Limbah Tambang di Kolut Cemari Tambak Warga, Panen Ikan Memburuk – Kendari Pos
HEADLINE NEWS

Limbah Tambang di Kolut Cemari Tambak Warga, Panen Ikan Memburuk

Pemilik tambak di Desa Latowu, Nang menunjukkan tambaKnya yang tercemar limbah pertambangan nikel. Kondisi itu berdampak buruk pada hasil panen ikan.

KENDARIPOS.CO.ID — Aktivitas pertambangan di Desa Latowu Kecamatan Batu Putih Kabupaten Kolaka Utara (Kolut) terancam rugi besar. Tambak ikan mereka terkontaminasi limbah pertambangan nikel. Lokasi pertambangan nikel tak jauh dari titik tambak warga.

Pemilik tambak ikan, Nang (32) mengaku hasil panennya anjlok lantaran air sungai yang digunakan untuk tambaknya sudah berubah warna kecoklatan. Mereka tidak punya pilihan lain guna mengairi tambaknya selain mengandalkan air sungai.

Sebelum sungai tercemar, penghasilan Nang bisa mencapai Rp 40-45 juta sekali panen dari luas tambak 1,5 hektare. Kini, tersisa Rp. 500 ribu saja. “Kita merugi, pak. Kita mau apa lagi kasihan. Hanya ini sumber pendapatan kita. Coba lihat airnya, sudah kecoklatan. Dan semua tambak begini kondisinya karena sumber airnya satu, dari sungai,”ucap Nang sembari menunjukkan tambak miliknya kepada Kendari Pos, Rabu (26/2).

Tidak hanya air yang tercemar, Nang menunjukkan beberapa ternak ikannya yang terpapar limbah pertambangan nikel. “Kita lihat mi itu. Ikan berenang saja sudah kayak mau mati. Sisik-sisiknya juga terkelupas. Kadang kita percepat panen, takutnya banyak yang mati,” ungkapnya sedih.

Ia meminta Pemkab, DPRD, polisi hingga ESDM Sultra bisa mengambil langkah konkrit guna memperhatikan nasib para pengusaha tambak yang dihantui kerugian. Begitu juga dengan perusahaan yang menjadi penyumbang dampak pencemaran diharapkan tidak memikirkan kepentingan pribadinya sementara masyarakat yang menjadi korban. “Kami minta perhatian semua pihak. Kita ini hanya mencari nafkah untuk sekadar makan. Tolonglah kami,”tutup Nang.

Tambak di Desa Latowu memang menjadi wilayah perikanan darat yang berdampingan dengan aktivitas pertambangan di sana. Jalan menuju ke jety juga melintasi lokasi tambak. Jety itu milik PT Kasmar Tiar Raya (KTR) yang diduga masih aktif melakukan aktivitas pemuatan ore ke kapal tongkang. Bukan hanya PT.KTR, terdapat sejumlah perusahaan lain seperti PT. Tambang Mineral Maju (TMM), PT. Rai Dili Pratama (RDP) dan lainnya yang juga dianggap menjadi penyumbang kesengsaraan masyarakat Batu Putih.

Alih-alih ditertibkan, sampai sekarang tidak ada langkah tegas dari Dinas ESDM Sultra. Padahal, Bupati Kolut, Nur Rahman Umar telah meminta pemprov agar menghentikan pertambangan di Batu Putih.

Luas tambak yang terdampak aktivitas pertambangan di Desa Latowu berdasarkan keterangan Kabid Pengelolaan Pembudidayaan Ikan Dinas Perikanan Kolut, Ali Wardana disebutkan seluas 207,5 hektare. Jumlah itu diluar perikanan air tawar seluas 20 hektare. Sebelum pertambangan aktif kembali 2018 silam, berdasarkan pencatatan statistik instansinya angka hasil panen sebanyak 2.371, 77 ton. “Kami belum rekap data terbaru namun pencatatan sementara sangat jauh sekali penurunannya,” ujarnya. (rus/b)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy