Bergesernya Jaminan Kualitas, Oleh: La Ode Diada Nebansi – Kendari Pos
Kolom

Bergesernya Jaminan Kualitas, Oleh: La Ode Diada Nebansi

La Ode Diada Nebansi

KENDARIPOS.CO.ID — Video yang beredar itu menurut saya agak berbau nyeleneh. Tok…tok…tok… Salam Pancasilaa’a. Pintu diketuknya lalu mengucap salam: Salam Pancasila. Tapi, harakat “A”nya, panjang sekali. Kira-kira meniru ucapan Assalamu ‘Alaikuuuum. Panjang harakat “U”nya.

Tapi entahlah. Saya tidak tahu, apa motivasi sang Profesor itu mengeluarkan pernyataan bahwa musuh besar Pancasila adalah agama lalu muncullah cetusan Salam Pancasila yang kemudian melahirkan kontroversi bahkan sampai bermunculan video-video agak nyeleneh tadi. Dan benar saja, ini juga melahirkan kontroversi dimana-mana.

Pernyataan apapun yang keluar dari otak profesor pastilah bernilai di mata publik. Entah itu nilai positif ataukah negatif. Tapi, dengan pernyataannya bahwa musuh besar Pancasila adalah agama, muncullah protes dari mana-mana. Agama mana yang menjadi musuh Pancasila?

Kalaulah kedudukan Profesor yang memberi pernyataan itu harus diikuti maka, kalimat itu mengandung pengertian bahwa yang namanya musuh harus dihilangkan. Apa yang harus dihilangkan? Agama yang jadi musuh Pancasila? Oohh, tidak. Kenapa? Pancasila adalah Dasar Negara atau falsafah negara. Sedangkan agama adalah menyangkut keimanan. La Woto tidak pernah sembahyang, tapi ketika agamanya disinggung, ia pun tersinggung. Tak pernah sembahyang tapi tersinggung. Kenapa? Karena keimanan.

Nah, ketersinggungan itu, seperti juga tersinggungnya orang-orang ketika disebut bahwa Agama musuh besar Pancasila. Bukankah agama diimani sedangkan Pancasila dihayati dan diamalkan? Bagaimana mungkin membenturkan sesuatu yang diimani dengan yang diamalkan dan dihayati? Ck ck ck.

Menggelengkan kepala. Bingung kitaee. Dibilang anu, tapi profesor, tak dibilang anu tapi membingungkan. Tapi dengan kejadian ini, sesungguhnya melahirkan pelajaran yang amat berharga. Dengan kejadian itu, melahirkan mawas diri, terutama bagi kaum cerdik pandai. Bagi para kaum cendekia, ini adalah pelajaran amat sangat berharga. Kenapa?

Tak menutup kemungkinan, kelak titel yang berpadu dengan usia tua, tak lagi tergambar kecerdasan di sana. Dan lagi, pimpinan negara, pimpinan tinggi negara, kepala daerah, kelak tak akan lagi mengangkat pejabat dari mereka yang berpangkat tinggi, karena bisa jadi, mereka tahu, bahwa anda berpangkat tinggi hanya karena lama menjadi pegawai, dekat kekuasaan, tapi jauh dari kecerdasan. Karena itulah, ini semua adalah pelajaran.

Perlakuan ini pernah diterapkan seorang pimpinan perusahaan. Dia menerima karyawan tak lagi melihat indeks prestasi (IP), tak lagi mematok titel, walau ijazah tetap diperlukan. Dianggapnya, IP bukan lagi jaminan kecerdasan karena itu bisa dibolak-balik di bagian administrasi kemahasiswaan. Titel pun bukan lagi jaminan keilmuan.

Ternyata, perlakuan kawan itu, pimpinan perusahaan itu, kini diperkuat dengan tagline Nadiem Makarim bahwa akreditasi bukan jaminan mutu dan IP bukan jaminan kualitas. Karena itu, soal pernyataan musuh besar Pancasila adalah agama dan cetusan Salam Pancasila yang melahirkan kontroversi itu, tak perlulah kita menghabiskan waktu untuk perang argumentasi. Terutama bagi para pejabat pengendali, agar eling bahwa di zaman milenial ini ternyata, jaminan mutu dan kualitas telah bergeser.

Cetusan saya sebagai orang daerah, mulai hari ini, cobalah kalian gagas agar swasta yang memiliki skill keilmuan yang bisa digugu dan ditiru, bisa diikutkan dalam assesment jabatan madya dan pratama karena saya tahu, semua berorientasi produktivitas.(nebansi@yahoo.com)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy