Kasus DBD di Sultra Meningkat – Kendari Pos
Metro Kendari

Kasus DBD di Sultra Meningkat

KENDARIPOS.CO.ID — Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) kini mulai mengintai warga Sultra. Sejak memasuki musim penghujanan Desember 2019, penderita penyakit yang disebar nyamuk Aedes Aegypti mulai teridentifikasi. Desember 2019, Dinas Kesehatan (Dinkes) Sultra mencatat 26 kasus. Di Januari 2020, DBD meningkat signifikan menjadi 145 kasus. Tiga diantaranya tak bisa tertolong. Namun fenomena penyakit musiman ini belum menunjukan adanya Kejadian Luar Biasa (KLB).

Plt Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sultra, dr Andi Hasnah mengatakan jumlah kasus DBD di Sultra bertambah. Kendari, Wakatobi dan Muna menjadi daerah dengan kasus terbanyak. Untuk bulan Februari ini, data yang masuk baru dari Kota Kendari. Hingga medio Februari, sebanyak 34 kasus dan satu diantaranya meninggal dunia. Namun saat ini, hampir semua RS di daerah telah menangani pasien DBD. Hanya saja, populasi penyebaranya belum banyak.

“Selama periode Desember-Februari, baru tiga kasus pasien DBD yang meninggal. Semuanya di Kota Kendari. Jika dibandingkan tahun lalu, kasus DBD menurun. Di periode bulan Januari tahun lalu, sebanyak 314 kasus DBD. Tahun ini, hanya 145 kasus. Namun demikian, kami tetap berupaya melakukan antisipasi secara maksimal,” kata dr Andi Hasnah kemarin.

Kepala Seksi Penyakit Menular Dinkes Sultra, dr. Irma mengatakan kasus DBD tahun 2018 sebanyak 655 kasus dengan jumlah kematian 5 orang. Terjadi peningkatan kasus pada tahun 2019 sampai dengan November sebanyak 1.493 kasus dan kasus kematian sebanyak 9 kasus. “Untuk tahun 2020 di Sultra saya pikir masih belum masuk kategori berbahaya. Di mana ini belum menunjukkan adanya KLB. Tapi kami berharap semoga itu tidak terjadi. Intinya diawal tahun ini, data DBD kita menurun dibanding tahun 2019,” terangnya.

Untuk wabah DBD menyerang, pihaknya telah melakukan langkah antisipasi. Dinkes Sultra telah bersurat ke Pemkab/Pemkot untuk siapsiaga mengantisipasi penyebaran penyakit DBD. Di sisi lain, pihaknya telah menggalakan gerakan pemberantasan sarang nyamuk (PNS). Melalui kegiatan menguras, menutup dan memanfaatkan kembali barang bekas, plus mencegah gigitan nyamuk (3M Plus).

“Jadi ada juga upaya surveilans kasus dan surveilans faktor risiko terhadap kejadian DBD. Melalui kegiatan pemantauan jentik berkala (PJB) oleh petugas kesehatan puskesmas. Serta penyediakan bahan insektisida dan larvasida untuk pemberantasan nyamuk dan jentik. Intinya perlu menutup semua potensi terjadinya jentik baru untuk menekan jumlah kasus ini,”jelasnya. (b/rah)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Most Popular

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy