Radikal LaVani, Oleh : Dahlan Iskan – Laman 2 – Kendari Pos
Kolom

Radikal LaVani, Oleh : Dahlan Iskan

Saya tahu betapa menyatu Pak SBY dengan istrinya. Bukan hanya untuk masa yang panjang. Bukan hanya serasi. Tapi juga sangat intens. Intensitas hubungan itu begitu tinggi. Pun dalam masalah politik. “Baru minggu depan terpaksa harus ke Bandung,” ujar beliau. “Pak Hatta terima gelar doktor dari ITB,” tambah beliau.

Hatta Rajasa adalah besan. Juga menteri. Di masa kabinet beliau. Termasuk menjabat Menko Perekonomian. “Di Bandung nanti saya minta dicarikan hotel yang tidak ada kenangan dengan Ibu Ani,” ujar beliau. Saya pun tidak mau menambah kesedihan beliau. Mungkin bicara politik lebih bisa mengalihkan kesedihan itu. Maka saya pun memulai bicara politik. Mulai dari mengapa Mas Agus berhenti dari dinas ketentaraan–saat pangkatnya masih mayor. Agus Harimurti Yudhoyono adalah anak sulung beliau. Yang sangat pandai. Ganteng. Lulusan Akmil terbaik. Karir militernya lancar. Mestinya akan bisa mencapai pangkat jendral. Tapi baru di mayor sudah memutuskan berhenti. Saya ingin tahu cerita panjangnya. Siapa yang berinisiatif untuk berhenti. Meski tidak untuk saya tulis.

Termasuk saya tanyakan juga: mengapa Mas Agus itu tidak langsung saja jadi ketua umum Partai Demokrat. Toh sudah nekat hanya akan terjun ke politik. Tentu saya juga bertanya soal mengapa tidak jadi gabung ke koalisi. Cerita panjangnya seperti apa. Pokoknya apa saja saya tanyakan. Termasuk yang agak sensitif: mengapa Ibu Megawati Soekarnoputri masih belum bisa menerima penggabungannya. Terutama apakah betul begitu.

Hanya satu yang saya tidak berani menanyakan: mengapa berat badannya tidak turun-turun. Saya khawatir pertanyaan seperti itu hanya akan menambah kesedihan beliau. Dan lagi, berat badan saya sendiri kini naik 3 kg. Gara-gara 12 hari di Xinjiang. Lemak dari kambing pantat besar di sana ada yang ikut ke darah saya.

Satu jam sudah kami berbincang. Tiba-tiba ada suara anak kecil. Sendirian. Dari arah dalam. Lari-lari. Mendekat ke arah Pak SBY.
Anak kecil itu termangu melihat saya. Lalu menempel ke pangkuan beliau. Sambil seperti mau mengambil kue di depan saya. “Yang ini saja,” kata Pak SBY kepada cucunya itu. Sambil menyodorkan kue di depan Pak SBY. Setelah menerima kue itu sang cucu lari ke dalam lagi. Itulah Pancasakti Maharajasa Yudhoyono. Putra kedua Mas Ibas –Edhie Baskoro Yudhoyono, adik mas Agus. Cucu seperti itulah yang kini jadi penghibur hati beliau. Ibas dan keluarganya kini ikut tinggal di Cikeas –menemani sang ayah.

Sebagai intelektual Pak SBY tahu kesedihan jenis apa yang sedang dialaminya sekarang ini. Yakni masa sulit setelah ditinggal istri tercinta. Beliau sengaja membaca beberapa buku yang membahas ‘masa-masa sulit’ seperti itu. Juga membaca beberapa artikel terkait. Beliau optimistis masa sulit itu akan bisa diatasi. Pada saatnya. Hanya perlu waktu. Semua orang mengalaminya. Itu sangat manusiawi. Ada yang bisa teratasi dalam sebulan. Setengah tahun. Ada yang perlu satu tahun. Bahkan ada yang harus sampai satu setengah tahun. Pak SBY kelihatannya tergolong yang terberat itu. Sudah hampir lima bulan pun masih seperti itu. Padahal dulu begitu tegarnya.

Sudah satu setengah jam kami berbincang. Saya melirik ke jam dinding. “Mungkin banyak tamu bapak yang antre,” kata saya. “Malam ini saya kosongkan untuk Pak Dahlan,” jawab beliau. Baru satu jam kemudian saya pamit. Kembali melewati pendopo di sebelah rumah. Yang ada halaman luas di depannya. Yang dulu sering dipakai pertemuan umum. “Apa yang berubah di halaman ini ya?“ tanya saya pada diri sendiri.

Tidak ada lagi mobil yang parkir di situ. Semua mobil parkir di luar halaman. Halaman itu kini jadi lapangan voli. Ada net yang masih terpasang rapi. “Sore tadi ada pertandingan antar dapil,” ujar petugas di situ. Ternyata ada kompetisi voli di lingkungan partai. Antar daerah pemilihan. Karena itu lapangan voli tersebut dirawat dengan baik. Saat saya melewatinya, lapangan itu ditutup terpal. Rapi. “Tadi kan hujan. Agar lapangan tidak becek,” ujar petugas itu.

Lapangan voli itu juga bisa diubah jadi lapangan futsal. Ada net yang bisa ditarik mengelilingi halaman. Menjadi dinding. Ada rel untuk tempat ‘dinding’ itu bergantung. Di sebelah lapangan voli itu ada lapangan badminton. Yang juga bisa diubah menjadi lapangan basket. Ada net badminton di situ. Juga ring basket.

Pak SBY selalu menonton pertandingan di situ. Beliau duduk di tribun kecil yang cukup untuk 8 orang. Di belakang tribun itu ada baliho cetak. Tulisan di baliho itu berbunyi: LaVani Sports Center. Baliho itu dipasang setelah 40 hari Ibu Ani meninggal dunia. Arti tulisan itu yang sangat spesial: Love Ani. (*)

Laman: 1 2

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy