Pedagogi Kasih Sayang Jurus Handal Guru Milenial, Oleh: Dra. Rosnawati, M.Hum – Kendari Pos
Opini

Pedagogi Kasih Sayang Jurus Handal Guru Milenial, Oleh: Dra. Rosnawati, M.Hum

Dra. Rosnawati, M.Hum

KENDARIPOS.CO.ID — Salah satu kompetensi harus dimiliki oleh guru hebat dalam mengemban amanah mulia adalah kompetensi pedagogi. Di sinilah guru membangun hubungan atau kontak langsung dengan peserta didik. Dengan demikian, guru sangat diharapkan memiliki kepekaan dan pemahaman mendasar terhadap latar belakang siswa. Serta menggunakan strategi tertentu untuk menjalin komunikasi harmonis, menuju pada pencapaian tujuan pendidikan secara hakiki, seperti yang diamanatkan dalam UU RI Nomor 20 Tahun 2003.

Pada hakikatnya, pendidikan itu adalah kasih sayang. Karena sesungguhnya manusia tidak dapat mendidik, jika tidak dilandasi dengan kasih sayang. Dasar pendidikan adalah kasih sayang, cinta kasih yang tulus. Kalau guru sudah kehilangan kasih sayang kepada muridnya, maka saat itulah pendidikan mulai kehilangan jati dirinya”. Sejalan dengan pendapat di atas, dipertegas dalam bagian Asmaul Husna yakni ‘ Ar-Rahman dan Ar-Rahim-Nya Sang Maha Pengasih dan Maha Penyayang kepada Hamba-Nya. Untuk itu, manusia sepatutnya mengamalkan sifat kasih sayang ini kepada sesama. Karena pada prinsipnya kita semua senantiasa merindukan kasih sayang.

Seperti halnya siswa yang selalu menginginkan sentuhan kasih sayang dari gurunya. Hakikat kasih sayang yang dimiliki manusia (guru) tidak dapat tergantikan oleh kehebatan teknologi. Pada dasarnya, kemutakhiran teknologi pendidikan seperti komputer dan telepon genggam tidak mempunyai hati dan perasaan untuk menyentuh nurani, dan emosi anak. Sesungguhnya demikian itulah yang seharusnya kita sebagai guru dalam memperlakukan peserta didik. Terutama ketika menghadapi segala tingkah laku mereka. Hendaknya selalu berusaha untuk menyentuh hati nuraninya, menjauhkan amarah dan senantiasa menghindari kekerasan, baik kekerasan fisik maupun psikis/kekerasan verbal.

Frase ‘Kasih Sayang’ yang menjadi akronim Pekasa, sepatutnya dijadikan sebagai landasan mendidik oleh para guru untuk mewujudkan konsep pendidikan humanis. Yang dimaksud Pedagogi Kasih Sayang adalah bentuk perlakuan diberikan kepada siswa yang melibatkan hati dan perasaan guru. Menuntut kesabaran, ketulusan dan kepedulian dalam menghadapi berbagai karakter manusia. Karena pada dasarnya setiap manusia itu unik. Artinya masing-masing peserta didik memiliki permasalahan dan latar belakang yang berbeda-beda.Tentu hal itu membutuhkan pemahaman dan perhatian guru yang maksimal dan melibatkan rasa humanis yang mendalam.

Selanjutnya, upaya yang sudah dilakukan untuk mendidik harus dibarengi dengan doa. Doa mempunyai kekuatan yang dahsyat, terutama doa orang tua/guru untuk anaknya/siswanya. Guru memohonkan agar peserta didik diberi kesehatan dan kekuatan, dibuka hati dan pikirannya untuk menerima kebermanfaatan ilmu. Demikian pun dengan guru itu sendiri, sepatutnya terus berdoa agar senantiasa diberi kekuatan, kesabaran, ketulusan dan keikhlasan dalam mendidik. Dalam menerapkan pedagogi kasih sayang ini, menggunakan bahan baku dan alat utama yaitu ‘penggunaan bahasa santun ’. Pada setiap interaksi antara siswa dan guru diupayakan selalu menggunakan bahasa yang sopan, tutur kata lembut sehingga tercipta suasana yang indah dan nyaman dalam lingkungan sekolah.

Dengan cara seperti itu, sekaligus akan menggiring siswa dan guru untuk menghindari terjadinya konflik. Tidak dapat dipungkiri bahwa di dalam aktivitas keseharian di sekolah sering terjadi kekerasan verbal, yang dilakukan oleh warga sekolah, yakni semua bentuk ucapan dan perkataan yang muatannya menyakiti secara fsikis, seperti; menghina, merendahkan, melecehkan, mengecam, mengancam, mengolok-olok dan lain sebagainya yang sifatnya menyimpang dari kesantunan berbahasa dan melanggar makna rasa bahasa.

Jurus Jitu Penerapan Pedagogi Kasih Sayang

Pertama, dalam setiap kegiatan pembelajaran, selalu diawali dengan doa. Guru menuntun dan mengarahkan agar siswa berdoa memohon kepada Tuhan dengan lantunan doa. Sebaiknya, saat itu guru juga harus berdoa secara tulus dengan permohonan yang sama. Insya Allah akan menyatu kekuatan dan kedahsyatan doa guru dan peserta didik. Kedua, mengelola kelas dengan menyuruh siswa untuk memungut sampah sekecil apapun yang berada di sekitarnya. Lalu merapikan posisi meja dan kursi masing-masing. Ketiga, membangun mental siswa untuk siap belajar dengan memberikan komentar positif dan kalimat-kalimat motivasi yang bisa menyentuh perasaan.

Keempat, memanfaatkan bahasa cinta sebagai pintu masuk dalam proses belajar mengajar. Dengan bahasa cinta berupa pujian atau penghargaan secara verbal, akan memudahkan guru dalam mendidik. Kelima, menyajikan materi pembelajaran dengan suasana nyaman. Tidak ada ketegangan dan tekanan. Guru mendesain pembelajaran dengan senyum, sapaan ramah dan tatapan lembut. Dengan demikian peserta didik menemukan keteduhan dan merasa diperhatikan dan disayangi oleh guru. Keenam, pada saat menjelaskan tujuan kompetensi dasar, guru sebaiknya berpikir bahwa materi tersebut disajikan bukan semata-mata mengharapkan dan menuntut siswa untuk memahami serta mengerti esensi dari mata pelajaran, namun yang lebih penting adalah orinentasi ke pembentukan sikap mental siswa.

Ketujuh, ketika pembelajaran berlangsung, kemudian terdapat tingkah laku siswa yang menyimpang dari tujuan, maka guru tetap dengan bijaksana menangani siswa yang bersangkutan. Dengan cara menegur secara halus, bahkan disertai dengan canda dan bahasa humor. Guru harus sabar menghadapi mereka, selalu berjiwa besar dan optimis bahwa kelak anak tersebut akan menjadi orang sukses. Oleh karena itu, jangan melihat keberadaan siswa itu dengan kondisi sekarang.

Kedelapan, tidak dapat dihindari bahwa ada-ada saja perilaku siswa untuk memancing perhatian guru. Misalnya ribut, membuat gaduh dalam kelas, dan lain sebagainya. Sehingga, terkadang memaksa guru untuk marah dan memberi sanksi. Namun hal ini dapat diantisipasi dengan mengelola emosi yang baik. Diantaranya, dengan cara menyebut nama siswa tersebut sambil tersenyum. Misalnya ‘ada apa Reza sayang’, ‘mengapa Irvin sayang kamu ribut’. Kesembilan, memberi kesempatan kepada siswa untuk selalu aktif dalam kegiatan belajar. Seperti: menjawab pertanyaan, mengemukakan pendapat dan argumentasi, mendialogkan naskah drama, serta memberikan pujian dan penghargaan. Sekecil dan sesederhana apapun keaktifan siswa itu harus diberi nilai.

Kesepuluh, di tengah kegiatan belajar, guru dapat memberi jeda dengan menentukan waktu kepada siswa untuk rileks sejenak dengan cara seperti; mempersilahkan mereka saling bercerita/bercanda dengan teman duduk, keluar sejenak, atau meminta siswa mengungkapkan kesan yang menarik hari itu. Dan lain-lain yang sifatnya bisa membuat siswa untuk sedikit bersantai, melepaskan rasa lelah. Kesebelas, menutup pembelajaran dengan meminta siswa menyampaikan pengalaman belajar yang didapatkan hari itu. Selanjutnya guru memohon maaf pada setiap akhir pembelajaran. Serta, selalu memaafkan perilaku siswa yang kurang berkenan. Sehingga hari itu semua berakhir dengan nyaman tanpa beban apa pun. Keduabelas, diakhir pembelajaran guru sepatutnya menganjurkan siswa untuk selalu berdoa. (*)

*Penulis Guru Bahasa Indonesia SMA Negeri 1 Kolaka

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Most Popular

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy