Dua Tahun Sekolah, tak Terdaftar di Dapodik : Sherly, Murid SD di Wakatobi Terancam tak Ikut UN – Kendari Pos
Wakatobi

Dua Tahun Sekolah, tak Terdaftar di Dapodik : Sherly, Murid SD di Wakatobi Terancam tak Ikut UN

KENDARIPOS.CO.ID — Sherly, murid SDN 3 Pongo Kecamatan Wangi-Wangi, Kabupaten Wakatobi kini sedang masygul. Tatapan matanya kosong, kala tahu namanya tak terdaftar dalam Data Pokok Pendidikan (Dapodik). Rasa cemas tak bisa mengikuti ujian nasional (UN) membayanginya. Tiga bulan lagi, UN sekolah dasar (SD) akan digelar. Di kala tema-temannya riang dan sibuk mempersiapkan diri menyambut UN, Sherly hanya bisa sedih. Namanya tak tercantum dalam Dapodik. Praktis dia tak bisa seperti temannya, mengikuti UN tahun ini. Pihak sekolah tahu Sherly tak terdaftar saat mengecek Dapodik peserta ujian yang merupakan sistem pendataan skala nasional terpadu dan sumber data utama pendidikan nasional. Diantara 27 peserta UN di SDN 3 Pongo Kecamatan Wangi-Wangi, nama Sherly tidak ada.

Sherly Yolanda Since Yamakaimu adalah warga Kampung Baru Distrik Obaa Kabupaten Mappi, Papua. Murid kelahiran Wairu tanggal 15 Juli 2007 ini kini belajar di SDN 3 Pongo. Ia belajar di sekolah ini pada tahun 2018 lalu. Kala itu statusnya hanya sebatas murid titipan. Setelah berbulan-bulan mengikuti pelajaran di sekolah, pihak sekolah mulai mempertanyakan status Sherly. Selain tidak memiliki surat pindah, namanya pun tak terdaftar di Dapodik. Pihak SDN 3 Pongo bahkan tak bisa melacak sekolah asalnya. Mengingat ia tak mengantongi akta kelahiran dan Kartu Keluarga (KK). Sherly bahkan tak ingat sekolah asalnya.

Mendekati UN, pihak sekolah mulai mengalami kesulitan untuk menolong Sherly. Apalagi harus berhadapan dengan Dapodik yang membutuhkan data secara lengkap dan berbasis online. Jika tidak terdaftar hingga waktu yang telah ditentukan, boleh jadi Sherly tak bisa mengikuti UN bersama teman-temannya. Kepala SDN 3 Pongo, Abdul Maafi menuturkan awalnya pihak sekolah hanya ingin menolong Sherly agar bisa mengikuti pelajaran agar Sherly tidak ketinggalan pelajaran. Meski hanya murid titipan, Sherly tetap diperlakukan seperti murid-murid lainnya.

Sherly, murid SDN 3 Pongo Kecamatan Wangi-Wangi, Kabupaten Wakatobi.

“Awalnya kedua orang tua angkat Sherly membawanya ke sini, saat itu statusnya sebagai murid titipan. Ia memasuki kelas V. Kami pihak sekolah menerimanya dan tentu saja kami berpikir untuk menolong anak ini agar tak putus sekolah. Sebelumnya tidak bisa membaca, kini mulai lancar membaca dan menulis,” ungkapnya, Selasa (21/1). Beberapa bulan sebelumnya, pihak SDN 3 Pongo mengundang orang tua angkat Sherly dan membahas status Sherly di sekolah. Sayangnya, beberapa kali dipanggil pihak sekolah orang tua angkatnya selalu berhalangan hadir.

Kini pihak sekolah diperhadapkan dengan masalah baru. Sherly tak memiliki NIK. Pihak Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) Wakatobi pun tak bisa berbuat banyak. Lagi-lagi menghadapi perangkat data kependudukan yang berbasis online. Namun, bagi kepala sekolah dan guru-guru Sherly, harapan untuk mendaftarkannya sebagai peserta UN tak pernah pupus.

Pada akhirnya, saat rapat bersama orang tua murid beberapa waktu lalu, Kepala SDN 3 Pongo berani mengutarakan masalah yang dihadapi oleh salah seorang muridnya ini. Pihak sekolah meminta pendapat dari orang tua murid. Tentu saja banyak yang berempati terhadap perjalanan Sherly yang kini duduk dibangku kelas VI itu. Mereka sepakat untuk membantu Sherly agar bisa mengikuti UN. “Dan setelah kami mencari solusi bersama, kami akhirnya bertemu dengan orang tua angkat Sherly. Ternyata memang Sherly tidak memiliki data apapun. Hanya nama saja yang dibawanya. Tapi, alhamdulilah orang tua angkatnya ini tahu sekolah Sherly di Papua. Sherly pernah bersekolah di SD YPP Santo Yoseph Kepi Distrik Obaa Kabupaten Mappi Papua,” terangnya.

Masalah ini akhirnya sampai di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Wakatobi. Setelah mengetahui kisah Sherly, pihak Dikbud langsung mencari tahu asal sekolahnya. Tak butuh waktu lama, pihak sekolah yang bekerjasama dengan Dikbud Wakatobi akhirnya berhasil melacak sekolah dan nomor kontak kepala sekolah asal Sherly di Papua. Kepala Dikbud Wakatobi, La Ali Wangi menuturkan pihaknya beberapa hari ini terus mengupayakan agar Sherly bisa terselamatkan dan mengikuti ujian nasional. Hari ini, stafnya berhasil menghubungi Kepala SD YPP Santo Yoseph Kepi Distrik Obaa Kabupaten Mappi, Margaretha Maria Bernadina Sri Rejeki.

Dalam pernyataannya, Margaretha menyebut Sherly keluar sekolah tanpa mengambil surat pindah. Sehingga pihaknya belum mengeluarkannya dari Dapodik sekolahnya. Namun, mengingat sudah mendekati ujian ia akan menghubungi operatornya untuk mencari jalan keluar agar Sherly bisa ikut ujian di Wakatobi. “Alhamdulilah kita sudah komunikasi dengan kepala sekolahnya. Kami berharap data anak ini segera dikeluarkan dari asal sekolahnya sehingga operator kami bisa menarik datanya agar Sherly memiliki Dapodik dan terdaftar sebagai murid SDN 3 Pongo. Kita mau menyelamatkan Sherly sehingga bisa ikut ujian nasional,” harapnya saat ditemui di ruang kerjanya.

Sementara itu, ibu angkat Sherly, Sulistia (34) warga Kelurahan Pongo sangat mengharapkan bantuan pihak sekolah dan Dikbud Wakatobi agar tahun ini Sherly bisa ikut ujian. “Anak ini saya bawa ke Wakatobi karena saya ingin menyelamatkannya. Di sana (Papua) kehidupan Sherly sulit saya jelaskan bahkan ia kadang terpaksa memakan rumput dan cabai untuk bertahan hidup. Kadang ia makan sekali dalam tiga hari,” ujarnya.

Sulistia mengaku tahu tentang kondisi keluarga Sherly karena tempat usahanya di Kepi dengan kediaman Sherly berdekatan. “Apalagi anak ini tinggal dengan ayah tirinya kadang ia dipukul mungkin karena Sherly salah. Makanya, saya sampaikan ke ibu kandungnya untuk membawa Sherly ke Wakatobi. Nanti kami sekolahkan dia di sana. Dan ibu kandungnya juga mengiyakan. Ayah kandung Sherly ini sudah meninggal dunia,” tuturnya.

Ia tahu perjalanan Sherly masih panjang, tapi bagi dia setidaknya anak berusia 12 tahun ini tidak mengalami kelaparan dan bisa melanjutkan sekolahnya dengan baik di Wakatobi. “Saya tahu bagaimana kondisinya makanya saya kasihan dengan anak ini. Kami berharap ia bisa ikut ujian. Kami kesulitan menghubungi orang tuanya karena jaringan di sana (Kepi) kurang mendukung. Kecuali mereka yang menelpon. Tapi, ketika mereka menghubungi kami dan kami meminta dikirimkan KK dan akta Sherly mereka tidak tahu bahkan tidak mengerti. Makanya kami saat ini sangat kesulitan mencari data-data Sherly. Sementara untuk kembali ke sana sudah sulit,” tambahnya.

Sherly yang dijumpai di sekolahnya berharap bisa mengikuti ujian. Ia juga senang bisa diterima oleh guru-guru dan teman-temannya di sekolah saat ini. “Sekarang saya sudah punya banyak teman dan saya sudah bisa membaca dan menulis. Saya ikut ibu angkat karena saya ingin sekolah. Di sana saya sering dipukul, makanya saya ikut ke sini,” tutur Sherly. (thy/b)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy