Ijtihad untuk Umat dan Bangsa, Oleh: Muhammad Ikram Pelesa – Kendari Pos
Opini

Ijtihad untuk Umat dan Bangsa, Oleh: Muhammad Ikram Pelesa

KENDARIPOS.CO.ID — Tepat tanggal 5 Februari tahun 2020, usia Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) memasuki umur 73 tahun. Jika diibaratkan seorang manusia, ia telah menua, rentan dengan berbagai macam penyakit. Tentu, telah menjadi kebiasaan, akan selalu ada evaluasi maupun refleksi atas perjalanan panjang yang telah dilalui untuk dijadikan sebagai renungan dan selanjutnya menentukan bagaimana strategi perjuangan di masa mendatang. Walaupun telah menua, sebagai wadah organisasi (kemahasiswaan), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) memang tidak dapat dibandingkan dengan misalnya, Persis, Muhamadiyah maupun Nahdhatul Ulama (NU) atau bahkan partai politik yang memiliki banyak sumberdaya dengan peran yang langsung (secara kasat mata) dapat dinikmati oleh masyarakat.

Namun, meski HMI hanya organisasi yang tidak mempunyai sekolah, pesantren, masjid apalagi rumah sakit yang tersebar di beberapa daerah di tanah air, akan tetapi karena sejarah mengakui bahwa HMI memiliki banyak peran dalam perjalanan bangsa Indonesia, sehingga menjadikannya tidak bisa untuk disebut organisasi ‘sekedar’. Mungkin karena peran besar beberapa tokoh bangsa yang lebih lekat dengan identitas “Alumni HMI”, semisal beberapa diantaranya yakni Cak Nur (Nurcholis Madjid), Jusuf Kalla, Akbar Tandjung, Mahfud MD, Jimly Asshiddiqie, Hary Azhar Azis, Anies Baswedan hingga Bahlil Lahadalia. Meskipun mereka dengan berbagai macam latar belakang profesi dalam pengabdian tapi sebutan “Alumni HMI” lebih sering disematkan.

Sebagai organisasi perkaderan dan perjuangan, praktek perkaderan dan perjuangan HMI seharusnya tidak hanya fokus pada aspek materil. Melainkan aspek non-materil, berupa sisi intelektual dan spritual anggota sehingga produk (Kader) yang dihasilkan telah siap pakai dalam segala segmen pengabdian. Sebab, sangat disayangkan jika masih banyak kader yang masih terbuai atas keberhasilan alumni HMI. Karena peranannya yang telah direkam sejarah, meski tidak begitu penting, namun juga tidak bisa dihilangkan identitasnya sama sekali. Menurut penulis yang lebih penting untuk dibicarakan bagi kader dalam momentum hari lahir HMI adalah bagaimana tugas HMI, misalnya hal apa yang mesti dilakukan untuk Himpunan kita saat ini ?

Menurut penulis, ketika melihat HMI dari luar dengan berbagai macam sumberdaya yang dimilikinya, baik dari alumni maupun jejaringnya, pasti tumbuh optimisme untuk mewujudkan apa yang menjadi cita-cita himpunan, baik dalam misi keumatan maupun misi kebangsaan. Namun, ketika kita melihat HMI dari dalam dengan fenomena internal himpunan ini, saya merasa pesimis. Apakah dengan sekelumit persoalan yang menderah HMI saat ini, bisa membuat kader dengan segala instrumen dimilikinya dapat mencapai target-target oragnisasi baik dalam misi keumatan maupun misi kebangsaan.

Dalam pemahaman penulis, selain HMI hadir sebagai wadah bagi mahasiswa beragama Islam untuk memperdalam dan mengamalkan wawasan keagamaan, keilmuan juga sebagai alat perjuangan dalam mewujudkan mission secret himpunan. Sekaligus sebagai ruang membina diri agar mampu mengenal bahwa dirinya adalah insan, itu yang utama. Merefleksi kembali perjalan himpunan selama 73 tahun berdiri, menurut penulis ada beberapa hal menjadi catatan yang perlu dievaluasi secara seksama. Pertama, organisasi ini dalam lini struktur kekuasaan elit tidak memiliki strategi yang terukur dan terarah, sehingga dalam implementasi ikhtiar untuk mewujudkan tujuannya tidak dirasakan bagi kader HMI di grassroots bawah.

Kedua, ada kebuntuan ide dalam menghadapi perkembangan zaman dengan segala tantangannya. Sehingga, kader tidak mampu untuk memaksimalkan peran dan fungsinya dalam menyuguhkan jawaban-jawaban solutif dari berbagai macam persoalan yang saat ini sedang menderah umat dan bangsa. Ketiga, Himpunan kita tengah disibukkan dengan persoalan internal atas sebuah peristiwa yang sangat melukai hati seluruh kader dan alumni. Karena tidak hanya menimbulkan gelombang dalam struktural kepengurusan hampir di semua tingkatan, namun juga memberikan pengaruh pada proses perkaderan. Sehingga sumberdaya HMI harus habis terkuras, karena menengarai persoalan tersebut, baik dalam proses penyelesaiannya maupun dalam memulihkan citra himpunan. Dari ketiga persoalan tersebut, bagi penulis itulah hal mendasar yang patut untuk direnungkan bersama sehingga kedepannya kita berkomitmen dalammelakukan itjihad perbaikan himpunan.

Menyambut usia himpunan Mahasiswa Islam (HMI) ke-73 pada 5 Februari tahun 2020, merupakan waktu yang tepat bagi kader untuk melakukan perbaikan sistem organisasi. Mengingat dalam waktu yang hampir bersamaan, di bulan ini juga akan diselenggarakan Kongres HMI Ke-XXXI yang rencananya ditempatkan di DKI Jakarta. Tentunya, dalam forum pengambilan keputusan tertinggi di himpunan ini, setidaknya ada beberapa hal sangat prioritas yang mesti dilakukan para votters/delegasi utusan kongres. Pertama, merumuskan poin-poin program kerja nasional yang bersifat strategis, terarah dan terukur. Kedua, memilih formatur/ketua umum yang berintegritas dan amanah, dapat mengeksekusi setiap ketetapan yang diputuskan oleh forum kongres tersebut.

Dalam menghadapi hajatan besar 2 tahunan, idealnya dalam kongres HMI jangan hanya dipahami sebagai ajang kontestasi perebutan kekuasaan dalam struktur Pengurus Besar, melainkan menjadi arena tarung ide dan gagasan atau hal lain yang lebih prinsipil demi perbaikan himpunan yang itu berasal dari setiap individu yang terlibat di dalamnya. Komitmen semacam itu harus kita pegang teguh bersama untuk perbaikan kualitas kongres ke depannya. Mengingat, kejadian beberapa kongres sebelumnya dengan peristiwa hampir serupa, kita mendapati pengalaman buruk: kongres yang berlarut-larut dengan memakan waktu yang sangat lama, sehingga lalai terhadap kewajiban untuk memberikan kontribusi ide dan gagasan demi himpunan yang lebih baik.

Itjihad Himpunan untuk Umat dan Bangsa

Semangat hadirnya HMI di tengah-tengah kehidupan Indonesia merdeka adalah untuk membangun peradaban umat dan bangsa. Sebab, membangun sebuah peradaban tidak akan bisa, jika kita hanya mengandalkan kekuatan intelektual dan profesionalitas. Tapi semua harus diletakkan di atas sebuah semangat keumatan dan kebangsaan, seperti kecerdasan, akhlak, emosional yang baik. Sehingga, dalam akhir tulisan ini, menurut penulis ada beberapa hal yang harus diperbaiki secara bersama sebagai itjihad himpunan kita untuk umat dan bangsa di masa mendatang. Pertama, HMI mesti mengambil alih peran sentral sebagai poros utama organisasi perjuangan dengan pemikiran dan gerakan mahasiswa Islam yang permisif serta mampu menjadi troubleshooter dalam menjawab tantangan zaman. Kedua, HMI harus menutrisialisasi dan mengembangkan tradisi akademis dan profesional. Ketiga, itjihad HMI dalam menumbuhkan karakter kepemimpinan kader HMI yang intelektual-Produktif; dan terakhir, HMI harus menjadi lokomotif perdamaian dunia. Coretan ini merupakan harapan, ikhtiar dan cita-cita penulis dalam menyambut hari lahir HMI ke-73 tahun. Sekaligus merupakan serpihan gagasan yang akan dipersembahkan dalam momentum Kongres HMI ke-31 Jakarta. Semoga itjihad ini dapat memberikan energi dan harapan baru untuk himpunan tercinta, menjadikan HMI Prolifik; Etalase Peradaban Intelektual. (*)

*Penulis adalah Wakil Sekretaris Jenderal PB HMI. Kandidat Ketua Umum PB HMI Periode 2020-2022

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Most Popular

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy