Sarjana Menganggur, Pilih Mencari atau Menciptakan Pekerjaan, Oleh : Muh. Benni Barakati – Kendari Pos
Opini

Sarjana Menganggur, Pilih Mencari atau Menciptakan Pekerjaan, Oleh : Muh. Benni Barakati

Muh. Benni Barakati

KENDARIPOS.CO.ID — Mendapatkan pekerjaan, merupakan suatu hal yang diinginkan seseorang, ketika telah menyelesaikan pendidikannya. Banyak cara yang dilakukan seseorang untuk mendapatkan pekerjaan layak. Seperti, melakukan pelatihan-pelatihan yang dapat meningkatkan kemampuan, mempertinggi tingkat pendidikan dan ada sebagian orang yang mengambil risiko tinggi dengan memulai usaha agar mendapatkan pekerjaan yang layak. Kendari merupakan ibu kota Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) yang memiliki kepadatan penduduk tertinggi. Dalam publikasi Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Tenggara yang berjudul: Kendari Dalam Angka 2019, menyebutkan, kepadatan penduduk di Kota Kendari mencapai 1.404 jiwa/km.

Jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, pertumbuhan penduduk Kota Kendari mengalami kenaikan sebesar 2,94 persen. Daerah yang memiliki kepadatan penduduk tinggi merupakan tantangan bagi para pencari kerja. Hal ini disebabkan, pencari kerja memiliki banyak saingan. Keterbatasan lapangan pekerjaan yang ada, menyebabkan sebagian pencari kerja tidak mendapatkan pekerjaan.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan angka pengangguran di Kota Kendari tahun 2019 sebesar 6,15 persen. Angka ini menjadi yang tertinggi di Provinsi Sultra, disusul Kota Baubau posisi kedua sebesar 5,84 persen, dan Kabupaten Muna sebesar 4,70 persen.
Tingginya angka pengangguran di Kota Kendari, karena ibu kota Sultra ini merupakan daerah urbanisasi. Banyak warga dari daerah mencari kerja ke Kota Kendari.

Jika melihatnya lebih spesifik lagi, menurut tingkat pendidikan yang ditamatkan jumlah penggangguran tertinggi yaitu tamatan SMA Umum (3.523 orang) dan yang kedua merupakan lulusan universitas sebanyak 2.807 orang. Kebanyakan lowongan pekerjaan yang tersedia tidak sesuai dengan tingkat pendidikan. Untuk diketahui, status pekerjaan dibedakan menjadi beberapa kategori: Pertama, Berusaha sendiri, adalah bekerja atau berusaha dengan menanggung risiko secara ekonomis. Yaitu tidak kembalinya ongkos produksi yang telah dikeluarkan dalam rangka usahanya tersebut. Serta tidak menggunakan pekerja dibayar maupun pekerja tak dibayar. Termasuk yang sifat pekerjaannya memerlukan teknologi atau keahlian khusus.

Kedua, Berusaha dibantu buruh tidak tetap/buruh tak dibayar, adalah bekerja atau berusaha atas risiko sendiri, dan menggunakan buruh/pekerja tak dibayar dan atau buruh/pekerja tidak tetap. Ketiga, Buruh/Karyawan/Pegawai, adalah seseorang yang bekerja pada orang lain atau instansi/kantor/perusahaan secara tetap dengan menerima upah/gaji baik berupa uang maupun barang. Keempat, Pekerja bebas di pertanian, adalah seseorang yang bekerja pada orang lain/majikan/institusi yang tidak tetap di usaha pertanian, baik berupa usaha rumah tangga maupun bukan usaha rumah tangga atas dasar balas jasa dengan menerima upah atau imbalan baik berupa uang maupun barang, dan baik dengan sistem pembayaran harian maupun borongan. Kelima, Pekerja bebas di nonpertanian adalah seseorang yang bekerja pada orang lain yang tidak tetap di usaha non pertanian dengan menerima upah atau imbalan baik, berupa uang maupun barang dan baik dengan sistem pembayaran harian maupun borongan.

Jumlah pengangguran sarjana yang berada di peringkat kedua, tentunya menimbulkan pertanyaan: mengapa hal itu bisa terjadi? Ada banyak hal yang menyebabkan banyaknya pengangguran sarjana di Kota Kendari. Salah satunya, para sarjana tidak ingin bekerja di sektor pekerjaan yang tidak melihat status pendidikan, seperti pelayan tempat makan, petani atau sejenisnya. Mereka berpikir, apabila bekerja di tempat tersebut membuat kuliahnya menjadi sia-sia. Pola berpikir seperti inilah yang membuat mereka sulit mendapatkan pekerjaan.

Untuk mengatasi banyaknya pengangguran, serta minimnya pekerjaan yang masih belum layak, erat kaitanya dengan agenda yang dirancang negara anggota PBB yaitu SDGs. Di mana Indonesia juga turut serta dalam pengesahan SDGs. Dalam perumusan tujuan dari SDGs, terdapat 17 tujuan dan 169 target. Tujuan ke- 8, yaitu Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi. Hal ini bertujuan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi inklusif dan berkelanjutan, kesempatan kerja produktif serta kerja layak untuk semua.

Pemerintah Indonesia akan mengintegrasikan SDGs ke dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) dengan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). Ini sebagai badan koordinator untuk penerapan SDGs yang bersifat lintas sektor. Dengan pengintegrasian SDGs ke dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM), diharapkan dapat menekan angka pengangguran yang ada dan menciptakan pekerjaan yang layak.

Untuk Kota Kendari yang angka pengangguran lulusan universitas cukup tinggi, tentunya tidak bisa berharap penuh dari usaha pemerintah dalam mewujudkan tujuan 8 SDGs. Lulusan universitas diharapkan memiliki inovasi-inovasi sendiri untuk menekan angka pengangguran yang ada. Tuntutan inovasi dari mahasiswa sejalan dengan kebijakan dari Kemendikbud yang membolehkan mahasiswa magang dengan durasi lebih lama. Mahasiswa dapat memperoleh kompetensi lebih baik di perusahaan. Dunia industri juga mendapatkan manfaat lebih. Karena mahasiswa magang akan mendapatkan waktu cukup untuk memahami suatu pekerjaan. Mahasiswa magang dengan kompetensi baik, tentu akan menjadi kandidat pertama, ketika perusahaan tersebut melakukan rekrutmen pegawai. Dosen pendamping magang juga dapat memperbaharui bahan ajar sesuai dengan perkembangan kebutuhan dunia industri dan masyarakat.

Dengan adanya pengalaman magang mahasiswa ketika berkuliah yang lebih lama, diharapkan mereka ketika lulus akan lebih mengetahui tentang dunia pekerjaan. Pengalaman magang yang lebih lama, juga dapat memudahkan mahasiswa ketika lulus untuk mendapatkan pekerjaan. Sebagai lulusan universitas di era Industri 4.0 yang dituntut berinovasi, sudah seharusnya sarjana tidak berharap penuh dengan lapangan pekerjaan yang ada. Akan tetapi, menciptakan sebuah inovasi yang nantinya dapat menyerap tenaga kerja, baik dari sarjana maupun lulusan SMA ke bawah. Sehingga nantinya dapat memberdayakan pengangguran yang ada di Kota Kendari serta meningkatkan pertumbuhan ekonomi Kota Kendari.

Jadi, sekarang pilihannya ada pada diri sendiri. Apakah tetap mengeluh sambil mengharapkan pekerjaan dari pemerintah. Atau segera bangkit dan menciptakan pekerjaan bagi diri sendiri dan orang lain. Tidak mudah, tapi bukan berarti tidak bisa. Lagi pula sekarang pemerintah menyediakan pendanaan bagi kaum milenial yang ingin membangun usaha. Pilihannya tinggal pada diri kita saja. Kalau diberi pilihan: mencari pekerjaan atau menciptakan pekerjaan, pilihan bijaknya tentu menciptakan pekerjaan. (*)

*Penulis adalah Mahasiswa Politeknik Statistika STIS Jakarta asal Kendari

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy