Apa Yang Kau Cari Bung, Oleh : Prof. Hanna – Kendari Pos
Kolom

Apa Yang Kau Cari Bung, Oleh : Prof. Hanna

Prof Hanna

KENDARIPOS.CO.ID — Saya tidak tahu mau menjawab apa mendapat pertanyaan dari Rektor Unhalu, Prof. Edy Agussalim Mokodompit kala pertama kali berjumpa pada 14 Juli 1986. Kala itu, kali pertama saya memulai karir di Unhalu. Sebagai dosen baru, saya dipanggil menghadap beliau. Pertanyaan beliau adalah apa yang kau cari di Unhalu, bung?.

Entah hanya saya yang ditanya seperti ini atau semua dosen baru yang dipanggil menghadap. Saya memahami pertanyaan itu, sebab Unhalu saat itu masih sangat sederhana, belum sehebat saat ini. Saya maklum karena kampus saat itu, baru berumur kurang lebih 5 tahun setelah berstatus negeri.

Pemikiran yang terlintas dalam benak saya waktu itu adalah bahwa beliau ingin melihat integritas dan loyalitas saya terhadap pekerjaan. Saya juga paham bahwa Prof. Edy Agussalim Mokodompit adalah akademisi berpengalaman,sangat disiplin dari aspek administrasi. Karena kedisiplinan dan kepemimpinanya yang tegas dan bersahaja itu, beliau ditunjuk menjadi Dekan Fisipol Unhas saat berusia 24 tahun. Lalu diangkat menjadi Rektor IKIP Ujungpandang.

Selanjutnya ditunjuk menjadi atase kebudayaan di Jepang. Disiplin tegas itulah yang ia ajarkan kepada kami, dosen muda saat itu. Saat beliau bertanya, saya hanya menjawab singkat bahwa saya datang belajar di Unhalu tentang berbagai hal karena dipimpin oleh seseorang yang kharismatik. Kedua, saya ingin belajar dari masyarakat yang sangat heterogen karena Sulawesi Tenggara ini adalah miniatur Indonesia.

Jawaban saya sepertinya belum memuaskan Prof. Edy Agussalim Mokodompit. Pertanyaan selanjutnya. “Bung bukan orang Bugis kan. Bukan orang Sulawesi Tenggara,”tanya beliau. Dengan bangga saya menjawab bahwa saya orang Enrekang yang punya filsafat, di mana tanah dipijak, di situ bumi dijunjung. Kami selalu siap dinasehat. Siap membantu dan siap menolong dimana pun kami berada. Beliau berkomentar, jawaban itu yang saya tunggu. “Bung hiduplah di sini, bersama-sama masyarakat di sini untuk memajukan Universitas Halu Oleo. Tapi paling utama, Bung ada di sini hidup bersama masyarakat, saling menolong, saling membantu dan saling menasihati, selamat bekerja bung,” ujar Prof. Edy Agussalim Mokodompit.

Pertanyaan serupa di atas, mungkin biasa kita pertanyakan kepada orang yang pertama kali kita kenal. Dalam kaitan dengan itu maka dalam fenomena hadirnya kapal ikan di Pulau Natuna dan mereka mengklaim bahwa laut Natuna itu adalah milik mereka, bukan seperti jawaban saya.

Kompas.com menulis Pulau Natuna berada di Provinsi Kepulauan Riau dan berada dekat dengan Laut China Selatan. Sejarah Natuna terdiri dari tujuh pulau dengan Ibu Kota di Ranai. Pada 1957, Kepulauan Natuna masuk dalam wilayah Kerajaan Pattani dan Kerajaan Johor di Malaysia.

Namun pada abad ke-19, Kepulauan Natuna akhirnya masuk ke dalam kepenguasaan Kedaulatan Riau dan menjadi wilayah dari Kesultanan Riau. Natuna sampai saat ini masih menjadi jalur strategis dari pelayaran internasional. Setelah Indonesia merdeka, delegasi dari Riau ikut menyerahkan kedaulatan pada Republik Indonesia yang berpusat di Pulau Jawa.

Pada 18 Mei 1956, pemerintah Indonesia resmi mendaftarkan Kepulauan Natuna sebagai wilayah kedaulatan ke Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Teritorial Laut China Selatan yang di klaim China(-) Konflik Natuna Berada di kawasan dengan sumber daya alam melimpah dan berbatasan langsung dengan laut bebas membuat Natuna menjadi incaran banyak negara tetangga. Kontraversi diawali dari Malaysia yang menyatakan bahwa Natuna secara sah seharusnya milik Malaysia. Namun untuk menghindari konflik panjang, pada era konfrontasi 1962-1966 Malaysia tidak menggugat status Natuna. Lepas dari konflik tersebut, Indonesia membangun berbagai infrastruktur di kepulauan seluas 3.420 kilometer persegi.

Etnis Melayu menjadi penduduk mayoritas di Natuna, mencapai sekitar 85 persen. Suku Jawa sekitar 6,34 persen dan etnis Tionghoa sekitar 2,52 persen. Meski banyak pihak yang memaksa merebut Natuna, secara Hukum Internasional, negosiasi yang dibangun China tidak dapat dibuktikan sampai saat ini.

Saat itu Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono memrotes langkah China melalui Komisi Landas Kontinen PBB. Laut Natuna seperti yang ditulis Tegar id, kembali diusik nelayan dari negara lain. Parahnya, kapal penangkap ikan dikawal kapal perang dari negara yang dikenal dengan nama Tiongkok itu.

China mengklaim perairan Natuna, Kepulauan Riau, masuk dalam Nine Dash Line atau sembilan garis putus-putus. Indonesia menolak argumen China dan menegaskan Kepulauan Natuna milik Indonesia, sesuai keputusan United Nation Convention of the Law of the Sea (UNCLOS) 1982 atau Hukum Laut Internasional yang disahkan PBB 1982.

Pulau Natuna adalah pulau yang di dalam perairan di sekitar Kepulauan Natuna. Di perairan itu, hidup ikan yang dikenal sebagai King of Ocean, yaitu Ikan Napoleon yang unik, bentuk kepalanya mirip dengan poni pemimpin militer Perancis yang sangat terkenal, Napoleon Bonaparte. Beratnya bisa mencapai 190 kg dengan panjang 2 meter yang sangat berharga dan berguna bagi vitalitas pria.

Laut Natuna juga memiliki kekayaan perikanan yang berlimpah, di antaranya adalah ikan pelagis kecil (621,5 ribu ton/tahun), demersal (334,8 ribu ton/tahun), pelagis besar (66,1 ribu ton/tahun), ikan karang (21,7 ribu ton/tahun), udang (11,9 ribu ton/tahun), cumi-cumi (2,7 ribu ton/tahun), hingga lobster (500 ton/tahun).

Kekayaan itu membuat Natuna sebagai surga bagi para nelayan dengan letaknya yang berada didaerah perbatasan, membuat potensi perikanan sering dicuri oleh nelayan dari negara lain. Selanjutnya secara geografis, posisi Laut Natuna berada di jalur pelayaran internasional, yakni antara Hong Kong, Jepang, Korea Selatan Indonesia, dan Taiwan. Letak itu menjadikan Laut Natuna memiliki posisi yang sangat strategis, terbukti dengan ditemukannya artefak kuno dari abad ke-10 hingga ke-19 masehi.

Terakhir, Natuna menyimpan begitu banyak keindahan alam, contohnya Pulau Senua. Keindahan laut yang jernih, serta hamparan pasir putih menjadikannya wisata yang menjanjikan. Selain itu, Laut Natuna juga surga bagi terumbu karang, rupa-rupa ikan, serta biota laut lainnya tersebar di sekitar Pulau Senua.

Tentu saja kita sadar bahwa Indonesia yang kita cintai adalah hasil keringat dari para penjajah kita yang telah gugur di medan perang, bukan pemberian, oleh karena itu sepakat bahwa sejengkal pun tanah Indonesia ini tidak akan diberikan kepada negara apapun. Oleh karena itu integritas dan loyalitas ke-Indonesia-an kita, tidak bisa ditawar.

Meski kebijakan politik luar negeri Indonesia bebas aktif dalam hubungan internasional. “Bebas” berarti tidak terikat kepada suatu blok negara adikuasa tertentu.”Aktif” berarti aktif dalam mengembangkan kerjasama Internasional dengan negara lain kata Wijaya, berlandaskan kepada ideologi Pancasila dan landasan konstitusional UUD 1945 yang merupakan dasar hukum tertinggi negara Indonesia. Simpulan pemerintah akan berupaya melalui langkah diplomasi dan lobi politik yang akuntabel dan terukur untuk menjaga jengkal tanah kita untuk tidak jatuh ke tangan orang asing. (Hn)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy