Dampak Virus Corona Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, Oleh : Asrul Ashar Alimuddin, SE., M.M – Kendari Pos
Opini

Dampak Virus Corona Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, Oleh : Asrul Ashar Alimuddin, SE., M.M

Asrul Ashar Alimuddin, SE., M.M

KENDARIPOS.CO.ID — Pada 2018-2019, perekonomian global berjalan tertatih-tatih akibat perang dagang Amerika Serikat (AS) dan China. Perang dagang dua kekuatan ekonomi terbesar di dunia itu membuat arus perdagangan dan investasi mampet. Setelah nyaris dua tahun berseteru, akhirnya Amerika Serikat – China memutuskan untuk berdamai . Awal tahun ini, keduanya sudah menandatangani perjanjian damai dagang Fase I. Dengan hubungan yang terus membaik, peluang untuk fase selanjutnya sangat terbuka. Semestinya damai dagang AS-China membawa suka cita. Tidak ada lagi hal yang membuat rantai pasok global rusak, arus perdagangan dan investasi bakal pulih. Ada harapan akan pertumbuhan ekonomi yang lebih baik. Namun awan mendung masih menyelimuti perekonomian China. Setelah tahun lalu ada sedikit persoalan perang dagang dengan Amerika Serikat (AS), kini China menhfadapai tantangan yang lebih berat yaitu munculnya virus Corona, Virus yang menyebabkan gejala seperti influenza ini berawal dari Kota Wuhan, Provinsi Hubei, China. Seiring libur panjang Tahun Baru Imlek, virus corona menyebar dengan luas dan cepat karena tingginya mobilitas masyarakat. Imlek memang momen puncak pergerakan warga China, baik antar-kota maupun antar-negara. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sudah mendeklarasikan bahwa penyebaran virus Corona adalah kondisi darurat internasional. Penyebaran (outbreak) virus corona belum bisa disebut pandemi, tetapi epidemi dengan fokus yang beragam, dampak ekonomi akibat penyebaran (outbreak) virus corona memang tidak bisa dianggap remeh. Pasalnya, virus ini membuat aktivitas ekonomi di Negeri Tirai Bambu seret. Kalau ada virus yang mematikan sedang mewabah , tentu masyarakat berpikir ribuan kali untuk beraktivitas di luar rumah. Akibatnya aktivitas ekonomi baik itu produksi dan konsumsi pasti berkurang drastis.

Banyak provinsi di China sudah menunda aktivitas bisnis, sehingga menyebapkan pertumbuhan ekonomi China hampir pasti melambat. Bahkan risiko pertumbuhan ekonomi di bawah 5% adalah sesuatu yang sangat nyata. Perekonomian Indonesia saat ini sepertinya mulai memasuki gerbang daerah berbahay. Pertumbuhan ekonomi di tahun 2020 ini berpotensi anjlok di bawah 5 %, bahkan bisa saja turun hingga 4,5 %. Faktor eksternal diperkirakan akan menyeret ekonomi Indonesia untuk tumbuh di bawah target yang sudah ditetapkan pemerintah untuk tahun 2020 yang sebesar 5,3 %. Ekonomi domestik yang selama ini banyak menopang pertumbuhan ekonomi nasional terlihat tak akan begitu memihak kita lagi. Indikasi yang mengkhawatirkan ini terlihat di Kuartal akhir 2019 lalu, pertumbuhan konsumsi masyarakat pada kuartal IV 2019 hanya berada diangka 4,97 % secara tahunan atau year on year. Begitu pun dengan pertumbuhan investasi yang hanya 4,06 % . Mendung memang sedang menyelimuti ekonomi dunia saat itu. Kumpulan awan hitam berupa perang dagang antara China lawan Amerika Serikat, Brexit walaupun secara legal sudah selesai namun dampaknya masih belum terukur ditambah dengan wabah virus corona yang menghantam China dan 26 negara lain di seluruh dunia.

Bisa saja awan hitam bernama wabah Novel Coronavirus, berubah menjadi badai besar ekonomi yang akan menghantam China dengan telak, dan membuat perekonomian China porak poranda. Hal ini bisa terjadi jika wabah ini tak jua terselesaikan dan berlangsung lebih dari 6 bulan. Sampai hari ini wabah virus corona telah menginfeksi 43.112 orang, dengan angka kematian sebesar 1.018 orang. Kondisi perekonomian global pun akan terancam melemah secara signifikan jika wabah ini tak kunjung teratasi. Banyak negara yang melarang warganya untuk mengunjungi tiongkok selama waktu yang ditentukan oleh pemerintah, WHO pun mengeluarkan penyataan bahaya global terhadap virus corona tesebut, virus itu menyebabkan perekonomian china menjadi lumpuh karena sedikitnya warga yang beraktivitas diluar ruangan karna takut terhadap virus corona sehingga membuat ekspor & impor menjadi macet. Akibatnya Indonesia pun ikut kena imbas dari dampak virus tersebut contohnya komoditi bawang putih, Indonesia kekurangan import dari china sehingga menjadikan harga bawang putih menjadi naik sampai 50 %. Pembatasan import dari negara cina akan mempengaruhi hubungan kedua Negara.

Dampak mewabahnya virus ini sangat mempengaruhi ekonomi Indonesia, Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) China merupakan tujuan ekspor terbesar Indonesia. Pada tahun 2019 lalu tercatat nilai ekspor Indonesia ke China senilai US$ 25,85 miliar. Negeri tirai bambu ini pun menjadi tujuan impor terbesar dengan nilai US$ 44,58 miliar. Makanya seperti proyeksi Bank Dunia, setiap koreksi pertumbuhan ekonomi China sebesar 100 basis poin (bps) akan berdampak terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 30 bps. Bank Dunia sendiri memprediksi bahwa China akan perekonomian China akan melambat antara 100 bps hingga 300 bps. Untuk itu dalam menghindari supaya dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia tak terlalu besar, maka konsumsi domestik yang saat ini dalam kondisi loyo harus diungkit, salah satu faktor yang mempunyai daya ungkit tinggi bagi perekonomian nasional adalah belanja pemerintah yang harus segera di pacu, agar daya beli dan konsumsi masyarakat terus terjaga.

Untuk itulah Presiden Jokowi memerintahkan kepada semua Kementerian dan Lembaga untuk segera mempercepat realisasi pembelanjaan anggarannya. Akibat dampak dari corona tersebut china akan membutuhkan waktu untuk memulihkan kondisi ekonominya ke 100% , walaupun jika katakanlah virus tersebut bertahan hingga 4 atau 5 bulan pasti china membutuhkan waktu lama sekitar 2 atau 3 tahun untuk memulihkan ekonomi ke 100% lagi, maka dari itu Indonesia harus siap dengan segala kemungkinan yang akan terjadi didepan akibat dari ketergantungan beberapa sektor ekspor dan impor nya ke china. Indonesia harus membuat beberapa kebijakan agar supaya tidak bergantung kepada china, supaya jika ada ‘chaos’ seperti ini Indonesia tidak akan terlalu merasakan dampaknya, terlebih jika perang dagang antara china dan amerika dimenangkan oleh amerika besar kemungkinan Indonesia pun akan merasakan dampaknya. Jika virus corona berlangsung dengan jangka waktu yang lama maka besar kemungkinan ekonomi Indonesia akan merosot seiring dengan merosotnya ekonomi china dan itu akan sangat berdampak kepada kesejahteraan masyarakat.

Pemerintah Indonesia saatnya mengantisipasi kemungkinan terjadinya perlambatan ekonomi. Langkah yang perlu diambil dalah, menyiapkan sektor industri dalam negeri mana yang sangat mungkin ditingkatkan kinerjanya. Dengan cara memanfaatkan nilai tambah yang masih mungkin dari berbagai komoditas mentah, yang selama ini diekspor ke China dalam bentuk gelondongan atau curah. Memanfaatkan komoditas agroindustri mentah, bahan baku penolong, ataupun produk manufaktur lainnya dioptimalkan untuk produk dalam negeri. Dengan demikian, tidak saja akan ada nilai tambah dan kemungkinan masuknya beberapa negara investor non-China ke Indonesia, tetapi juga peluang substitusi impor produk agroindustri, khususnya buah-buahan. Pelemahan ekonomi karena melorotnya impor bahan baku dan penolong dari China, serta terkuncinya ekspor mentah Indonesia ke China bisa diatasi, sehingga tekanan pada neraca perdagangan bisa dikurangi. (*)

*Penulis adalah Statistisi Pertama BPS Kota Kendari

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy