menekan jumlah kasus ini,”tutupnya.

Sebelumnya, Kepada Dinkes Kota Kendari, dr Rachmaningrum mengatakan terus berupaya mengantisipasi penyebaran DBD. Tidak hanya menggalakan kegiatan bersih-bersih dan namun juga fogging atau penyemprotan setiap harinya. Namun untuk pembagian bubuk abate dihentikan sementara. Pasalnya, stok bubuk abate habis. “Kami telah sudah menyurat ke Dinkes Sultra namun belum direspon, kemungkinan stok abate di Dinkes juga kosong karena banyaknya permintaan dari 16 Kabupaten Kota di Sultra, bukan hanya Kota Kendari,” tuturnya. (b/rah/idh)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Most Popular

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy