Tahun Duka, Oleh : Dahlan Iskan

Kunci rahasia Airbus pun diketahui: mesin jetnya dibuat agak besar. Konsekuensinya tempat mesin harus agak lebih tinggi. Agar tidak terlalu dekat dengan tanah. Penempatan mesin seperti itu memerlukan desain yang khusus. Agar hukum COG terpenuhi –center of gravity. COG adalah iman bagi para ahli pesawat. Mengabaikan COG sama dengan tidak beriman. Dan itu yang terjadi di Boeing: mengabaikan COG.

Posisi mesin B 737 MAX 8 dibuat agak tinggi. Juga agak menonjol ke depan. Penempatan seperti itu, menurut rukun iman COG, dianggap musyrik. Akibatnya pesawat akan cenderung terdorong ke atas. Tapi Boeing sangat percaya diri. Kecenderungan membumbung itu bisa diatasi dengan komputer. Diciptakanlah software khusus. Untuk mengendalikan pesawat. Software itu disebut Maneuvering Characteristics Augmentation System (MCAS). Maka…

Terjadilah kecelakaan Lion Air di Laut Jawa. Oktober tahun lalu. Lalu kecelakaan lagi di Ethiopian Airlines. Lima bulan kemudian.
Total 346 orang meninggal dunia. Bagaimana bisa FAA meloloskan B737 MAX 8? FAA memang punya aturan baru. Untuk menghemat anggaran. Terutama sejak pemerintah pusat memotong anggaran FAA. Aturan baru itu menyebutkan perusahaan seperti Boeing boleh melakukan sertifikasi sendiri. Khusus untuk suatu perubahan kecil.

Menurut Boeing, B737 MAX 8 adalah Boeing 737 NG yang sedikit diubah. Boeing 737 NG sudah mendapat sertifikat laik terbang. Perubahan kecilnya tidak perlu dimintakan sertifikat ke FAA. Mengubah posisi mesin dianggap perubahan kecil. Pun memgintroduksi software MCAS. Padahal, menurut ahli rancang pesawat, itu sudah menyangkut keimanan pesawat. Sudah kategori musyrik COG. Atau mungkin sayalah yang salah menafsirkan bacaan. Maklum saya hanya kategori hobi naik pesawat. Bukan ahli membuatnya.(*)

Laman: 1 2 3 4

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *