Menguji “Kultus” Amien Rais, Oleh: La Ode Diada Nebansi – Kendari Pos
Kolom

Menguji “Kultus” Amien Rais, Oleh: La Ode Diada Nebansi

La Ode Diada Nebansi (Direktur Kendari Pos)

KENDARIPOS.CO.ID — Melihat sejarah Kongres Partai Amanat Nasional (PAN), dari Kongres ke Kongres, pengaruh Amien Rais begitu kental. Memanas bagaimanapun situasi Kongres, begitu sang Penggagas, sang Pendiri, dan sang Deklarator PAN itu muncul, seketika langsung mendingin. Sebaliknya, sedingin apapun suasana Kongres, ketika Pak Amien muncul, maka seketika itu juga memanas. Yah, seolah-olah ada “kultus” di badan Amien bagi kalangan kader PAN.

Sebutlah, Apa kata Mega di Kongres PDIP. Sebutlah SBY di Kongres Demokrat dan Prabowo di Kongres Gerindra.
Bukankah jauh-jauh hari telah terdeteksi seperti apa keinginan ketiganya dan karena itu, kader-kader inti partai mensiasatinya lalu merumuskannya untuk meriilkan keinginan sokogurunya. Mereka tak ingin berrival. Tetap berjalan demokratis walau nilai kultus sangat nampak di sana.

Sekarang, sebutlah, apa kata Amien Rais di PAN. Oh, ternyata berbeda suasana dengan PDIP, Demoktrat dan Gerindra. Di partai PAN, ada pengembaraan pemikiran bagi kader-kader tangguh partai untuk berkopetisi di Kongres. Karena itu, irama Kongres PAN selalu terasa hangatnya hingga Sabang Merauke. Kongres II PAN di Semarang yang melahirkan Soetrisno Bachir, terasa panasnya hingga Kendari. Kongres III PAN di Batam juga tak kalah panas namun perlahan mendingin setelah Amien Rais muncul di arena Kongres yang melahirkan Hatta Radjasa. Panasnya Kongres PAN IV yang baru “berlalu” di Bali, Hatta Radjasa benar-benar merasakan itu.

Dari Kongres ke Kongres, memang panas. Tapi, ketika Amien Rais tampil, dinginlah suasana itu. Sampai dengan Kongres Bali, dimana Pak Amien berada, di situlah arus besar dukungan mengalir. Singkat kata, siapa yang ke Condong Catur, dialah ketua. Condong Catur dukung SB di Kongres Semarang, SB menang. Condong catur backup Hatta Radjasa di Kongres Batam, Hatta menang. Condong Catur inginkan Zulkifli Hasan di Kongres Bali, Pak Zul menang.

Uniknya, kenapa harus bertarung jika kemenangan Kongres itu dominan dipengaruhi keputusan Condong Catur? Ya, itulah Pak Amien Rais. Membebaskan para kader tangguh PAN mengembara dalam kontestasi Kongres, hingga para kader tangguh itu acapkali terjerembap dan seolah-olah berseberangan dengan sang pendiri partai. Karena itu, rivalitas seru dan terbuka dalam arena Kongres tak bisa dielak. Amien Rais memberi kebebasan, kader pun berani tampil sebagai rival walau sesungguhnya, mereka yang tampil dalam perebutan kursi Ketum DPP PAN, juga “orang-orang” Amien Rais.

Yang pasti bahwa, tiga kali Kongres PAN terakhir, memberikan realitas bahwa dimana Amien Rais berpihak di situlah kemenangan. Siapa yang diinginkan Amien selalu menang. Hanya ada catatan, di Kongres Bali, rivalitas Hatta Radjasa vs Zulkifli Hasan yang hanya selisih 6 suara, nampaknya bisa dijadikan “sabuk” keberanian dan atau sertifikat “rasa enteng” menghadapi Sang Pendiri. Ketika itu, Amien Rais menginginkan Zulkifli Hasan.

Lalu siapa yang akan didorong oleh sang Deklarator? Gampang melacaknya. Bukankah Pak Amien acapkali menggaungkan oposisi. Siapa yang berkomitmen untuk berdiri pada kaki oposisi, maka dialah orangnya. Sesungguhnya, sikap ini juga justeru menggampangkan rivalnya kelak. Artinya, kalau anda oposisi, maka saya harus koalisi. Kenapa? Karena ini dua-duanya sebagai kekuatan.

Berikut, siapa yang akan didorong Pak Amien, antara besan dan anak. Secara psikologi, bergandengnya Mulfachri-Hanafi, apalagi diiklankan secara terbuka, dan, tak ada sikap “Yes/No” dari sang pendiri PAN nomor wahid, adalah isyarat bahwa dukungan mengarah ke Mulfachri. Karena itu, sang besan sudah dapat mengambil kesimpulan, bahwa antara besan dan anak, tentulah anak yang didahulukan. Jikapun dukungan ternyata mengarah ke sang besan, dipastikan telah terjadi deal-deal. Misalnya, silahkan maju dan saya akan perkuat, dan demi dan marwah partai, saya minta ini dan itu. Deal ini tidak hanya ke Zul, tetapi juga ke kandidat lain, Asman maupun Drajat. Andai skenario ini mentok, kayanya, performa Kongres Bali masih akan terulang. Ada yang namanya kubu ini dan kubu itu.

Ada yang namanya karantina. Ada yang namanya mati HP, ada yang namanya “sudah susah dihubungi”, terakhir, ada prediksi perolehan suara. Naga-naganya, Kongres akan menghasilkan menang tipis dan nyaaaris menang. Yang pasti, empat calon yang disebut-sebut akan tampil dalam pertarungan, Zulkifli, Asman Abrur, Drajat Wibowo dan Mulfachri adalah orang-orang lama di PAN. Dan karenanya, pengalaman kalah dan menang dalam Kongres telah dilewati.

Nah, dengan pengalaman itu, apakah mereka berempat mendahulukan kalah tipis atau kompromi dalam rangka kesolidan partai mengingat kader-kader PAN boleh dikata masuk dalam daftar penggerak negeri ini. Terakhir, andai tulisan ini menyinggung perasaan dan merangsang aderanalin emosi: saminta maap. Bahasa Jawa-nya, nyuwun pangapunten. (nebansi@yahoo.com)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy