Kendari Sudah Metropolis, Oleh: Onggi Nebansi – Kendari Pos
Kolom

Kendari Sudah Metropolis, Oleh: Onggi Nebansi

KENDARIPOS.CO.ID — “Saya ingin senangkan La Ebe. Dia tinggal di pedalaman dan jarang masuk kota. Beruntung jika sekali setahun ke Kota Raha atau Kendari. Saat saya undang ke Kendari, dia ingin merasakan kemajuan. Cita-citanya ke Kendari ingin naik tangga eskalator. Saya tawari makan coto, menolak. Ia memilih merasakan naik tangga eskalator. Saya ajaklah ia ke Lippo Plaza. Ketika memasuki plang parkir di Lippo Plaza, La Ebe mendengar kalimat: Tekan tombol hijo, Silahkan ambil struk. La Ebe geleng-geleng sambil menggumam. Hm..hm..hm.

Saya tanya: kenapa Ebe? Dia jawab: Mereka bilang Nur Alam (Gubernur Sultra ketika itu) tidak membangun. Ternyata, biar besi dia kasi bicara. Saya tanya lagi: besi apa yang bicara? Itu tadi, TEKAN TOMBOL HIJO. Lanjut ke tempat parkir. Di sini, lagi-lagi La Ebe heran, seheran-herannya. La Ebe bertanya: kita mau kemana? Ke Parkiran. “Bhohamma, ingka suda deka langit”…

Ada tulisan yang tak viral yang tersebar di beberapa group WhatsApp. Ditulis oleh seseorang yang mengaku Wasekjen PAN. Mengaku asal Sulawesi Tenggara (Sultra). Isinya, soal pelaksanaan Kongres Partai Amanat Nasional (PAN) di Kendari, Sultra. Dia soroti: kenapa harus di Kendari. Kenapa harus di Sultra. Kesimpulan tulisan itu kira-kira begini: PAN itu adalah partai besar. Kongres itu adalah forum tertinggi partai dan mestinya digelar di daerah-daerah “tertinggi” pula dan yang sudah “tinggi-tinggi” fasilitasnya. Kongres jangan dilakukan di daerah “udik” yang fasilitasnya serba kampungan. Kira-kira begitu kesimpulan saya setelah membaca tulisan itu.

La Ode Diada Nebansi (Direktur Kendari Pos)

Jika kalian berpikir seperti itu, saya pastikan ini adalah stigma transisi. Mengkatagorikan Kendari sebagai daerah di ambang kemajuan dan modernitas. Sory, kamu salah. Kendari bukan lagi daerah transisi dari udik ke metropolis. Kendari sudah metropolis. Jangan kamu mengambil kesimpulan setelah mendengar komentarnya La Ebe.

Kendari sudah metropolis. Jangankan kongres partai, iven dunia sekalipun telah digelar di Sultra. Lihatlah gelaran Hari Pangan Sedunia (HPS) yang tidak hanya dihadiri Dinas Pertanian Kabupaten seluruh Indonesia, Dinas Pertanian Provinsi seluruh Indonesia, dinas-dinas terkait di kabupaten dan provinsi di seluruh Indonesia pun turut serta.

Tidak ada yang tidur di masjid. Semua di hotel. Jangankan kamar hotel untuk para menteri dan duta besar, kamar untuk presiden pun sudah disiapkan. Kendari sudah Metropolis. Itu iven dunia. Saya sebut sedunia karena titelnya Hari Pangan se DUNIA. Kalau saya salah, yah, salahmu sendiri, kenapa kokasi nama Hari Pangan se DUNIA. Gelaran iven nasional lainnya di Sultra sudah tak terhitung.

Artinya, jangan membayangkan Kendari sebagai daerah kota kecil, tidak. Kendari sudah metropolis. Lihatlah kemegahan Bandaranya yang melebihi kira-kira sedikitnya 1/3 bandara provinsi di negeri ini. Lihatlah, Poldanya yang sebentar lagi akan dinaikkan menjadi bintang dua. Lihatlah KOREMnya yang sebentar lagi akan naik jadi bintang satu karena DANDIM Kendari saat ini sudah berpangkat KOLONEL. Ini semua adalah tuntutan kemajuan kota, kemajuan peradaban, kemajuan ekonomi, kemajuan sosial budayanya.

Andai keyakinan kamu bahwa Kendari sudah metropolis harus disentuh dari pengaruh kepangkatan putera daerahnya, maka
ini juga punya jawaban. Kotia lia kah itu Kapolri orang Kendari Caddi yang dimasa-masa SD, SMP, SMA pernah bermain-main di Gunung Jati, Mangga Dua dan sekitarnya. Keyakinan apalagi yang kamu tuntut? Sudahlah. Tidak ada yang perlu dideg-degan dengan pelaksanaan Kongres PAN di Sultra. Toh, peserta Kongres paling banter 2 orang per kabupaten. Selebihnya, tim penggembira. Andai La Doro dan Paijo tercatat sebagai anggota tim penggembira, apakah mereka juga harus diinapkan di hotel Bintang 5? Saya kira, La Doro maupun Paijo sudah terhormat sekalipun diinapkan di hotel kelas melati.

Kendari sudah metropolis. Kotanya indah, hijau, dan asri. Sudah berkali-kali mendapatkan penghargaan Adipura. Orangnya ramah-ramah. Dan untuk Sultra, keramahan itu adalah di seluruh wilayah. Kalau mau berwisata, di Sultra juga banyak pilihan. Ada Wakatobi yang masuk 10 besar destinasi wisata nasional, ada Labengki yang acap disebut sebagai raja ampatnya Sultra, ada keraton Buton, ada danau Napabale, ada air panas Wawolesea, ada gua tengkorak, ada air terjun bertingkat-tingkat Moramo, ada sungai terpendek di dunia Sungai Tamborasi, ada gua tempat tinggal para manusia purba Liang Kobori, dan lain-lain, dan lain-lain.

Obyek wisata di Kota Kendari, lebih padat lagi. Ada Pulau Bokori, ada pantai Toronipa lengkap dengan Tol-nya. Ada kebun raya, ada wisata bakau, ada wisata teluk Kendari. Bahkan, jangan heran, di Kota Kendari, tempat pembuangan sampahnya menjadi obyek wisata yang menakjubkan. Lalu, apalagi yang kalian sangksikan? Sudahlah, yakinlah, Kota Kendari sudah metropolis. Terakhir, datanglah di Kendari dan
ber-ittiqaflah di Masjid Tengah Laut “Al Alam”. Artinya apa? Menggelar Kongres di Kendari, anda akan senang, sehat, sukses dan terhormat di dunia dan mati masuk Surga. (nebansi@yahoo.com)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy