Ore Nikel “Dirampok”, Bupati Kolut Geram, Nur Rahman : Kami Mau Aktivitasnya Dihentikan! – Kendari Pos
HEADLINE NEWS

Ore Nikel “Dirampok”, Bupati Kolut Geram, Nur Rahman : Kami Mau Aktivitasnya Dihentikan!

Kapal tongkang yang bersandar di jety PT.KMR

KENDARIPOS.CO.ID — Kesabaran Bupati Kolaka Utara (Kolut), Nur Rahman Umar sedang diuji. Dia geram melihat ore nikel di wilayahnya “dirampok”. Tapi Nur Rahman Umar tak punya kuasa bertindak tegas. Kewenangan penuh berada di tangan Dinas Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Sultra.

Nur Rahman Umar sangat tahu para penambang-legal maupun ilegal-leluasa bergerak dan mengeruk ore nikel dari perut Bumi Patowonua. Bahkan ada pemilik IUP belum mengantongi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB).

Wajar saja Nur Rahman Umar geram. Sebagai kepala daerah, dia tak diberi tahu tentang keberadaan perusahaan maupun perorangan menambang ore nikel di Kolut. “Sejauh ini ESDM juga tidak memberikan laporan atau semacam dokumen legal ke daerah (Kolut,red),” kesal Nur Rahman Umar.

Pengganti Rusda Mahmud itu mengaku telah berkali-kali melontarkan penolakannya atas tambang ilegal di wilayahnya.Sebab, Pemkab Kolut kerap menjadi sasaran keluhan dan protes masyarakat terkait aktivitas tambang nikel. “Kami maunya aktivitasnya agar dihentikan dan ditata agar tertib sehingga diketahui mana yang resmi dan tidak. Terus terang kami yang kena imbasnya,” ujar Nur Rahman Umar.

Nur Rahman mengaku tidak menolak pertambangan sepanjang sesuai prosesur dan perundang-undangan. Namun alangkah tidak bijaknya jika kekayaan mineral di Kolut dikeruk namun Pemkab dan masyarakat hanya menjadi penonton di wilayah sendiri. Selain itu, tak ada kontribusi pertambangan untuk daerah dan masyarakat Kolut. “Mohon ESDM Sultra menurunkan tim ke Kolut dan menertibkan yang ilegal itu. Kalau inspektur tambang pernah datang melapor ke sana dan kalau tidak salah Oktober 2019,” ungkapnya.

Sebelumnya, Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPM PTSP) Kolut mengidentifikasi banyak penambang yang mengeruk nikel di Kecamatan Batu Putih. Anehnya, tak satupun yang bisa menunjukkan kepemilikan RKAB tahun 2020. Artinya, ore nikel diambil secara ilegal dan dibawa ke luar daerah.

Kabid Penyelenggaraan Pelayanan Perizinan dan Non Perizinan DPM PTSP Kolut, Taufiq mengaku tidak tahu pasti jumlah kapal tongkang yang lalu lalang mengangkut ore dari Batu Putih sepanjang Januari-Februari. Akan tetapi diperkirakan diatas sepuluh unit yang bersandar silih berganti. “Banyak kapal tongkang yang sandar di jety milik PT.Kurnia Mining Resources (KMR). Semuanya di situ. Diduga ore nikel dari IUP PT.Kasmar Tiar Raya (KTR) juga di sana,” ujarnya, Jumat (14/2).

DPM PTSP menduga kuat pengangkutan ore nikel itu ilegal berdasarkan hasil sidak ke lapangan. Rata-rata pemilik IUP tak bisa menunjukkan dokumen RKAB. Manajemen PT.Tambang Mineral Maju (TMM) hanya mengklaim punya RKAB tapi tidak bisa menunjukkan secara fisik ke DPM PTSP Kolut. “Kami telah mengonfirmasi ke ESDM jika sepanjang Januari tidak pernah menerbitkan dokumen apapun terkait tambang di Kecamatan Batu Putih termasuk Surat Keterangan Verifikasi (SKV),” beber Taufiq.

Dugaan Taufiq itu bukan tanpa alasan. Saat dia berkunjung ke salah satu lokasi pengerukan, para pekerja tiba-tiba berpencar membubarkan diri. Raungan alat berat seketika berhenti. Diakuinya, pengawasan kepada perusahaan tambang masih lemah. Versi Taufiq, selama ini tidak pernah mendengar ada inspektur tambang turun ke Kolut untuk memantau dan mengawasi. “Kalau di sini saya tidak pernah lihat dan mendapat informasi kalau inspektur tambang ke Kolut,” ujarnya.

Taufiq menjelaskan jety PT. KMR tidak boleh digunakan perusahaan lain. Kecuali jika dialihkan statusnya menjadi pelabuhan umum sehingga dapat digunakan perusahaan lain. “Sementara di sana bukan hanya PT.KMR saja tetapi sebagian besar perusahaan mengangkut ore melalui jety PT.KMR. Alih status jety itu katanya juga sedang diurus. Itu berarti belum ada alih status,” ungkapnya.

Selain jety PT KMR dan PT. KTR di Kecamatan Batu Putih, Kendari Pos juga menemukan dermaga bayangan yang diduga ilegal. Hal itu telah ditelusuri ke lapangan yang berlokasi di Desa Lelewawo atau sebelah utara dari jety PT.KMR. (rus/b)

1 Comment

1 Comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Most Popular

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy