Memilukan, Balita Penderita Gizi Buruk asal Busel : Tubuh Kurus Kering, Hanya Kulit Membalut Tulang – Kendari Pos
HEADLINE NEWS

Memilukan, Balita Penderita Gizi Buruk asal Busel : Tubuh Kurus Kering, Hanya Kulit Membalut Tulang

Damar Wulan digendong sang ibu, Yati. Saat ditemui di ruang Anggrek RS Palagimata, Baubau, Damar sudah bisa merespon situasi dan orang disekitarnya. Namun kondisinya masih sangat lemas.

KENDARIPOS.CO.ID — Damar Wulan namanya. Usianya menapaki tiga tahun satu bulan. Dia lahir normal 23 November 2016 lalu dari pasangan suami istri, Anton dan Yati. Tak berbeda dengan anak-anak lainnya. Tiga bulan lalu, berat badannya terus menurun hingga di vonis mengalami gizi buruk.

Betapa bahagianya pasutri Anton dan Yati, kala Damar Wulan lahir. Suara tangis dan keceriaan Damar terkadang menghadirkan kerinduan di relung hati Anton saat mengais rezeki di lautan lepas.

Pasutri asal Desa Wambongi Kecamatan Batu Atas, Buton Selatan (Busel) itu sungguh bahagia mendapat karunia anak laki-laki. Kala melaiut, Anton ingin lekas-lekas pulang untuk melepas rasa rindu pada Damar. “Biasanya saya tinggalkan rumah itu satu minggu. Mencari telur ikan sampai ke perairan Tual, Maluku. Setelah Damar lahir, jadi cepat rindu rumah,” cerita Anton kepada Kendari Pos, Sabtu (2/2) malam.

Kebahagiaan Anton terenggut sejak tiga bulan lalu. Damar tumbuh tak normal. Anton dan sang istri, Yati, gundah gulana melihat anaknya yang kini terbaring lemas di atas brankar ruang Anggrek Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Palagimata Kota Baubau.

Tubuh Damar kurus kering. Hanya kulit membalut tulang. Wajahnya terlihat tirus. Tulang pipi menonjol. Bola mata Damar terlihat lebih besar dari ukuran normal. Sungguh sangat memilukan. Meski masih lemas, Damar sudah dapat merespons setiap pembesuknya. Tangan mungilnya diulurkan menyambut jabat tangan dan mencium tangan siapa saja yang datang membesuknya. Selang inpus yang menempel di tangan kiri, membuat Damar tak bebas bergerak.

Anton menuturkan, tiga bulan lalu, Damar mulai didera sakit. Sakitnya tak biasa. Diare dan muntah-muntah. Makanan yang dimuntahkan pun bercampur ulat. Damar kecil yang biasanya aktif dan ceria, mendadak tak merespons orang di sekelilingnya. “Dia tidak pernah mengeluh apanya yang sakit. Tapi setiap makanan yang masuk, pasti dimuntahkan. Pertama muntah itu ada ulat-ulatnya, kita langsung bawa di puskesmas,” ujar Anton.

Setelah mendapat resep dokter, Damar dirawat orang tua di rumah. Di samping itu, pengobatan tradisional juga dilakoni. Kondisi Damar bukannya membaik. Justru kian mencemaskan. Berat badannya semakin turun. Menyisakan kulit membalut tulang.

Puncaknya, dua pekan lalu, Damar tidur dengan durasi lebih lama dari biasanya. Tubuh ringkihnya tak lagi merespons apapun. Seisi rumah Anton dan para tetangga pun panik. “Delapan hari yang lalu, saya pikir sudah pergi (tiada,red). Karena tidak bergerak lagi. Tapi perutnya masih kembang kempis. Kita bawa ke dokter, lalu dirujuk ke RS Palagimata, Baubau. Saya langsung carter katingting (perahu motor,red),” jelas Anton.

Perjuangan Anton menuju RS Palagimata, Baubau dari Buton Selatan tidaklah mudah. Dia bersama sang istri, Yati dan anaknya, Damar harus berjibaku dengan deburan ombak yang tak bersahabat. Kondisi itu berlangsung selama tiga jam jarak tempuh dari Batu Atas, Buton Selatan menuju Kota Baubau.

Laman: 1 2

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Most Popular

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy