Muh. Najib Husain

KENDARIPOS.CO.ID — Setiap petahana (incumbent) yang maju kembali dalam pemilihan kepala daerah (Pilkada) mendapatkan keuntungan secara politik dan ekonomi. Mereka bisa menggunakan kekuasaan dan infrasturtur politik untuk membangun political branding (citra) di mata publik. Entah pembangunan yang dilakukan semata-mata dalam rangka menunaikan janji politik atau hanya modus mendongkrak elektabilitas. Pandangan tersebut disampaikan Pengamat Komunikasi Politik Sulawesi Tenggara (Sultra), Dr. Muh. Najib Husain.

“Petahana melalui jabatan yang diembannya memiliki keuntungan dibandingkan para penantang. Sehingga, nilai jual di hadapan publik akan lebih tinggi terlebih jika didukung oleh partai-partai besar,” ujar Najib Husain, kemarin. Keuntungan yang dimaksud, lanjut dia, yaitu posisi sebagai kepala daerah yang memungkinkan petahana melakukan sejumlah pembangunan untuk dapat menarik simpati rakyat. Sayangnya, menurut dia, strategi tersebut kurang tepat jika ditujukan untuk menaikkan rating. “Pemilih sekarang sudah cerdas. Tidak bisa dipengaruhi dengan menunjukkan kinerja dalam beberapa bulan terakhir masa jabatan. Kecuali terhadap pemilih-pemilih tradisional mungkin masih berpengaruh,” terangnya.

Sebaliknya, kata dia, strategi ini bisa menjadi bumerang bagi petahana karena akan muncul persepsi negatif dari masyarakat. Pasalnya, petahana baru giat membangun saat mendekati kontestasi. Padahal sebelumnya program yang dijalankan tidak benar-benar mempertimbangkan kepentingan rakyat. “Bisa jadi masyarakat justru berpikir bahwa apa yang dilakukan petahana hanyalah pencitraan. Kemarin-kemarin ke mana saja?,” sindirnya.

Laman: 1 2