Radikal LaVani, Oleh : Dahlan Iskan – Kendari Pos
Kolom

Radikal LaVani, Oleh : Dahlan Iskan

KENDARIPOS.CO.ID — Saya ini boleh dibilang golongan radikal: melayat kok begitu telat. Saya baru melayat setelah almarhumah dimakamkan lebih lima bulan sebelumnya. “Nyuwun duko,” kata saya kemarin malam –saat saya menyalami suami almarhumah. Nyuwun duko. Itu tidak bisa diartikan sebagai sekedar minta maaf. Arti harfiah “nyuwun duko” adalah “minta agar diberi marah”. Itulah orang Jawa. Atau budaya Jawa. Kalau merasa berbuat salah–yang keterlaluan–tidak cukup sekedar minta maaf. Harus sampai minta dimarahi.

“Nyuwun duko, pak”, kata saya mengulangi. “Gak apa-apa. Saya tahu Pak Dahlan lama di luar negeri,” ujar beliau–sambil merangkul saya. “Waktu almarhumah dirawat di Singapura Pak Dahlan kan sampai menengok dua kali,” tambah beliau. Kemarin malam saya memang ke Cikeas. Melayat. Sangat telat. Dulu, saat Ibu Ani Yudhoyono meninggal dunia, saya lagi di Amerika. Lalu harus ke Tiongkok. Ke beberapa negara lainnya lagi. Sambung ke Inggris. Baru ketemu istri sendiri di Hangzhou. Diajak pulang.

“Nyuwun duko,” kata saya lagi–sambil cipika-cipiki. Lalu saya tinggalkan HP di teras. Kemudian diajak duduk di meja rapat–di ruang depan. Ruang itu tidak asing bagi saya. Sudah sering saya diterima beliau di situ. Dulu. Saat masih menjadi sesuatu. “Nyuwun duko,” kata saya lagi–setelah duduk di kursi. Kami hanya berdua. Sunyi. Di luar rumah cuaca dingin. Hujan baru reda. Waktu berjalan dari pendopo ke kediaman ini pun beberapa tetes hujan masih tersisa. “Kami kaget Bu Ani meninggal begitu cepat. Mungkinkah tim dokter terlalu agresif?” celetuk saya.

Dahlan Iskan

Pak SBY terdiam agak lama. Lalu menarik nafas panjang. “Tidak juga Pak Dahlan,” katanya lirih. “Semua sudah sesuai dengan protokol penanganan kanker darah,” ujar beliau. Di samping ditangani tim dokter Singapura, dua tim dari Amerika juga didatangkan. Untuk melakukan review. Hasilnya: apa yang dilakukan di Singapura sudah betul. Mereka pun akan melakukan hal yang sama.

Saya tidak meneruskan pertanyaan itu. Padahal begitu banyak yang ingin saya tanyakan seputar masa sakitnya Ibu Ani. Sebagai sesama penderita kanker. Saya harus tahu. Soal itu masih sangat sensi. Saya melihat Pak SBY masih begitu sedih. Wajahnya masih penuh duka. Pun setelah lima bulan berlalu. Wajah beliau masih sangat sedih. Karena itu beliau tidak lagi tinggal di Kuningan. Rumah Kuningan penuh dengan kenangan masa-masa akhir dengan Ibu Ani. Itulah rumah yang diberikan negara. Untuk seorang mantan presiden.

Tiga tahun penuh Pak SBY pindah ke rumah itu. Hanya berdua dengan Ibu Ani. Acara tidak sepadat waktu menjabat presiden. Ibaratnya di rumah baru itu beliau seperti pengantin baru lagi. Banyak waktu yang dihabiskan hanya berdua. Rumah itu sekarang dibiarkan kosong dulu. Hanya ada penunggunya saja. Pak SBY kembali tinggal di Desa Cikeas. Yang sudah masuk wilayah Bogor. Malam itu saya perlu waktu 1,5 jam untuk bisa sampai di sana. Dari rumah saya di SCBD Jakarta. “Di sini lebih tenang,” ujar Pak SBY lirih. “Saya belum ke mana-mana. Di rumah ini saja,” tambahnya. “Tidak ingin ke luar negeri?“, tanya saya. “Jangankan ke luar negeri. Ke kota lain pun belum bisa. Bayangan Ibu Ani masih ikut terus. Ke mana pun saya pergi pasti ada kenangan dengan Ibu Ani,” ujar beliau.

Laman: 1 2

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top