Pesan Komisi III dari Suka Miskin, Oleh : La Ode Diada Nebansi – Kendari Pos
Kolom

Pesan Komisi III dari Suka Miskin, Oleh : La Ode Diada Nebansi

La Ode Diada Nebansi (Direktur Kendari Pos)

KENDARIPOS.CO.ID — Kalian telah menyaksikan fakta dari keluhan Hasdar, Ummeng dan Sennawi. Ummeng mengeluh, endapan lumpur tanah merah sudah menimbun batu karang, tempat ikan berkumpul. Dan, Komisi III telah berkunjung ke sana, ke Lapao-pao Kabupaten Kolaka. Entah jika mereka telah bertemu Ummeng.

Hasdar juga mengeluh, ratusan hektare taman batu karang telah tertimbun endapan sungai Muara Lapao-pao. Sebagai nelayan, yang tadinya hanya dekat dan gampang mencari ikan, setelah tambang beroperasi di pesisir sungai dan muara, menjadikan kesulitan mencari ikan. Dan, jauh.

Bayangkan, pergerakan kapal nelayan Samaturu sudah melego jangkar di perairan Selayar. Sekali lagi, ini keluhan Asdar. Entah Komisi III telah berkunjung di Muara Lapao-pao. Kata orang, dengan tambang bisa kaya dan sejahtera, tapi, bagi kami, tambang telah menyebabkan kemiskinan dan hidup susah.

Sennawi pun mengeluh. Mereka bertiga menggumam, semoga Komisi III tidak salah jalan dan tidak salah sasaran. Dan, atau, tidak salah dibelokkan si penunjuk jalan.

Komisi III juga perlu berkunjung ke Desa Wonua Kongga, Torobulu, Kabupaten Konawe Selatan. Warga di Torobulu, Harun, berpesan, tengok dan pikirkan bagaimana mereklamasi galian-galian tanah di berbagai titik yang kini menyisakan kubangan dan ancaman lingkungan yang tak sehat. Tanah yang tadinya hijau, kini terlihat tandus dan tak lagi bernilai apa-apa.

Apakah mungkin Komisi III sanggup menganalisa, menghitung, mereken berapa nilai kerugian jika itu dianggap kerugian. Mampukah Komisi III melacak siapa yang rugi, siapa yang merugikan dan siapa yang dirugikan.

Di beberapa titik izin usaha pertambangan (IUP) di berbagai daerah lain tak berlebihan jika disebut eks tanah olahannya justru meninggalkan medan ancaman. Ya, banjir. Ya, tanah longsor. Ya, kehilangan humus. Ya, dan lain-lain.

Lalu, apa hubungannya dengan Suka Miskin? Sepertinya, mantan Gubernur Sultra, Nur Alam terpenjara oleh karena kebijakannya di sektor tambang yang dianggap salah. Kebijakannya dianggap mengancam kerusakan lingkungan, dan jika lingkungan itu diperbaiki akan menghabiskan dana negara sekian-sekian.

Sepertinya, Nur Alam terpenjara karena syak wasangka macam ini, yang katanya, mereka telah buktikan. Terbukti apa? Terbukti kerusakannya? Bukankah, tanpa kebijakan itu, memang telah banyak yang rusak? Lalu? Tapi kok tak ada yang terpenjara?

Andai saya Nur Alam, saya akan bilang: apa salah dan dosaku. Andai saya Nur Alam, saya akan bilang kepada siapapun warga Sultra yang menemuiku: kalian tak perlu malu menyaksikan mantan gubernurmu di Suka Miskin, karena keberadaan saya di sini adalah jihad: berjuang demi kemajuan daerah, kesejahteraan masyarakat dan kemapanan ekonomi.

Oleh karena saya terlampau cepat melangkah hingga meninggalkan mereka yang lamban dan melampaui mereka yang berjalan di seberang jalan, tersimpullah: langkahku harus disetop. Oleh karena kalimat ini terlampau ekstrem, hingga harus diperlunak: Kebijakanku melanggar aturan.

Tapi memang, bertemu live Nur Alam, tampang dan auranya tidak seperti orang terpenjara. Jiwanya merdeka. Tatapannya optimis. Senyumnya renyah. Aura dan kewibawaannya seperti tak pudar. Bertemu Nur Alam, jangan membayangkan perasaan orang yang terpenjara yang sedikit-sedikit ghontea (bersendawa) karena gas yang terperangkap di dalam dada akibat produksi asam lambung yang begitu tinggi.

Selama kurang lebih 1 jam bersama Nur Alam yang saat ditemui ketika itu tengah menunggu jadwal sidang. Tak sekalipun terdengar ghontea (sendawa). “Saya masuk penjara bukan karena korupsi. Bukan karena mencuri uang negara,” kata Nur Alam.

Dalam hatiku: pantas tidak pernah ghontea karena Ghontea ialah: makanan dan atau gas yang masuk dalam perut, tapi karena tidak halal dan tidak dirahmati oleh Allah SWT sehingga dikeluarkan oleh jin. Tapi, maaf, pengertian itu bukan dari kiai tapi lari-larinya pikiranku ji saja. Sangat bisa salah. Kalau pikiranku lari di Jin ya, saya tulis Jin kalau larinya pikiranku sudah harus disetop yah saya titik.(nebansi@yahoo.com)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Most Popular

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy